Godaan Sahabat Suamiku

Godaan Sahabat Suamiku
Bab 11


__ADS_3

"Baru juga mau menyelesaikan cucian, ada yang mengetuk pintu. Mm, siapa sih?"


Alena mulai  menghampiri pintu depan rumah dengan rasa malas, ia berjalan gontai


Hingga ketukan pintu terus terdengar kembali, Tok … tok …  tok. Kini semakin terdengar keras, membuat  Alena melangkahkan  kaki lebih cepat. "Ya, tunggu. Nggak sabaran sekali ni orang." Gerutu Alena. 


Orang itu malah semakin sengaja mengetuk pintu, membuat Alena semakin emosi. 


"Siapa sih pagi-pagi begini, orang lagi beres-beres rumah juga," Gerutu Alena  di setiap langkah kakinya. 


Setelah  membuka pintu. Alena melihat sosok seorang wanita berdiri membelakangi tubuhnya. Tinggi, gemuk, dan berkulit sawo matang.


"Maaf siapa ya?" tanya Alena, berusaha bersikap ramah pada tamu yang datang. 


"Oh, hey Alena, Apakabar! " balas gadis berambut panjang itu, membalikan badannya.


"Kamu." ucap Alena menatap sinis ke arah wanita berambut panjang itu. 


"Iya aku. Teman dari suamimu. Yang dulu pernah berbagi keluh kesah denganmu, Mbak Alena. Kamu tak mungkin lupa kan!?" ucap gadis itu menatap lekat penuh kebencian.


"Maksud kamu apa datang kesini?" tanya Alena, memperlihatkan kekesalannya. 


"Mm, tenang aku tak ada perlu denganmu, tapi aku ingin berbicara dengan suamimu, ini penting." ucap gadis yang berdiri mendekat ke arah Alena. 


"Ahhahha, suami orang masih kau cari! kasian nggak laku ya!" Sindir Alena sedikit menyunggingkan bibir atasnya.


"Jangan terlalu sok, suatu saat nanti suamimu akan menjadi milikku!" ucap gadis itu memelototi Alena. 


"Ohhhh, perawan tua berharap laki orang, jangan ngarep ya." sindir Alena menarik rambut panjang gadis itu.


"Aw, sakit, lepaskan .... Atau aku teriak." ucap gadis itu kesakitan.


"Teriak saja, biar orang-orang tahu, kamu itu seorang pelakor, perebut suami orang. Dasar wanita bermuka dua."  Alena semakin menarik rambut Lala,  dimana gadis itu meringis kesakitan, membuat Alena semakin menjadi jadi dan membanting tubuh Lala hingga terjungkir ke atas lantai. 


"Lepaskan .... Sakit. " Lala berteriak meringis kesakitan, dimana Alena masih menarik tangan gadis itu. 


"Bhahaha, sakit nya, ini belum seberapa sayang. Kalau kamu masih mendekati suamiku, jangan harap kamu masih hidup didunia ini." Ancam Alena berbisik  pada telinga gadis yang meraung kesakitan itu. 


"Kurang ajar kamu, dasar wanita …."


Ucapan gadis itu terhenti ketika Raka datang kembali ke rumah.


Seketika Alena melepaskan tangannya dari rambut gadis itu. 

__ADS_1


"Akhhh, Kakak Raka, liat tanganku luka, Mbak Alena menarik rambut dan menghentakan badanku ke lantai," Rengek gadis itu meminta perlindungan pada Raka yang baru saja datang.


"Apa-apaan kamu ini Alena, seperti anak kecil saja." Teriak Raka tanpa sadar memarahi istrinya.


Alena mulai menjelaskan kejadian dari awal," pah, ini tidak seperti yang kamu banyangkan, aku."


Namun tak ada kesempatan saat itu untuk Alena, " Cukup, jangan jelaskan, aku melihat semua yang kamu lakukan pada Lala."


Pada akhirnya Alena terdiam pilu tanpa sedikit kata pun keluar pada mulutnya, pandangannya menunduk menahan sakit di dada.


Tangan Lala masih menempel pada lengan Raka, terlihat ia begitu mencari kesempatan dimana Raka memarahi istrinya. 


"Ada apa kamu datang kesini?" Tanya Raka dengan raut wajah serius.


"Bapak sakit lagi, dan dia butuh jawaban Kakak Raka sekarang!" Jawab Lala bergelayut manja pada Raka di depan Alena. 


Alena membulatkan kedua mata, ia mendengar perbincangan keduanya. 


"A-pa maksud kalian, ucapan apa?" Tanya Alena dengan penuh kekesalan. 


