
Perasaan Raka kini tak karuan, mengingat istri dan anaknya yang ia tinggalkan di toko buah.
"Gimana ini, kasihan Alena dan juga Putra kalau aku tinggalkan. Ckk bodoh, harusnya aku menolak Lala, dengan tegas dan mengatakan kalau aku datang bersama istri dan anakku," Gerutu hati Raka, ia masih melajukan motornya dengan kecepatan sedang.
Sampai dimana Raka terkejut, dengan tangan gadis yang dibonceng olehnya, melingkar pada pinggang Raka.
Dengan berat hati, Raka menghentikan motornya, membuat Lala turun dan bertanya.
"Kenapa kak?"
" Aku mau jelasin sesuatu." Raka menarik napas, mengeluarkannya secara perlahan, ia tak sadar jika motornya kini berhenti di blok ujung perumahan bernomorkan 12. Milik Lala.
Dengan raut wajah memerah, Lala tersenyum sembari menggerakan jari jemarinya.
"Eh udah datang toh, ayo masuk Nak Raka," Ucap wanita setengah baya yang baru saja keluar dari dalam rumah.
Mendengar sapaan itu membuat Raka terkejut, ia melihat nomor rumah Lala.
Wanita tua bernama Bu Lasmi, kini menghampiri Raka dan juga anaknya.
"Eh, Ibu ... Assalamualaikum?" kecupan bibir Raka kini mendarat di punggung tangan Ibunda Lala.
"Waalaikumsalam Nak Raka! lbu baru lihat kamu lagi nak, sudah lama sekali kamu nggak main ke rumah Lala, yang ibu inget waktu kamu antar jemput Lala dulu pulang sekolah!" Jawab Ibu Lasmi dengan sedikit mengelus bahu Raka.
Lala memonyongkan kedua bibirnya, menimpal perkataan sang ibu.
"Ya sudah dong bu tanyanya, kasihan kak Raka, kita ajak masuk dulu ke dalam rumah, biar enak ngobrolnya kalau di dalam rumah. "
Lala mulai mencari kesempatan, dimana ia memegang tangan Raka.
"Ayo masuk Nak Raka, " ucap wanita tua itu dengan begitu ramah.
Raka tampak gelisah, ia melirik kesana kemari. Mencari keberadaan istrinya.
"Ayo, mas. Kok kamu diam saja. "
Raka tersenyum, ia mencoba melepaskan tangan Lala, "jangan gini ya, nggak enak sama ibu kamu, dan lagi kamu tahu sendirikan kakak sudah punya istri dan anak. "
Lala kembali mengerutkan dahinya, mendengar apa yang dikatakan Raka, ia tampak kecewa.
Wanita tua itu datang menghampiri Raka," Loh, Lala kenapa kamu tidak ajak Nak Raka masuk."
Lala menatap sekilas ke arah Raka, " iya bu. "
__ADS_1
"Ayo, Kak." Ajakan Lala tak didengar oleh Raka, Raka terus mengkhawatirkan istri dan anaknya. "Kemana Alena, kenapa dia belum juga menyusul kesini. Hah, sekarang aku harus menyusul istriku takut kenapa kenapa." Gerutu Raka dalam hati.
Raka melepaskan lagi tangan Lala yang terus memegang tangannya, membuat Lala berkata, " Kak Raka, mau kemana?"
Lala malah menahan Raka, ia memegang lengan tangan yang membuat Raka tak sengaja mendorong tubuh Lala hingga terjatuh ke atas tanah.
"Ahk, sakit. kak. "
Lala meringis kesakitan, membuat Raka mengurungkan niatnya menyusul sang istri.
"Lala, maaf, kakak nggak sengaja. "
"Aduh."
Teriakan Ibu Lasmi, mengagetkan Raka, " Lala, ayo ajak Nak Raka masuk. "
Dengan terpaksa, Raka membantu Lala untuk masuk ke dalam rumah, saat lelaki bermata bulat itu melangkah kan kaki. Ia dikejutkan dengan hidangan mewah yang sudah tersaji di atas meja.
Hati Raka tersentak, "Ada apakah ini gerangan."
Dengan keramah Ibu Lasmi. Raka membatu Lala untuk duduk di atas sofa.
"Kamu ini gimana sih, kok nggak hati hati." ucap Bu Lasmi pada anaknya.
Wanita tua itu tersenyum saat mendengar penjelasan Raka, dimana Raka masih berdiri.
