
Bu Lasmi mengerutkan dahi, ia masih tak percaya dengan perkataan anaknya, karena yang ia tahu dari dulu, jika Raka dan Lala adalah teman baik.
"Benarkah, itu Nak Raka? Yang ibu tahu kalian itu teman baik?" Tanya Bu Lasmi dengan penuh keraguan. Jika Raka akan melamar anaknya saat ini.
" A-nu bu ..."
Seakan tak ada kesempatan untuk Raka berbicara di hadapan kedua orang tua Lala, karena Lala selalu menimpal perkataan Raka.
"Kenapa nanya lagi sih bu! kan sudah jelas." timpal Lala begitu kesal pada sang ibunda yang terlihat tak mendukungnya sama sekali.
"Bukannya ... " balas Bu Lasmi, membuat Lala membulatkan kedua mata, memberi kode agar wanita tua itu tidak banyak bicara.
"Sudahlah bu, mereka itu cocok, bapak setuju ko," saut bapak dengan senyum gembira.
Lala semakin senang dengan perkataan Pak Haris yang mendukungnya.
"Pak, bu. Saya ini sudah …."
"Kakak Raka, jadikan melamar Lala, sekarang pasangkan cincin. "
Lala menyodorkan tangannya di hadapan Raka, " Ayo pasangkan."
"Bagaimana ini, kenapa Lala malah menjebakku untuk menikahinya, apa yang harus aku lakukan. Padahal dulu saat chattingan dengannya, aku menganggap semua itu hanya kejahilanku saja, aku benar benar tak berniat serius pada Lala. "
"Kak Raka ayo. "
Dengan begitu percaya dirinya, Lala masih memperlihatkan jari tangan untuk dipakaikan cincin oleh Raka.
Saat itu ...
Tok .. Tok ..
Semua yang terlihat serius, kini menatap ke arah pintu, mereka semua mendengar suara salam dari seorang wanita.
"Assalamualaikum."
Raka yakin jika suara wanita itu adalah istrinya, " Itu pasti Alena. "
"Waalaikumsalam. Siapa ya, kok tumben ada tamu di siang hari begini. " ucap Bu Lasmi, berniat membuka pintu rumah, namun Lala menahan sang ibu.
__ADS_1
"Assalamualaikum." Suara wanita itu terus mengucap salah di depan pintu rumah.
Bu Lasmi pergi, membuat Lala kesal.
"Bu, sudahlah. "
"Waalaikumsalam ... ?" Jawab wanita tua itu berjalan menuju ke arah pintu, ia tak mendengarkan perkataan anaknya untuk tidak membuka pintu.
Lala kesal dengan sang ibu, ia menyusul untuk menahan wanita tua itu.
"Bu."
Namun, saat membuka pintu, sosok wanita tersenyum pada Lasmi.
"Maaf bu! Apa benar ini rumah Lala?" Tanya ramah Alena sembari menggendong bayinya.
"Iyah benar! siapa ya?" Jawab Bu Lasmi, mengerutkan dahi, ia baru pertama kali melihat Alena.
"Mas Rakanya ada?" tanya Alena, menahan rasa haus dan rasa lelah. Karena berjalan sambil menggendong bayi untuk mencari tempat tinggal Lala.
"Oh ada, ayo masuk ke dalam!"
"Tunggu, siapa sih dia bu!" Lala berpura pura tak mengenal Alena.
"Ini nyari Raka! " Jawab Bu Lasmi.
"Siapanya, kamu?" Tanya Lala mendekat ke arah Alena, dimana Alena tersenyum sinis, melihat kepura puraan Lala tak mengenal dirinya.
"Sepertinya dia mau bermain denganku. " Gumam hati Alena.
"Saya Alena dan ini anak saya Putra, saya istri dari Mas Raka!" Jawab Alena terus terang dihadapan Lasmi dan juga Lala.
Wanita tua itu memegang dadanya, ia menatap ke samping anaknya, " Lala, Raka sudah beristri?"
Lala malah diam, saat sang ibunda terlihat kecewa padanya, ia melipatkan kedua tangan dan berkata, " Bu, Raka memang sudah beristri, tapi …."
Perkataan Lala terjeda, saat Andi keluar dari ruang tamu untuk menghampiri anaknya.
