
"Assalamualaikum."
Suara salam dari luar rumah Alena terdengar nyaring, membuat wanita itu membalas melangkahkan kaki kembali ke depan pintu.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Membuka pintu membalas pesan dari tamu yang tak pernah diharapkan oleh Alena.
"Bapak Hasim, Ibu Lasmi. Ada apa ya? " menghela napas, Alena terkejut dengan kedua pasangan suami istri yang berkunjung ke rumahnya.
"Bapak dan ibu ingin, meminta maaf kepada kamu, Nak Alena!" Ucap sosok wanita tua memperlihatkan raut wajah kecewa mereka di depan Alena, lelaki tua yang duduk di kursi roda terlihat begitu menyedihkan membuat,
Hati Alena terasa tak karuan, ia menatap keduanya dengan perasaan tak tenang." Tumben sekali , mereka datang kesini dan meminta maaf, tidak ada maksud yang lain kah?" Gumam Alena dalam hati.
Alena berusaha menurunkan rasa egonya, ia kini bersikap ramah di hadapan kedua orang tua Lala.
"Ya ampun. Ibu, bapak. Kalian tidak usah repot repot datang kesini, Alena sudah memaafkan kalian, sebelum kalian minta maaf pun." Balas lembut Alena, tak lupa menampilkan sebuah senyuman manisnya.
Wanita tua bernama Lasmi itu, memegang kedua tangan Alena.
"kami juga minta maaf, karena kesalahan anak kami, Lala." keluh Bu Lasmi, meneteskan air mata setelah mewakili permintaan maaf dari anaknya.
Alena tak tega melihat Bu Lasmi dari tadi berdiri.
"Mending kita ngobrol di dalam saja, bu, pak, biar nyaman," ucap Alena mempersilahkan orang tua Lala masuk. Walau sebenarnya hati Alena merasa kesal dan tak suka.
Kedua orang tua Lala kini masuk, mereka duduk sambil menatap isi rumah Alena."Ibu, bapak mau minum apa?" Tanya Alena berusaha bersikap ramah.
"Jangan nak, tak usah. Ngerepotin." Jawab wanita tua itu tersenyum.
"Gapapa. Biar Alena bikinin teh ya bu. Tunggu sebentar, kalian anggap saja rumah sendiri jangan malu malu. " Pamit Alena untuk pergi ke dapur.
Alena bergegas menyiapkan teh untuk kedua tamunya. Dengan perasaan kesal, sampai sesekali menatap ke arah ruang tamu.
"Kalau saja, mereka tak datang dengan baik-baik, tak ku racuni mereka. Untung datangnya baik-baik."
"Ish, apa yang kamu pikirkan Alena, setan mulai merasuki pikiranmu." Gerutu hati Alena menyadarkan dirinya sendiri. Alena kini mengaduk-ngaduk teh untuk tamunya.
__ADS_1
Perasaan tak tenang masih dirasakan Alena, wanita itu berusaha menarik napas, mengeluarkan secara perlahan, kedua tangannya membawa nampan berisi cemilan dan teh hangat yang baru saja dibuat dengan rasa kesal dan kebencian.
Kedua orang tua Lala sedang berbisik satu sama lain, membuat Alena merasa tak tenang. Seperti akan ada sesuatu yang membuat dirinya murka.
"Kenapa mereka saling berbisik seperti itu, kok aku nggak tenang kayak begininya. " Gumam hati Alena, perlahan ia meletakan napan di atas meja.
"Ini Bu, pak , diminum tehnya, " ucap Alena, menyodorkan minuman itu kepada tamunya.
Wanita tua itu terlihat mengedipkan kedua mata pada suaminya, membuat Alena bertanya. " Ayo, diminum, kenapa diam saja. "
Lelaki tua itu mulai memberanikan diri, "Bapak mau menceritakan sesuatu, bolehkah Alena," timpal Laki-laki tua dengan raut wajahnya yang terlihat begitu serius.
"Tentu pak," jawab Alena, dari kedatangan keduanya ia merasa tak tenang dan curiga.
"Sebenarnya, bapak menginginkan sekali Nak Raka menikah dengan Lala, apa kamu mengizinkan." ucap lirih bapak tua itu memperlihatkan raut wajah sedihnya.
Deg ….
Alena menatap raut wajah laki-laki tua itu begitu lekat, menahan emosi sebisa mungkin, agar mulut ini Alena tidak berkata kasar. Di depan kedua orang tua Lala.
Lelaki tua itu sudah merasa jika Alena akan marah.
Alena yang terlihat sopan, kini berdiri menatap tajam pada keduanya.
"Maksud bapak apa? Saya tak mengerti, apa yang dibicarakan bapak." tanya Alena berusaha mengendalikan emosinya dengan berkata lembut, berusaha tetap menjaga perkataan.
