
Setelah tahu niat jahat mereka, Alena dan Raka tak mencabut tuntutan Lala di dalam penjara membebaskan Lala di rumah sakit jiwa pun tidak, sampai dimana Bi Layla datang menghampiri Bu Lasmi.
"Kak Lasmi, Kak."
Terdengar jelas teriakan dari sang adik membuat Bu Lasmi, membalikkan badan.
"Ada apa, Layla?" Tanya wanita tua yang melihat kegelisahan pada adiknya.
"Si Alena tidak menuruti keinginan kakak, dia malah mengirim pesan seperti ini pada Layla. "
(Bu Lasmi, maaf. Saya tidak bisa menuruti keinginan ibu, pengadilan akan berlanjut tolong datang agar kita bisa menyelesaikannya dengan baik.)
Kedua mata wanita tua itu membulat ia masih tak percaya dengan pesan yang ia baca, " Ini tidak mungkin, ini pasti hanya bercanda kan?"
"Layla, sudah telepon tapi nomor si Alena ini tak aktif. "
"Bagaimana ini, kalau Alena tidak mengeluarkan Lala. " Bu Lasmi terlihat gelisah, ia mencoba mencari cara lain.
"Kalau begitu kita datangi saja kediaman Alena. "
"Ayo kak. "
Keduanya kini pergi, untuk segera menaiki taksi, mereka tak sabar ingin adu debat dengan wanita bernama Alena.
Sampai ditempat tujuan, suasana rumah tampak sepi. Bu Lasmi terlihat gundah dan tak tenang, wanita tua itu mendorong kursi roda sang kakak.
"Kok sepi. "
Bi Layla mencoba mengetuk pintu, dimana ketukan berulang kali dilayangkan tak ada tanda tanda sedikitpun dari Alena.
"Kak, sepertinya di rumah ini tidak ada siapa siapa?"
"Kemana dia, kurang ajar berani kabur dia!"
Menghela napas, wanita tua itu terlihat kesal dan tak terima dengan Alena yang pergi begitu saja.
"Ya sudah kita pulang saja, " ucap Bi Layla membuat sang kakak menggelengkan kepala.
"Percuman kita menunggu orangnya pun pergi entah kemana?"
"Tapi, kalau kita pergi bagaimana nasib Lala, anakku, " pilu wanita tua itu menangis terisak isak. Sang kakak yang berada di sampingnya mengusap pelan dengan berkata, " kakak harus tenang, semua pasti bisa teratasi. "
Tiba tiba sosok wanita melintas di depan rumah Alena, membuat kedua wanita tua itu menghentikan langkah orang yang melintas.
"Permisi, saya mau tanya pemilik rumah ini kemana ya?"
Pertanyaan Bi Layla, kini dijawab oleh sosok wanita berbaju hitam itu, " Kebetulan Teh Alena, udah pindah rumah. Dua hari yang lalu."
"Apa, pindah rumah, " Keduanya terkejut dengan jawaban dari wanita yang tak mereka kenal.
__ADS_1
"Iya. Ibu ini, siapanya Teh Alena ya, kok saya baru lihat," ucap wanita berbaju hitam dengan tatapan mata yang ingin tahu.
" Eeh, kami saudara jauhnya. Oh ya bisa minta alamat kediaman Alena yang baru?"
Pertanyaan Bi Layla, membuat wanita berbaju hitam itu menggaruk belakang kepalanya, " Aduh untuk masalah alamat yang kurang tahu, soalnya Teh Alena, perginya buru buru. Sampai nggak pamit tetangga. Oh ya memangnya nggak ngabarin gitu sama saudara saudaranya. "
Keduanya saling menatap satu sama lain, " Eh tidak, kemungkinan lupa. Terima kasih atas waktunya, kami pamit dulu. "
Wanita berbaju hitam menganggukkan kepala pergi dari hadapan kedua ibu ibu itu.
" Alena, dia benar benar. "
Layla berusaha menenangkan sang kakak, dengan mengusap pelan punggungnya.
