
Setelah menemui Alena dan juga Raka, Bi Layla, kini menemui Lala yang sudah berada di rumah sakit jiwa.
Mereka mencari ruangan Lala, berharap jika Lala baik baik saja.
"Lala."
Gadis itu beranjak berdiri, mendekati sang ibunda yang memanggil namanya.
"Bu, gimana? Apa ibu sudah menemui si Alena?"
Menghela napas, setelah mendengar pertanyaan dari anaknya.
"Sebenarnya …."
Belum meneruskan perkataan, " Bu, kenapa?"
Wanita tua itu meneteskan air mata, membuat Lala mengerutkan dahinya.
"Kenapa? Jawab dong bu, jangan hanya menangis saja, aku sebal lihatnya!"
Bi Layla yang menemani sang kakak, kini memperlihatkan raut wajah sedihnya. " Maafkan kami Lala, kami tidak berhasil membujuk Alena. "
"Apa?"
Lala terlihat marah dengan jawaban sang bibi, dimana Bu Lasmi berkata, " kita bisa mengeluarkan kamu dari rumah sakit jiwa dan mencabut tuntutan kamu, asal kamu tidak mengganggu Raka lagi. "
DEG ….
__ADS_1
Kedua mata membulat, tak senang dengan jawaban sang ibu. " Ibu bodoh, kenapa ibu. "
Bi Layla berusaha menenangkan keponakannya, " Lala, ibu kamu sudah berusaha yang terbaik untuk kamu dan masa depan kamu, jadi ibu kamu memilih pilihan itu."
"Ahk, kalian sama saja, tidak becus mengurus Alena. Wanita lemah itu. "
Memalingkan wajah, Bu Lasmi kini berucap, " Alena bukan wanita sembarangan, ia begitu tegas dan susah dibohongi. "
"Ahk ibunya saja yang bodoh. "
Mendengar perkataan dari anaknya, membuat Bu Lasmi menarik napas, mengeluarkan secara perlahan. Tetap tenang agar tidak terpancing emosi.
Walau sebenarnya tangan sudah terasa gatal dan panas ingin menutup mulut anaknya yang asal berucap itu.
Bi Layla mempunyai ide yang berlian, ia membuat emosi sang kakak mereda. " Kak, gimana kalau kita tidak menepati janji kita, berpura pura terlebih dahulu, untuk mengelabui Alena. "
Lala yang mendengar perkataan sang ibu kini berucap, " Bu, kita kan bisa ancam si Alena. "
"Ancam bagaimana maksud kamu?"
Tanya kembali sang ibunda.
"Ibu itu bodoh, apa pura pura bodoh!" Sembari menunjuk nunjuk kepala, membuat Bi Layla menggelengkan kepala.
"Kan ada anaknya!" jawab Lala, membuat keduanya terkejut. "Ya elah, bodoh emang kalian ini, bisa saja kalian ancam akan membunuh anak Alena!"
Layla terlihat setuju dengan perkataan keponakannya, " Benar tuh, hanya ancaman saja kan."
__ADS_1
"Lala itu beresiko berat, kamu mau kita masuk ke dalam penjara, " ucap sang ibunda yang terlihat tak setuju.
Menghela napas, " Kalian ini gimana sih, takut sama resiko, sudah kalau pake anak itu nggak bakal mikirin polisi. "
"Iya juga sih. "
"Jadi kalian setuju. "
Semuanya menganggukkan kepala, dimana tanpa mereka sadari, benda kecil itu sudah merekam akal busuk ketiganya.
Alena yang berada di samping sang suami, hanya menggelengkan kepala, tak menyangka akan niat busuk ketiganya.
"Mereka benar benar jahat. " Gerutu Alena.
Raka yang mendengar hal itu juga, ikut kesal. Padahal sudah diberi kesempatan, tapi di sia siakan.
"Bu Lasmi sekarang aku sudah tau rencanamu, maafkan Alena yang egois ini." Gumam hati Alena.
"Maafkan aku yang tak bisa membuat semua keadaan menjadi lebih baik, entahlah mungkin ini yang terbaik untuk Lala, dia harus menerima semua kesalahannya sendiri. Aku tak menyangka, Bu Lasmi merencanakan niat jahatnya, demi sang anak. "
Keduanya sepakat tidak akan membebaskan Lala dari dalam penjara. Membiarkan sang gadis membekuk di penjara,
" Maafkan aku, Lala, mungkin ini yang terbaik untukmu." Gumam hati Alena.
"Setelah ini, kita tunjukkan rekaman percakapan mereka pada pengadilan. "
"Benar pah. Padahal kita sudah memberi mereka kesempatan, tapi mereka. "
__ADS_1
"Sudahlah, mah, mereka tidak akan pernah berubah. "