
"Papah, lihat ini," ucap Alena, menunjukkan sebuah pesan dari Alex. Dimana ia berusaha tetap tegar, saat Putra berhasil dibawa oleh Lala.
Ia tak boleh lemah dengan masalah yang dihadapinya.
"Sialan, si Lala itu benar benar kurang ajar. Bisa bisanya dia menculik anak kita. Obsesi dan keinginannya terlalu kuat, hingga membuat ia lupa diri dan berani berbuat jahat seperti itu."
Raka berusaha tetap tenang, ia tak mau terpancing akan emosinya yang menggebu gebu.
Berusaha menyusul keduanya, tempat di mana Alex memberi tahu lagi keberadaan Lala.
Dan pesan dari no tidak dikenal datang kepada Alena.
Pesan itu tertulis akan sebuah ancaman.
[ Hai, Alena, Apa kabar? Oh ya, sekarang aku ingin memberi tahu padamu, jika anakmu ada padaku, dan aku harap kamu datang ya, biar seru nanti, kutunggu ... Tapi sendiri ajah ya, kalau berdua nanti anakmu .... ]
Perkataan pesan yang membuat Alena penasaran.
"Apa maksud si Lala ini. " Gerutu Alena, membuat Raka yang mendengar istrinya menggerutu kesal kini bertanya.
"Kenapa, mah?"
"Lala pah, dia mengirim pesan pada mama, seolah oleh mengancam dan menyuruh mama untuk menghampirinya sendirian, kalau tidak. Entah apa yang akan dia lakukan pada anak kita. "
Keluhan dan kesedihan, Alena ungkapkan pada sang suami. Membuat Raka menghela napas, menenangkan sang istri dengan berkata.
"Ya sudah, balas saja, bahwa mama setuju untuk menemui dia sendirian. Biar nanti papah yang nyusul sembari membawa polisi,"
Saat Raka menyemangati sang istri agar tak takut.
"Baiklah, pah."
Keyakinan dari sang suami, membuat Alena kini membalas pesan gadis itu,
[ Aku akan datang sendiri, jangan sampai kamu menyakiti anakku, jika itu terjadi. Aku bisa saja membunuhmu, tak peduli jika aku masuk ke dalam penjara pun. Jika melibatkan anakku, aku tidak akan tinggal diam, ingat itu.]
Pesan Pun terkirim. Dengan mengancam balik dan penuh perhatian.
Turun dari motor, Alena berusaha mencari mobil taksi.
"Mana mobil taksinya, kenapa tidak ada?"
Menunggu sepuluh menit, akhirnya mobil berhenti di depan Alena, dimana wanita itu bergegas menaiki taksi, dengan rasa cemas dan takut.
Alena yang baru saja duduk, kini bergumam dalam hati," Putra semoga kamu baik baik saja nak, dan kamu tak kenapa-napa nak, maafkan ibu."
__ADS_1
Sesampainya di tempat yang dituju, Alena melihat rumah kecil di sebuah desa, ia tak melihat satu orang pun di desa itu.
Perlahan berjalan, menghampiri rumah yang ditunjukkan oleh Lala.
Tanpa rasa ragu, Alena mulai mengetuk pintu rumah itu, tanpa disadari pintu itu tidak dikunci, terbuka begitu saja, wanita itu langsung menerobos masuk, dan apa yang ia lihat.
Lala begitu kewalahan menggendong putra, yang menangis terus menerus. Membuat hati Alena sakit dan tak terima.
"Putra nak …."
Lala yang mendengar suara Alena, kini berteriak. "Jangan mendekat atau anak ini ..."
Jiwa yang tadinya berani, seketika menciut, saat Lala terus melayangkan sebuah ancaman.
"Jangan Lala kumohon, jangan lakukan apapun pada anakku." ucap Alena sambil memohon-mohon.
"Aku akan berikan anak ini, ta-pi?"
Pertanyaan yang belum terucap sepenuhnya, membuat Alena menjawab.
"Tapi apa, Lala! Cepat jawab, jangan buat anakku menderita karena menangis terus menerus, dia butuh asi, dia kelaparan. "
" Aku tak peduli dia kelaparan atau tidak, yang aku inginkan dari kamu, adalah suamimu. Jadi bagaimana, kamu berikan suamimu kepadaku, aku akan berikan anak ini padamu."
