Godaan Sahabat Suamiku

Godaan Sahabat Suamiku
Bab 32


__ADS_3

" Gimana? Apa mama sudah mengirim pesan pada Bu Lasmi, untuk pertemuan di dalam penjara?"


Mendengar pertanyaan dari sang suami, membuat Alena menjawab," sudah, pah. Mama sudah memberitahu Bu Lasmi, tapi jawabannya. Seperti ini!" 


Alena mulai menunjukkan pesan percakapannya dengan Bu Lasmi, dimana Raka membulatkan kedua mata dengan berkata. " Bu Lasmi, tak usah diberi kesempatan lagi, semakin kesini. Bu Lasmi semakin keterlaluan. "


Mendengar tutur kata sang suami, Alena hanya diam. 


******


Sampai di rumah sakit jiwa, Bu Lasmi mulai menengok anak semata wayangnya itu. 


Dimana ia melihat Lala sedang duduk dengan raut wajah bosannya. 


"Lala."


Mendengar panggilan dari sang ibu mertua, membuat Lala senang, ia berdiri memandangi sang ibunda yang masih duduk di kursi roda. 


"Bu Gimana?" Pertanyaan anak semata wayangnya membuat Bu Lasmi menundukkan pandangan, ia kebingungan sendiri untuk menjawab apa yang sudah terjadi, 


"Bu, kok diam saja. Lala tanya loh sama ibu, " ucap pelan Lala, berharap jika wanita tua yang ada di hadapannya memberi kabar baik. 


Memegang jeruji besi menunggu jawaban, dimana wanita tua itu menangis.


"Loh, bu. Lala ingin dengar jawaban ibu, bukan lihat ibu menangis. " Nada ketus dari mulut Lala mulai dihentikan sang bibi. 

__ADS_1


"Lala, kamu jangan marah ya, " timpal wanita tua yang ada di samping sang ibunda. 


"Maksud bibir apa?"


Layla mulai menjelaskan semuanya, " Kami tidak berhasil menepati janji kami, jika kamu bisa keluar dari rumah sakit dan penjara."


Jawaban yang sudah bisa ditebak oleh  Lala. " Alena tidak menepati janjinya, dia malah memperpanjang masalah. "


"Jadi, Lala akan membekam di rumah sakit ini sebagai tahanan. "


Kedua wanita tua yang ada dihadapan Lala, kini menganggukkan kepala, membuat gadis itu memukul mukul terus menerus jeruji besi. 


"Kalian tidak becus, kalian benar benar tidak berguna sama sekali. "


Menghela napas, keduanya sudah tahu kemarahan Lala yang pastinya mengeluarkan sebuah umpatan.


Layla berusaha menasehati keponakannya dalam berbicara, " Lala, bisa tidak kamu sebagai gadis menghargai kami yang lebih tua darimu. "


Mendengar tutur kata dari sang bibi, membuat Lala berkata." Kalau saja ibu dan bibi berhasil membuat Lala keluar dari rumah sakit jiwa dan gugatan penjara, Lala akan mengubah tutur kata Lala. "


keduanya menatap satu sama lain, membuat Layla berkata, " bibi tak yakin. "


Lala malah berdecak kesal, ia memalingkan wajah dan pergi begitu saja. Sang ibunda yang terlihat kuatir, mencoba menghentikan langkah kaki anak semata wayangnya itu. 


"Tunggu."

__ADS_1


Namun tak ada jawaban sama sekali, dari Lala saat sang ibunda memanggil, membuat Layla berkata, " Sudahlah kak, abaikan saja Lala, dia anaknya keras kepala. "


"Tapi kasihan," ucap Bu Lasmi, menitikkan air mata. 


"Harus gimana lagi, sudah nasib Lala. "


Mereka akhirnya pulang. 


Lala duduk kembali, ia melihat kepergian kedua wanita tua itu, " Dasar tak berguna. "


Mengepalkan kedua tangan, kesal dan benci menjadi satu, membuat Lala tak bisa mengontrol diri. 


Ia berdiri, memukul salah satu pasien disana berulang kali, berteriak membuat keributan. 


"Kamu, semua gara gara kamu. " Memukulkan kepala orang yang berada di ruangannya, membuat para penjaga menghentikan aksi tak pantas yang dilakukan Lala. 


Berulang kali menegur, para penjaga akhirnya membawa paksa Lala yang terus memberontak. 


Lala dipisahkan dengan para pasien sakit jiwa lainnya. 


"Lepaskan aku. Kalian kurang ajar, aku ini nggak gila. "


Para penjaga mengabaikan Lala yang terus berteriak mengatakan jika dirinya tak gila. 


Kini kedua tangan dan kaki di ikat, agar Lala tak kabur atau mengamuk lagi. 

__ADS_1


"Semua gara gara Alena, wanita gila itu. Hidupku benar benar hancur, dia pembawa sial. "


**********


__ADS_2