"Ayo duduk Nak Raka, sekarang ibu buatkan dulu kopi." ucap Lasmi, beranjak pergi meninggalkan mereka berdua di ruang tamu.
Lala kini duduk bersebelahan dengan Raka, ia seperti sengaja mendekati Raka, menggerakan tubuh agar bisa berdempetan dengan Raka.
Lala mencari kesempatan, selagi Bu Lasmi berada di dapur.
Gadis itu dengan sengaja memasukan kotak kecil ke dalam jaket Raka.
"Eh Lala kamu ngapain dekat dekat kakak terus?" Tanya Raka terkejut saat Lala begitu dekat dengannya.
Lala kini tersenyum tipis, ketika Raka tak menyadari ketika Lala memasukkan barang ke dalam jaket Raka.
"Oh Gak kak, kebetulan tadi Lala lihat, ada semut nempel di jaket Kakak, jadi sini, biar Lala usir tuh semut!" Jawab Lala mengelus-ngelus jaket milik Raka.
"Oh nggak usah, makasih Lala," ucap Raka begitu risih pada Lala yang begitu berani mengusap dan memegang tangan Raka.
"Loh kok, kakak kelihatan gugup gitu, jidatnya sampai berkeringat gini." Tangan gadis itu mulai mengelap-ngelap keringat yang bertaburan sendari tadi di kening Raka.
__ADS_1
"Kakak keluar dulu ya, panas disini," keluh Raka berusaha menghindari Lala, menenangkan rasa gelisah dari hatinya.
Baru saja Raka bangkit dari tempat duduknya.
"Ehem ..."
Seorang bapak bapak datang, mengejutkannya, membuat Raka tersenyum tipis.
"Raka, ternyata ada kamu main kesini, oh ya bagaimana kabarmu. Nak?" Pertanyaan lelaki tua yang duduk di kursi roda, membuat Raka mendekat dan menjawab. "alhamdulilah baik pak!"
Raka mencium punggung tangan lelaki tua yang menjadi ayah Lala.
"Syukur kalau begitu, ayo duduk" Ucap bapak tua bernama Haris, kini mempersilahkan Raka untuk duduk.
"Ah, baik pak!"
Padahal Raka berniat pergi menyusul sang istri. Malah tertahan oleh Pak Haris.
Menghela napas, dengan basa basi. Raka kini bertanya.
"Bapak sendiri gimana kabarnya?" Tanya Raka gugup.
"Ya begini lah Raka, nggak seperti dulu masih bisa berdiri, sekarang bapak hanya bisa duduk di kursi roda." ucap lirih pria tua itu.
"Maaf sebelumnya, kalau Raka lancang, memang bapak sakit apa? " Tanya Raka dengan nada sedikit berhati hati.
"Bapak gula darahnya tinggi, kalau stres sedikit bisa langsung masuk rumah sakit, ya maklum, bapak udah tua." timpal Lala menghentikan pembicaraan kedua pria dihadapannya.
"Hus nggak boleh gitu Lala, mau bagaimanapun dia tetap bapakmu," bisik Raka menoleh ke arah Lala.
"Memang benar, apa yang dibicarakan Lala Raka, bapak sudah tua, penyakitan pula, makanya bapak nyuruh Lala, cepet-cepet nikah." ucap lirih bapak tau itu, sedikit membukukan pandangannya.
Deg ... Seketika pandangan Raka terasa buram, ia terkejut mendengar perkataan Pak Haris. Jantungnya terasa berdetak begitu cepat, membuat kepalanya berdenyut.
Ia tak mengerti maksud dari perkataan Pak Haris.
Saat itulah Bu Lasmi datang membawa kopi secangkir kopi untuk Raka.
"Hus bapak ini, Lala kan belum punya calon, kok nyuruh cepet-cepet nikah sih, gimana urusannya?" Ucap ibu sembari meletakan kopi di atas meja.
"Ibu gimana sih, kan Kak Raka calon Lala makanya Kakak Raka, datang kesini mau melamar Lala, benarkan Kak? Ucap manja Lala didepan kedua orang tuanya.
Bu Lasmi dan Pak Haris langsung menatap ke arah Raka, membuat suami Alenta itu mengurungkan niatnya untuk menyeruput kopi hangat yang sudah ada di genggaman tangan.
__ADS_1
"Ma-mak-sud?" Ucap Andi gugup.