"Kamu gila, Lala. Hanya karena cinta dan egoismu, kamu melakukan kejahatan ini, benar benar tidak punya hati nurani sama sekali."
"Justru kamu yang gila, kenapa kamu begitu susah memberikan Kak Raka kepadaku, sudah jelas dari dulu aku menginginkan dia. Ta-pi kenapa kamu tak memberikannya. Jadi inilah resiko karena kamu tak mau memberikan apa yang aku mau dan yang seharusnya menjadi milikku. "
"Tolong, Lala, kumohon, kebalikan putra kepadaku. Dia tidak salah, dia tidak seharusnya menanggung masalah ini, dia hanya seorang bayi. "
Lala tak memperdulikan Alena yang memohon mohon, yang ia butuhkan saat ini sebuah kepastian.
"Tidak, secepat itu."
Lala yang ingin puas membuat hidup Alena hancur, kini memberikan anak itu pada Alex.
"Pengang anak ini."
Memberikan bayi pada Alex, membuka kesempatan Alex menyelamatkan bayi itu.
Langkah kaki gadis itu semakin cepat, menghampiri Alena yang menangis histeris. Dengan memohon-mohon agar anaknya dikembalikan.
"Alena, aku ingatkan lagi sama kamu, aku ingin suamimu." ucap Lala dengan lancangnya menjambak rambut Alena. Membuat ia sok berkuasa.
"Sudah hentikan." Teriak Raka tiba tiba dengan membawa polisi.
__ADS_1
"Kak Raka?"
"Sudah, cukup, Lala jangan buat hidup aku dan Alena dalam masalah terus? Pak segera tangkap wanita itu." Dengan tegasnya Raka menyuruh polisi, membuat Polisipun dengan mudah menangkap gadis itu.
"Jangan pak, ini bukan salahku, ini salah wanita sialan itu."
Lala berteriak dan memberontak ketika polisi menangkapnya.
"Lepaskan aku, Alena, kamu harus mati. "
Lala mulai diamankan oleh polisi dan di bawa ke dalam mobil, gadis itu akan diberikan sebuah pertanyaan dan kejelasan dari kesalahan yang ia lakukan.
Di bawa paksa membuat Lala menatap tajam penuh kebencian pada Alena. " Dasar wanita tidak tahu diri. "
Alex yang menggendong Putra, kini memberikan Bayi itu pada ibunya.
"Maafkan, gue Alena , dan juga loe Raka, selama ini gue, dibutakan oleh cinta. Dan gue gak tahu kalau Lala akan berbuat nekad sejauh ini."
"Sudahlah, Lex. Nasi sudah menjadi bubur, yang terpenting keluarga gue selamat dan Lala bisa mengakui kesalahannya."
"Aku juga heran Raka, apa Lala akan langsung berubah."
"Entahlah, biarkan ini jadi pelajaran untuk dia."
"Ya juga sih. Gue berharap dia akan menyadari kesalahnnya. "
"Itu yang gue harapakan dari sosok Lala yang dulu seorang gadis lugu dan baik hati. "
Alex terdiam, ia juga berharap seperti itu, karena rasa cintanya masih besar terhadap Lala.
Apalagi saat mengigat masa masa indah, saat Lala selalu bersamanya.
"Lu, nangis. "
Alex mengusap pelan air matanya sendiri, dengan kedua tangan, ia berusaha kuat dan tegar. Menerima kenyataan jika cintanya bertepuk sebelah tangan.
Sakit memang, tapi harus bagaimana lagi, ini nasib yang harus dirasakan Alex dalam hidupnya.
Raka berusaha menyemangati sang sahabat dengan berkata, " gue yakin lu, bisa dapat yang terbaik. "
"Thank."
Raka mulai meninggalkan sang sahabat untuk menyusul istrinya. Dimana lelaki berbadan kekar itu, menatap Alena dengan isak tangis penuh rasa takut.
Mendekat.
__ADS_1
Dimana sang istri, masih memeluk anaknya, ia merasa jika dirinya bukan ibu yang baik, membuat anak satu satunya bisa di culik.
"Sayang, maafkan ibu nak, ibu janji akan menjaga kamu dengan baik, ibu tidak akan tinggalkan kamu, ibu sayang kamu. "