"Dulu, semasa Tasya masih sekolah, dia ingin dijodohkan dengan temannya bernama Raka, sedangkan bapak menolak karena Lala masih sekolah. Dan setelah Lala lulus sekolah, Lala masih meminta untuk bersama Raka. Namun bapak tetap menolak karena Nak Raka orang miskin tak punya apa-apa.
Bapak takut Lala tidak bahagia, maka dari itu bapak tak mengizinkan Raka dekat dengan Lala lagi saat itu juga, padahal bapak selalu menganggap mereka sebagai teman yang akrab, walaupun lebih, bapak akan anggap mereka saudara, adik dan kaka. Berbeda dengan Anak bapak, Lala yang menganggap Raka sebagai cinta sejatinya.
Lala anak yang penurut dan berbakti kepada orang tua, namun entah mengapa sikapnya sekarang menjadi seperti itu, suka melawan tak mau mendengarkan nasehat bapak.
Sampai sekarang Lala tak mau dekat dengan laki-laki, yang ia minta ingin bersama Raka, baginya Raka adalah harapan untuk tetap hidup.
Saat itupun bapak mencari keberadaan Nak Raka, namun bapak tak menemukan dimana Nak Raka berada.
Dari sana Lala sering mengurung diri, tak mau keluar rumah, sudah berapa kali bapak berusaha membujuk dia. Namun tak ada hasil.
Sampai saat itu ,tiba dimana bapak jatuh sakit, karena memikirkan Lala yang begitu terpuruk. Bapak tak bisa berjalan lagi sampai sekarang.
__ADS_1
Namun terlihat Lala bangkit lagi dari keterpurukannya, ia mau berkorban demi membiayai bapak yang sedang sakit.
Ya, Kenapa Lala bisa bersemangat lagi, ada seorang teman bernama Andi ia memberitahukan keberadaan Raka, dari sana ia begitu semangat dari berjualan online seperti baju dan barang lainnya, hanya untuk bisa mendapatkan perhatian lagi dari Nak Raka." Ucap bapak tua itu panjang lebar.
Alena hanya terdiam pilu tak berkata, apa-apa. Setelah mendengar masa lalu tentangan suaminya dan juga Lala.
"Bagaimana Nak Alena, bisakah Nak Alena mengizinkan Nak Raka menikah dengan Lala. Anak bapak." Ucap bapak tua itu memohon-mohon.
Kedua mata Alena berkaca kaca, ia tak sanggup melihat permohonan dari kedua orang tua Lala, ia juga tak mungkin mengorbankan dirinya demi kebahagian orang lain, itu tak mungkin bagi Alena. Karena ia juga berhak bahagia bersama dengan Raka dan anaknya.
Ia juga berhak menolak keinginan orang lain.
"Maaf pak, Alena hanya wanita biasa, Alena juga punya hati, Alena bukan malaikat, " Ucap Alena tegas, wanita beranak satu itu tak berani menatap wajah memelas Pak Haris.
"Bapak, mohon kepada kamu Nak Alena, apa perlu bapak bersujud di kaki kamu," balas laki-laki tua itu. Rela mengorbankan diri demi anak wanitanya.
"Maaf pak saya tidak bisa," ucap Alena tetap bersikeras dengan prinsipnya.
" Bapak akan berikan apa yang kamu minta, harta pun bapak akan berikan, kepada kamu, bapak mohon Nak Alena," permohonan bapak tua itu terus bergeming di telinga Alena, sampai ia terjatuh di kursi roda yang ia duduki, hanya untuk meminta izin kepada Alena.
"Sudah pak cukup, pak, jangan memohon-mohon pada saya lagi," ucap Alena membuat air matanya yang ia tahan tahan, akhirnya jatuh seketika mengenai kedua pipi.
Alena terpaksa mengusir kedua tamu yang memang dari awal tak membuat dirinya senang.
" Lebih baik, kalian pergi dari sini." Teriak Alena, tak kuasa menatap raut wajah orang tua Lala yang memohon-mohon, dan membuat orang tua Lala itu seketika tak berdaya.
Wanita tua yang menjadi istri Pak Haris kini berusaha menyadarkan suaminya.
"Sudah pak, lebih baik kita pergi dari sini, jangan memaksa, yang ada hati bapak akan terluka," Ucap wanita tua itu mengangkat tubuh suaminya.
"Ta-pi bu …." Pak Haris seperti tak terima pergi dari rumah Alena.
"Ayo pak. " Bu Lasmi mendorong kursi roda suaminya, menatap sayu ke arah Alena.
Mereka Pun berlalu pergi dengan kekecewaan yang mendalam.
Sedangkan Alena, mengacak rambut dengan kasar.
"Akhhhhhhhh." Teriak Alena sambil menangis pilu, menyalahkan dirinya.
__ADS_1
"Salahkah aku menolak, aku tak mau berbagi suami dengan wanita lain? "