"Cape cape aku datang kesini ingin memberi peringatan pada dia. Tapi apa yang aku dapatkan sekarang, Alena malah pindah rumah. Mau dia apa sih sebenarnya. "
"Kakak, harus tenang. Jangan emosi, sebaiknya kita cari wanita itu sekarang. "
Sang kakak yang masih terlihat emosi kini menatap sinis pada adiknya, " Cari kemana, tetangganya pun tak tahu dia pindah kemana?"
"AHK, iya juga sih kak. "
Tring.
Pesan datang dari ponsel Bu Lasmi, (Pasti kalian sedang mencari keberadaan saya?)
(Dimana kamu. Hah.)
Tak ada balasan lagi dari Alena, membuat Bu Lasmi tampak emosi dan berkata. (Brengsek, bisa bisanya dia melakukan semua ini pada kita.)
Menggenggam erat kedua tangan, hati dan pikiran benar benar kacau. Alena benar benar pintar memainkan perannya.
"kenapa?"
"Sialan si Alena itu. "
"Kakak, harus sabar. Sebaiknya kita pulang. "
Bu Lasmi mengusap kasar wajahnya, ia geram dengan Alena. " Dia bukan wanita sembarangan, dia terlalu pintar memainkan kita untuk menjadi seorang pecundang. "
"Kak, ayo kita pulang. "
Emosi yang masih meluap luap, akhirnya terkendali juga. " Kakak tenang, jangan buang buang tenaga, hanya karena wanita itu tidak ada di sini. "
"Benar apa yang kamu katakan Layla, aku harus menghemat tenaga, agar aku bisa melawan dia nanti di pengadilan, aku tidak ingin tenangKu nanti terkuras habis karena si Alena itu. "
"Kalau begitu, kita pulang ya. "
"Baiklah."
__ADS_1
Kedua adik kakak itu pulang, mereka terlihat marah besar. Sampai suara pesan datang lagi.
(Kalian pasti mencari keberadaan saya kan? Kalau kalian ingin bertemu, tunggu tiga hari lagi, kita akan bertemu di pengadilan.)
(Jangan hanya berani mengirim pesan saja kamu Alena, cepat kesini temui saya di depan gubuk jelekmu ini, kami disini menunggu itikad baikmu. Atas kedua pilihan yang kamu berikan kemarin.)
(Oh, mengenai pilihan kemarin, maaf. Saya berubah pikiran, karena saya takut anda sebagai orang tua tidak menepati janji anda. Apalagi saya sudah tahu kalau anda itu tak jauh berbeda dengan anak anda.)
(Apa maksud kamu?)
(Anda pura pura bodoh ya, jelas jelas anda sudah membuat saya tak percaya lagi!)
(Jangan bertele tele, bicara yang benar.)
(Saya sudah mempunyai bukti nyata. Saya sudah mempunyai rekaman obrolan anda bersama anaka anda. Lala, dimana anak anda itu berpura pura gila, hanya untuk meminta belas kasih suami saya.)
(Jangan membuat fitnah kamu, saya bisa tuntut kamu sekarang juga.)
(Sialahkan tuntun jika anda tidak mau, kalau diri anda masuk kedalam penjara.)
"Sialan, apa maksud dia. Apa si Alena ini sudah tahu rencanaku yang sebenanya. "
"Kenapa kak. "
Bu Lasmi, menunjukkan sebuah pesan pada sang adik, dengan raut wajah penuh emosi dan rasa kesal yang menggebu.
"Jadi dia. "
"Iya sepertinya dia lebih pintar dengan apa yang aku bayangkan. "
Tring.
(Coba anda cari benda kecil pada kursi roda anda, dari sana kalian akan tahu, kenapa saya berubah pikiran.)
"Kak, lihat, Alena mengirim pesan seperti ini."
Wanita tua yang duduk di kursi roda itu bergumam dalam hati, " benda kecil. "
Layla penasaran akhirnya ia mencari beda kecil di kursi roda sang kakak.
"Coba aku cari. "
Beberapa kali mencari, sampai Layla menemukan barang yang dimaksud oleh Alena.
"Kak, lihat ini. "
Memberikan pada sang kakak, membuat wanita tua itu menggerutu kesal, " Alena, kamu sudah membuat aku benar benar kalah dalam permainan ini. "
"Gimana kalau Lala tahu, dia pasti akan membenci kakak. " ucap Layla memperlihatkan raut wajah sedihnya.
__ADS_1