
Dokter kini datang untuk memeriksa keadaan Pak Haris, dimana lelaki itu membuka kedua matanya.
Raka yang berada di samping Lala, membuat gadis itu mencari kesempatan dalam kesempitan. Ia terus memegang lengan Raka, menyandarkan kepala pada bahu Raka.
Lelaki berbadan kekar itu merasa risih dengan sang gadis.
Dokter selesai memeriksa, ia langsung memberitahukan keadaan Pak Haris kepada Bu Lasmi.
"Alhamdulilah suami ibu tidak apa-apa, cuman kurang istirahat saja, saya harapankan suami ibu jangan stres dan jangan banyak pikiran. Bisa-bisa gula darahnya naik lagi."
"Boleh kami melihat Pak Haris dok?" Tanya wanita tua terlihat wajahnya begitu nampak cemas.
"Boleh, silahkan ibu?" Jawab dokter mempersilahkan wanita tua itu masuk untuk menemui suaminya.
Bu Lasmi masuk, ia tak lupa memanggil Raka untuk ikut ke dalam ruangan suaminya, namun Lala dibiarkan di luar ruangan sendirian.
"Bu, kok Lala nggak di ajak temui bapak. "
"Kamu diam dulu disini, bapak kamu kesehatannya belum stabil, biar Raka saja."
Raka menghembuskan napas, perasaan tak karuan, ia disuruh masuk sedangkan Lala tidak.
Masuk ke dalam ruangan, Pak Haris kini memanggil Raka.
"Nak Raka." Panggil lelaki tua yang terbaring lemah di ranjang tempat tidurnya.
" Iya, pak!" Jawab Raka, perlahan berjalan menghampiri bapak tua yang menjadi ayah Lala.
"Apa Nak Raka mencintai anak bapak?" Tanya Bapak tua itu menatap lekat pria yang tengah berdiri disamping.
Deg... Hati Raka kembali terguncang,
"pertanyaan konyol apa ini." Bisik Hati Andi.
"Maksud bapak apa ya?" Tanya pria itu sedikit mengernyitkan keningnya.
__ADS_1
Pak Hari terlihat lebih santai dari sebelumnya membuat Raka berkata kembali.
"Kan bapak tahu sendiri, Raka sudah memiliki anak dan istri, mana mungkin Raka mencintai anak bapak." Jawab Raka terasa tidak nyaman dengan pertanyaan yang tak masuk diakal baginya.
Karena tidak ada seorang bapak merelakan anaknya dimadu.
"Ta-pi Raka, anak bapak mencintai kamu, apa kamu bersedia menjadikan Lala sebagai madumu?" Tanya laki-laki tua dengan raut wajah berharap.
"Bapak ngomong apa?" Timpal wanita tua itu terkejut, ia tak menyangka jika suaminya tak jauh berbeda dengan sang anak
"Habis bagaimana lagi bu, Lala tidak mau mendengarkan omongan kita, setiap kita jodohkan, dia pasti menolak, karena ada lelaki pilihannya sendiri. Bapak tidak mau Lala menjadi perawan tua bu, bapak ingin liat anak gadis bapak bahagia!" Jawab Pak Hari kepada sang istri, terlihat ia amat bersedih dengan keputusannya itu.
"Ta-pi itu hal yang salah pak, ibu gak setuju, bagaimanapun, Raka sudah beristri!" Ucap wanita tua seketika meneteskan air mata.
Disaat seperti itu Raka hanya terdiam pilu, ia bergumam dalam hati," apa yang harus aku lakukan. kenapa urusannya menjadi serunyam ini."
Di ruangan yang begitu tegang,
Dret... Dret
Suara ponsel terdengar bergetar di dalam saku celana Raka, lelaki itu perlahan menatap layar ponselnya, ia melihat panggilan dari sang istri. Bernamakan Sayangku.
"Maaf bapak, ibu, Raka keluar dulu sebentar mau angkat telepon dari istri. "
Kedua orang tua Lala, hanya mengangguk kepala, tanpa sepatah katapun.
Raka kini keluar dari ruangan, Lala yang sedang duduk melihat Raka buru buru pergi, membuat ia mengikuti dari belakang.
" Hallo Assalamualaikum, mama sayang ada apa?" Tanya Raka pada sang istri dengan nada lembutnya.
"Waalaikumsalam.Papah kapan pulang, mama cemas sudah malam ini, papah belum pulang-pulang juga ."Jawab lembut seorang istri yang mencemaskan suaminya.
"Ya, ini sebentar lagi papa pulang, mama kangen ya sama papa." Ucap Raka sedikit menggoda istrinya.
"Ya sudah, hati-hati dijalan, Assalamualaikum," wanita itu pun pamit menutup telepon suaminya.
__ADS_1
"Waalaikumsalam."
Setelah mengangkat telepon, Raka berniat menghampiri orang tua Lala, mengucapkan kata pamit. Untuk pulang ke rumah.
Raka melihat kedua orang tua Lala tengah berbincang, membuat ia memaksakan diri masuk.
"Maaf pak, bu, Raka mau pamit pulang." Ucap Raka, tak lupa mencium punggung tangan orang tua Lala.
Keduanya hanya menatap Raka, tanpa mengucap sepatah katapun.
Sampai di pertengahan jalan menuju ke luar ruangan Pak Haris.
Seketika lelaki tua yang ter diam pilu itu, menghentikan langkah kaki Raka.
"Tunggu," Sahut lelaki tua itu memanggil Raka.
"Iyah Pak, kenapa?." Jawab pria itu menghentikan langkah kaki dan menoleh ke arah bapak tua.
"Pikirkan baik-baik, demi anakku bahagia." Ucap tegas lelaki tua itu, menatap lekat wajah Raka.
"I-ya pak," jawab Raka penuh keraguan.
Pria itu pun melanjutkan langkah kakinya menuju pintu keluar ruangan Pak Haris, dengan berjalan lunglai, perasaan tak menentu membuat Raka bingung.
" Kak Raka gimana keadaan bapak?" Tanya gadis yang sembari memegang kedua lengan Raka
"Kamu anaknya, kenapa tak kamu liat sendiri Lala!" Jawab pria itu sedikit kesal.
"Ko, Kak Raka jawabnya gitu." Ucap manja Lala mencium pipi Raka tiba tiba.
"Lala apa-apaan kamu!" Teriak Raka dengan raut wajah kesal membuat seisi rumah sakit menoleh ke arah mereka.
"Aku pergi dulu, jaga dirimu baik-baik, aku tak suka dirimu seperti sekarang, jangan harap aku bisa mencintaimu, Lala ." Ucap pelan Raka menatap raut wajah gadis yang tersenyum tanpa perasaan bersalah.
Raka berlalu pergi meninggalkan Lala, dengan kekesalan yang mendalam.
__ADS_1
"Raka, kamu bisa seperti itu kepadaku sekarang, ta-pi, nanti kamu akan bertekuk lutut dihadapanku." Ucap gadis itu sedikit tertawa kecil.
"Liat saja nanti, apa yang akan aku lakukan. Kepada istrimu. "