
"Selamat pagi Ibu Lasmi, " ucap Alena pada sosok wanita tua yang berdiri di hadapannya.
"Kamu, " menatap tajam dengan mengepalkan kedua tangan.
"Kenapa?"
Layla yang berdiri di belakang punggung Lasmi kini membisikan suatu perkataan, " Jangan ladeni dia, biarkan saja kak, kita fokus masuk ke ruang pengadilan. "
Layla mendorong kursi roda milik sang kakak, menatap sekilas ke arah Alena dengan tatapan sinisnya.
Namun Alena dengan santainya, melipatkan kedua tangan, menunggu langkah kaki mereka yang sudah masuk ke dalam ruang pengadilan.
Menegangkan yang dirasakan Lasmi dan Layla, mereka terlihat gelisah, dengan pernyataan hakim karena bukti sudah kuat dari Alena.
"Kita hanya bisa pasrah dan menerima semuanya. "
Kekalahan harus diterima Lasmi, dimana anaknya akan membekam di penjara, hingga suara ketuk palu yang membuat mereka syok akan hukuman yang nantinya diterima Lala.
Pengacara yang dibawa Lala tidak sanggup menolong Lala, dimana banyak bukti yang menunjukkan jika Lala berpura pura gila.
Lasmi yang harus menerima semua nya kini jatuh pingsan dari kursi roda, saat ingin menghampiri Lala.
Gadis cantik berkulit putih itu, dibawa oleh para polisi untuk dimasukkan ke dalam penjara.
Dimana Lala berteriak histeris, menatap ke arah Alena. " Kamu, semua ini gara gara kamu."
Alena hanya tersenyum tipis, atas kemenangan yang ia rasakan saat ini.
Rangkulan tangan Raka membuat Alena perlahan menatap pada suaminya. " Semua sudah berakhir, Lala sudah mendapatkan ganjarannya."
Alena menganggukkan kepala, membuat Raka menghela napas lega.
__ADS_1
Lasmi kini dilarikan ke rumah sakit, karena rasa syok berat dari putusan pengadilan.
Layla datang menghampiri Alena dengan menangis dan berkata, " Kamu benar benar wanita biadab, tidak punya rasa malu sedikitpun. Gara gara kamu. "
Alena menghentikan amarah wanita tua yang menjadi bibi Lala itu, " Jaga ucapan anda, saya sudah memberi kesempatan pada kalian, tapi apa yang saya dapatkan, penghianatan. Tolong untuk tidak asal berbicara, sebaiknya dipikir dulu."
Layla, ingin sekali menjambak rambut panjang Alena, namun apa daya ambulan terus bersuara mengingatkan dia pada sang kakak.
"Kamu."
Tak meneruskan perkataan, Layla berlari masuk ke dalam mobil ambulan.
Alena dan Raka yang melihat pemandangan itu, hanya menggelengkan kepala, membuat mereka tak menyangka jika sosok keduanya tak jauh berbeda, sama sama licik dan jahat, tidak menyadari diri kalau mereka salah.
******
Di rumah sakit, Lalya terkejut dengan perkataan dokter yang dimana sang kakak mengalami struk.
" Apa yang harus aku lakukan, jika Kak Lasmi struk, otomatis aku harus mengurusnya. "
Layla bingung dengan penyakit yang diderita pada sang kakak, ia takut jika suaminya tak mengizinkan ia mengurus sang kakak.
"Apa aku titipkan Kak Lasmi di panti jompo saja ya. "
Berjalan perlahan, wanita tua itu, membuka pintu ruangan sang kakak.
" Kak Lasmi. "
Wanita tua itu tak bisa menggerakan tubuh, struk yang dialaminya sangatlah parah, membuat wanita tua itu tak bisa berkata satu patah katapun.
"Kak Lasmi, maafkan Layla."
__ADS_1
"Mm, mm. "
Layla mencoba tetap tenang mengatakan jika dirinya tak bisa mengurus sang kakak.
"Kak Lasmi. " Layla mulai memegang punggung tangan sang kakak, kedua matanya meneteskan air mata. " Maafkan Layla yang tak bisa mengurus kak Lasmi, Layla akan masukan kakak ke panti jompo, maaf kak. "
"Mmm." Bu Lasmi berusaha berbicara, ia tak mau jika dirinya ada di panti jompo.
Layla mulai berdiri, " biar nanti aku telepon dulu suamiku, untuk membawa mobil dan memindahkan kakak ke pati jompo. "
Bu Lasmi menangis, sembari menggelengkan kepala, berharap jika Layla mengerti, bahwa dirinya tak ingin dimasukkan ke panti jompo.
Layla berusaha tetap kuat, tidak merasa kasihan dengan sang kakak, karena ia lebih menuruti sang suami.
Sampai di panti jompo, Layla tak bisa menahan kesedihannya, ia terus menangis dan meminta maaf.
"Kak, Maaf ya. Layla janji akan berkunjung ke sini setiap satu bulan sekali. "
Lasmi mencoba menggerakan bibir, agar berbicara. Tapi mulutnya terlihat keluh dan susah untuk di buka, ia hanya bisa menangis dengan meratapi nasib yang ia terima saat ini.
*******
Senyuman dan kebahagian kini di rasakan Alena, pelukan hangat dari sang suami membuat Alena merasa nyaman.
"Sekarang tidak ada lagi penganggu dalam rumah tangga kita. "
"Papah yakin. "
Raka menganggukkan kepala, " yakin dong mah. "
Kecupan kini mendarat pada kening Alena, kini Alena mendapatkan kenyaman dari keluarganya, tanpa gangguan Lala.
__ADS_1
TAMAT.