"Mama, akhirnya datang juga!" Sahut laki-laki yang menghampiri istrinya dengan perasaan lega.
__ADS_1
"Papa ini, mama tuh cape tadi jalan kaki cari rumah Lala, bukannya kita sudah berjanji datang berdua ke rumah Lala, tapi kenapa papa malah ninggalin mama sama Putra," Keluh Alena memperlihatkan raut wajah kecewanya.
"Maafin papa ya mah,tadi Lala datang tiba-tiba. Lala langsung mengajak paksa papah, padahal papa mau jelasin kalau papah bawa mama sama Putra, tapi Lala malah mengelak." Ucap lirih Raka sembari mengusap keringat istrinya yang mengalir.
Raka pun menggendong anaknya dan mengucap beberapa kali kata maaf, karena meninggalkan mereka di depan perum.
"Maafin mama, tadi enggak bilang mau beli buah-buahan dulu, langsung nyelonong gitu ajah," ucap lirih wanita anak satu itu sembari membungkukan pandangan.
"Ya papa maafin!" Senyum lekas melebar di bibir Raka.
"Sudah cukup, drama macam apa ini?" Teriak Lala, membuat sepasang suami istri itu mendadak terdiam dari obrolan mesra mereka.
Terlihat napas Lala naik turun, menahan emosi, karena melihat kemersaraan kedua insan yang ada dihadapannya, rasa cemburu membuat Lala sakit hati dan tak terima.
"Kalian ini sudah membuat aku kesal. " Lala seperti hilang kendali, ia tak sadar apa yang ia lakukan memalukkan dirinya sendiri.
"Sudah, Lala tenangkan dirimu, jangan teriak teriak malu sama tetangga! Sebaiknya kita masuk ke dalam kamar, biar kamu tenang dan menerima kalau Raka itu sudah mempunyai istri dan anak," Ucap Lasmi, wanita tua itu mengusap-ngusap pelan pundak anaknya, agar tenang. Dan tak emosi lagi.
Sampai air mata jatuh di pipi gadis itu ... Membuat Raka merasa kasihan.
"Kenapa kamu menagis, Lala?" Raka hanya bertanya, dimana ia tak berani mendekat karena ada sosok wanita yang harus ia hargai disampingnya.
Lala ingin rencananya berjalan mulus, ia tak mau berakhir pilu dan memalukan, berjalan pelan mendekati Raka, membuat Alena berusaha menarik tangan suaminya agar menjauhi gadis itu.
"Kak Raka, bukannya kak Raka sudah janji sama Lala, kalau sekarang, Kak Raka, mau melamar Lala." Jawab gadis itu dengan deraian air mata mengalir. Lasmi berusaha menyadarkan anaknya.
"Lala, kamu harus sadar, Raka itu sudah mempunyai anak istri, tak mungkin Raka melamar kamu, " ucap sang ibunda pada anaknya, yang terus menangis sembari menatap Raka.
"Tidak bu, Raka harus menyelesaikan semuanya, ia harus menikah dengan Lala, " tegas Lala.
Lala seperti tak punya rasa malu, ia mendekati lagi Raka, dengan wajahnya yang memelas. " Kak Raka, ayo kita selesaikan acara lamaran kita."
"Mak-sud kamu apa? Lala, berbicara seperti itu kepada laki-laki yang jelas sudah mempunyai anak dan istri," timpal Alena kepada Lala dengan raut wajah kesal.
Raka berusaha menjadi sosok laki laki yang tegas, ia membela diri, "aku tidak pernah ada niat melamar kamu ke rumah ini, aku sudah jelaskan jika aku datang ke sini bersama dengan istriku ingin bersilahturami. "
"Kak Raka, jangan seperti itu. Lala sangat berharap sekali pada Kak Raka. " ucap Lala, dengan isak tangisnya, ia berharap jika Raka luluh dan mau melanjutkan acara lamaran yang sengaja ia susun.
"Lala, suamiku sudah menjelaskan semuanya, jadi kamu jangan menekan Mas Raka untuk melamar kamu, dia itu suamiku. Kamu sebagai seorang gadis harusnya sadar, banyak lelaki bersetatus singgel diluar sana yang mengiginkan kamu, bukan laki laki yang sudah beristri yang ingin kamu rebut begitu saja," balas Alena berusaha menasehati Lala.
__ADS_1