
Bu Lasmi menangis terisak isak, ia memukul mukul dada bidangnya, merasakan rasa sesal. Karena kelalaiannya mengurus Lala, mengakibatkan sang suami meninggal dunia.
Gadis yang mengenakan kaos hitam itu, perlahan bangkit dari atas lantai, memanggil sang ibunda beberapa kali.
"Ibu."
"Bu," Wanita paruh baya itu terduduk di atas, dengan meratapi kesedihan.
"Bu." Panggilan dari Lala membuat wanita tua itu tiba-tiba emosi, "Sudah cukup, Lala, jangan panggil aku ibu." Teriak wanita tua itu, menghardik Lala di depan semua orang yang berada di rumah sakit.
Lala berdecak kesal melihat sang ibunda menangis berlebihan.
"Ibu .... Ayolah jangan bersedih, semua ini wajar, siapa suruh bapak sok sokan jadi pahlawan untuk Lala." Jawaban yang tak menyenangkan didengar oleh Bu Lasmi, seakan gadis itu, tidak mempunyai rasa bersalah sedikitpun, setelah kematian sang bapak.
Napas bergemuruh hebat, perlahan terasa tersendat, Bu Lasmi mengangkat kepalanya, menatap tajam ke arah anak keduanya.
"Kamu, Anak …."
Belum meneruskan perkataan, tangan kini terangkat, membuat suatu tamparan keras melayang pada pipi kiri Lala.
Plak ….
Membulatkan kedua mata, memegang pipi bekas tamparan sang ibunda. Terasa menyakitkan dan juga memalukan, " Ibu. "
Terdengar suara bunyi gigi yang menahan kekesalan, "Ibu ini gila ya, kenapa ibu tampar, Lala." Teriak Lala layangkan di depan sang Ibunda, ia memegang pipi kiri yang terasa berdenyut. Berusaha bangkit dari atas lantai.
"Ibu ini benar benar keterlaluan," Pekik Lala. Membuat amarah wanita tua itu menggebu gebu. "Diam kamu, Lala,"
Jari tangan wanita tua itu menunjuk ke arah wajah anak keduanya. Penuh kekesalan dan rasa sakit. Tanpa kesadaran diri, membuat bibir berani berucap. "Kamu bukan anak ibu lagi, paham. " Lima baris kata yang Bu Lasmi layangkan untuk anaknya, membuat wanita tua itu berlalu pergi meninggalkan Lala. Tanpa menoleh sedikitpun.
Anwar datang menghampiri sang ibunda dan berkata," Anwar, antarkan ibu pulang ke rumah ya. "
Kedua mata yang sudah terlihat bengkak itu, membuat anak pertama Bu Lasmi merasa tak tega, Anwar terpaksa melarang sang ibunda untuk ikut ke pemakaman. Agar perasaan Bu Lasmi tak dikelilingi dengan rasa bersalah.
Kepergian Anwar dan sang ibunda, membuat Lala bukannya sadar akan rasa bersalah. Ia malah menggerutu kesal dan berkata kasar.
"Sial,"
Lala merasa dirinya dikucilkan, membuat ia semakin agresif.
Hati yang tak puas, membuat gadis itu kembali menghampiri istri Raka.
__ADS_1
Dengan percaya dirinya, seolah Lala tak bersalah, gadis itu kini menunjuk nunjuk Alena.
"Kamu lihat, Mbak Alena yang merasa hidupnya paling benar dan sempurna, gara-gara Mbak, ibu kandungku sendiri tak mau menganggap aku sebagai anaknya." Hardik Lala. Kedua mata menatap tajam ke arah Alena.
Namun Alena berusaha tetap diam dan bersikap elegan. Tak ingin berdebat dengan gadis yang tak mau mengakui kesalahannya sendiri.
"Setelah ini, kamu akan tahu akibatnya. Karena kamu keluargaku hancur, " Ancaman dari Lala, membuat Alena tetap tenang.
Dimana Alex yang begitu berpihak pada Lala, menunjuk sang sahabat.
"Raka lu benar benar keterlaluan, setelah ini lu akan merasakan akibatnya," Alex membulatkan kedua mata, meninggalkan Alena dan juga Raka yang berdiri penuh dengan ketenangan.
Lelaki itu berlari mengejar Lala dan berteriak.
" Lala, tunggu …."
