
Sosok orang yang berlari, " Hey, siapa kamu. "
Berteriak, sosok itu terjatuh, membuat Raka mendekat.
"Bu Lasmi. "
Ternyata orang yang melempar batu pada jendela kamar Alena dan Raka adalah Ibunda Lala.
Wanita tua itu bangkit, menatap tajam ke arah Raka. " Mau apa kamu? kalau itu ulah saya. "
Mengusap kasar wajah dan menjawab, " Bu, apa maksud ibu melakukan semua ini, kami sudah menolak dengan baik dan berusaha bersikap sopan pada ibu. Tapi ibu malah. "
Tiba tiba Alena datang, membuat Bu Lasmi menatap tajam ke arahnya. " Pah. Loh, Bu Lasmi. "
"Ternyata kamu keluar juga, memang ya wanita seperti kamu ini tidak tahu diri. "
"Bu, kami sudah memperlakukan ibu dengan baik, tapi kenapa ibu terus mempelakukan istri saya tidak baik dan malah mencaci maki terus menerus, ibu sadar dong, apa yang dilakukan ibu ini merugikan orang lain," balas Raka geram.
"Saya tak peduli, saya hanya memperigati kamu Alena, cepat cabut laporan anak saya. "
__ADS_1
Wanita tua itu pergi, ia terlihat menyedihkan. Dengan mengancam Alena tanpa rasa malu.
"Pah." Panggilan Alena membuat Raka menggengam erat tangan istrinya.
Kepergian Bu Lasmi membuat Alena terpikirkan akan perkataanya wanita tua itu.
"Apa kita hentikan gugatan, Lala?" ucap Alena, membuat Raka menatap tajam ke arah istrinya.
"Hus, ngomong apa mama ini, kalau kita hentikan semua gugatan gadis itu, bisa-bisa Lala nantinya malah semakin menjadi-jadi!" balas Raka yang sama sekali tak setuju
"Ta-pi ... Bagaimana dengan Bu Lasmi? Dia terlihat marah besar pada mama dan terus menekan, menyelahkan mama, " air mata yang berusaha Alena tahan, pada akhirnya keluar juga.
"Biarkan saja, toh, memang itu sudah nasib si Lala dan keluarga mereka, siapa suruh mengganggu rumah tangga orang lain." Raka tetap berpegang teguh pada penderiannya.
"Sudah jangan dipikirin, biar yang lain papah urus nanti, sekarang mama istirahat dan lupakan kejadian tadi." ucap Raka merangkul bahu istrinya.
"Ya sudah." Alena pasrah dan hanya bisa menuruti perkataan istrinya.
Mereka masui ke dalam rumah, Raka bergegas mengunci rumah, ia takut jika Bu Lasmi melakukan hal yang membuat Alena syok.
__ADS_1
Baru saja Alena duduk, Raka kini berucap.
"Besok kita jenguk si Lala di penjara."
"Baiklah."
Karena kesibukan yang terus dialami Alena dan juga Raka, sampai mereka tak jadi untuk melihat keadaan Lala di dalam penjara.
Hari yang terus berganti, sudah 10 hari, suami istri itu pun baru berangkat untuk menjenguk Lala.
"Pah, kita baru saja menjengkuk Lala loh." ucap Alena, membuat Raka hanya tersenyum lebar.
"Biarlah, toh biar dia sadar dan merenungi diri. Untuk bisa merubah prilakunya. " balas Raka.
Sesamapainya di penjara, terlihat Lala yang sedang tertawa sendiri, berbicara sendiri, dan menangis tanpa sebab apa-apa.
Membuat Raka menanyakan keadaan gadis itu, beberapa hari ini.
"Bagaimana ke adaan Lala pak?" Hanya bertanya seperti itu pun polisi menduga duga jika Lala sudah mengalami gangguan sakit jiwa!"
__ADS_1
Sontak Raka terkejut dengan dugaan polisi.
"Sebelumnya saya ingin mengkonfirmasi pada bapak, hasil pemeriksaan kemarin. Tahanan Lala." Raka melihat hasil dari lebar surat putih, dimana polisi menyuruh Raka untuk menyetujui surat pengalihan Lala untuk segera dipindahkan ke rumah sakit jiwa. Karena keluarga dari Lala sudah diberi tahu dengan keadaan Lala, namun mereka tak ada yang menyetujui jika Lala masuk rumah sakit jiwa.