"Tenang Alena, aku belum menjawab pertanyaan Pak Haris. 


Alena mendekat pada suaminya, ia mendorong gadis kecentilan yang terus bergelayut manja pada tangan suaminya. 


"Men-setujui apa, pah? Mama tak mengerti, tolong jelaskan. Bukannya kemarin papa bilang tidak ada pertanyaan aneh aneh dari keluarga si Lala ini." bertanya pada sang suami, dimana Alena merasa jika suaminya tak jujur dari awal. 


Lala benar benar mencari kesempatan dalam kesempitan, ia ikut berbicara. 


"Masa, jadi istri nggak tahu sih. Jelas bapakku menyuruhku  menikah dengan suamimu, kalau ingin jelasnya, Kakak Raka kesayanganku ini  akan menjadi mantan suamimu," ucap sinis Lala  sembari melipatkan pergelangan tangannya.


"Jangan memancing emosi orang gadis gila, sebaiknya kamu diam saja, aku tidak bertanya padamu, tapi aku bertanya pada suamiku sendiri, " Tegas Alena membentak Lala. Raka tak mau perdebatan malah semakin memanjang dan merambat kemana mana. Dengan berat hati, Raka mengusir Lala. 


"Sudah kamu pergi sana Lala, biar nanti, aku ke rumah sakit." Ucap Raka  mengusir Lala segera mungkin agar pergi. 


Lala dengan begitu centilnya, mengusap pelan bahu Raka "Ya sudah, biar urusannya cepat kelar, bicarakan baik baik dulu sama istrimu itu, Kak." Ucap Lala mengedipkan kedua mata   berlalu pergi meninggalkan keduanya. 


Saking kesalnya Alena membuat ia mengambil sandal dan melemparkan pada kepala Lala. 


Dan. Brakkk, kena sasaran, Lala meringis kesakitan mengusap pelan kepalanya. 


"Tuh kan kena, mampus lu. "


Alena berniat melemparkan lagi sandalnya agar mengenai wajah gadis itu. 

__ADS_1


"Heh, kurang ajar. " Teriak Lala, lemparan kini dilayangkan lagi oleh Alena. 


Untuk yang kedua kalinya, lemparan itu kena pas di bibir Lala, " Jahahha, kena lagi. "


"Mbak Alena. "


Raka menggelengkan kepalanya, ia menarik tangan sang istri. "


"Ayo kita masuk kedalam rumah." Ajak Raka kepada istrinya. Dimana Alena memajukkan bibirnya dihadapan Lala. 


"Awas kamu ya. Ahk, kepalaku sakit sekali. "


"Ayo, mah. "


Merangkul bahu sang istri, membawa masuk ke dalam rumah. 


Dan akhirnya, Raka berhasil membawa istrinya masuk ke dalam rumah, menghindari perdebatan dengan Lala. Yang tak akan selesai selesai. 


Raka mulai menyuruh istrinya untuk duduk di atas sofa, agar perasaan sang istri lebih tenang dan juga rileks. 


Setelah ketenangan itu melanda hati sang istri, akhirnya Alena mulai bertanya dengan nada lembutnya di hadapan sang suami. 


"Coba jelaskan apa yang dikatakan si Lala itu Papah?" 


"Baiklah, biar papah jelaskan sekarang juga, mama harus tenang dulu, oke, gimana sudah tenang," ucap lembut Raka mengelus rambut pendek istrinya.


Alena menganggukan kepala, dimana Raka


Setengah jam lebih.menjelaskan, apa yang terjadi waktu di rumah sakit kemarin. Dan raut wajah Alena perlahan lahan berubah, terlihat jika ia menahan amarah rasa kesal yang terdalam hatinya. 


"Kenapa ada orang tua semacam itu di dalam dunia fiksi ini, rasanya ingin ku matikan saja si gadis gila itu dan juga papanya. "


Gumam hati Alena, sambil menggerutu kesal. 


Alena merasa dirinya seperti orang yang disambar petir disiang bolong. 


"Papah, kenapa papah tidak menjawab dari awal dengan tegas pada ayah gadis gila itu, jujur saja mama kesal dengan sikap papa yang tak mau tegas, selalu saja diam dan mengalah." Keluh Alena pada suaminya. 


"Maafkan papah. " Raka mulai memegang tangan sang istri dengan lembut, namun Alena malah menghempaskan tangan suaminya. 


Alena bangkit dari sofa pergi meninggalkan Raka sendirian. 


Alena kini  bergumam dalam hati, " Lala, ternyata kamu lebih pintar daripada yang kukira, kutunggu ancamanmu waktu itu."

__ADS_1


__ADS_2