Gadis yang penuh rasa dendam, melirik sekilas ke arah Alena dan berkata dalam hati, " Kamu bisa tenang sekarang, tidak dengan nanti. "
**********
Tiba tiba pelukan hangat datang dari seorang suami yang mampu menenangkan perasaan Alena, membuat kekuatan cinta semakin tumbuh melekat di hatinya.
"Dih, si Lala bukannya mengakui kesalahannya sendiri, malah nyalahin orang lain. Benar benar nggak waras tuh gadis, " gerutu kesal Alena, di hadapan suaminya.
Raka mencium bibir istrinya, disaat situasi rumah sakit tak ada orang, " Papah. "
"Sengaja biar mama diam. "
"Ayo, kita berangkat ke pemakaman Bapak Haris," Ajakan Raka membuat istrinya memijat mijat kepala. " Malas, pah, sudah biarkan saja. Kita sudah nggak ada urusan lagi sama mereka. "
Raka menarik tangan istrinya.
"Sudah ayo, kita harus menghargai Bapak Haris."
"Dih, menghargai, tua bangka itu juga nggak menghargai aku. "
"Alena."
"Iya, iya. "
Alena berusaha menahan kekesalannya, sampai dimana mereka bergegas berangkat ke pemakaman Bapak Haris dengan diiringi Mobil Ambulan.
__ADS_1
Sampai di pemakaman.
Terlihat banyak b saudara, dan tetangga berkumpul untuk mendoakan almarhum.
Menghela napas, Alena berusaha tetap tenang, ia menatap kesana kemari saat di pemakaman. Kedua matanya tidak melihat Lala sama sekali.
Yang ia lihat hanya Bu Lasmi yang memaksakan diri datang untuk melihat proses pemakaman suaminya. Walau beberapa kali Alena melihat ibu Lasmi itu jatuh pingsan berulang kali.
Ada sedikit rasa sesal dirasakan Alena, dimana ia bergumam dalam hati." Kalau saja aku tak melarang suamiku datang, mungkin Pak Haris masih hidup, dan Bu Lasmi tidak semenyedihkan ini. Ahk, aku ngomong apa. "
Alena mencoba menyadarkan diri, dan berbisik lagi dalam hati, " Balik lagi kediri kita, semua sudah takdir. "
Lamunan Alena terhenti saat, melihat Ibu Lasmi berteriak dan orang-orang begitu panik, apalagi suamiku.
Menangis histeris beberapa menit, wanita tua itu kembali lagi pingsan, hingga dibawa ke dalam mobil untuk mendapatkan obat.
Bisik-bisik tetangga yang mengikuti proses pemakaman, membuat telinga Alena menangkap semua yang ia dengar. " Mm, mereka bergosip ternyata, " Gumam hati Alena.
" Bu, lihat tuh. Bu Lasmi, sudah kaya orang gila."
"Iya benar, itu resiko dia sih, siapa suruh punya anak dimanja, jadinya gitu. Kalau udah kaya gitu rugikan jadinya. "
"Bapaknya jadi korban karena kebodohan anaknya. Amit amit deh bu, kalau punya anak kayak begitu. "
"Iya. Bener banget bu. Mudah mudahan anak kita nggak kaya gitu. "
" Eh, bu ibu. Mana si Lala gak datang ke pemakaman Bapaknya sendiri, bener bener tuh ya anak, nggak tahu diri banget."
"Iyah ya, mungkin lagi party karena bapaknya meninggoy. "
"Anak nggak tahu malu. EMANG SI LALA ITU, bikin aku emosi kalau jadi ibunya. "
"Apalagi aku bu, sudah kujewer tuh ginjalnya. Sekalian sama jantungnya. "
"Udah tahu dulu depresi, lah sekarang makin gila tuh anak."
"Haduhh, ibu ibu ini memang ya paling pandai dalam bergosip, dan menjelekan orang lain, tapi sih. Memang pada kenyataannya sih, " Gumam hati Alena, berusaha mengabaikan para ibu ibu yang bergosip itu.
Ketika pemakaman sudah selesai, di iringi Doa dari Pak Ustad.
Tiba-tiba, Lala dan Alex datang bersama dengan sosok laki laki, berpakaian rapi mengenakan jas hitam membawa selembar berkas.
__ADS_1
" Siap laki laki itu? Kenapa dia membawa lebar kertas putuh?"