Godaan Sahabat Suamiku

Godaan Sahabat Suamiku
Bab 19


__ADS_3

Dengan begitu angkuhnya, Lala menunjukkan diri dengan rasa percaya diri. Ia melihat ke sekeliling orang-orang yang telah mendoakan Ayah kandungnya, tersenyum lepas saat menatap Alena yang berdiri di samping Pujaan hatinya. 


"Mm, baguslah, ada wanita itu disini. Dan pastinya ada Kak Raka pujaan hatiku, " Gumam hati Lala.


Alena mengerutkan dahi, ia menatap Lala senyum senyum tak jelas ke arah suaminya. 


"Gila kek ya dia, senyum senyum sendiri sambil menatap Mas Raka yang sedang berdoa."  


Lala berusaha bersabar menunggu doa selesai dilantunkan,  ia kembali menatap Alena yang melihat dirinya penuh kebencian," lihat saja apa yang akan aku lakukan Alena. kamu tak tahu kalau aku  ini lebih pintar dari apa yang aku bayangkan." ucap Lala dalam hati seraya melemparkan senyuman liciknya pada Alena. 


Setelah pemakaman berakhir, dan doa dari pak ustad sudah selesai.


Bapak berjas hitam itu, perlahan melangkahkan kaki  datang bersama Lala untuk mengajak ngobrol pak ustad sebentar. 


"Permisi Pak Ustad, apakah boleh surat wasiat ini saya umumkan disini?" Tanya bapak eberjas hitam itu.


"Sebenarnya tak boleh, lebih baik di rumah saja, kasian sama almarhum!" Jawab Pak Ustad.


"Tapi Pak Ustad ini kemauan almarhum bapak saya." Timpal gadis itu membuat ibu-ibu disana makin penasaran dengan isi surat wasiat itu.


"Ya sudah kalau ini kemauan Almarhum Bapak Haris, silahkan."


Pak Ustad Pun memperbolehkan, bapak yang mengenakan jas hitam itu membacakan surat wasiat Almarhum Bapak Haris.


Alena yang sudah tak betah disana, kini menggerutu kesal dalam hati, " Sebenarnya surat wasiat apa sih, sampai harus diumumkan sekarang dan didengar banyak orang, aneh benar Pak Haris. "


"Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh."


Semua orang yang masih berdiri di pemakaman membalas salam dari lelaki berjas hitam itu. " Waalaikumsalam warahmatulahiwabarokatu. "


"Kepada para hadirin yang ada disini, untuk saudara atau selaku keluarga almarhum. 


 Yang menjadi adik dari almarhum,


 ‎saya akan menyampaikan surat wasiat yang di dalam tulis almarhum, sebelum almarhum meninggal."


"Ternyata dia adik almarhum Pak Haris ya, wajahnya nggak sama, yang ini kaya tukang nagih utang," ucap Alena, membuat Raka yang mendengar perkataan istrinya tersenyum dan menggelengkan kepala. 


"Almarhum berwasiat, harta gono gininya akan diberikan pada anak pertama dan kedua  yang bernama Anwar Aditya dan Lala Adelia. 

__ADS_1


Berupa, Mobil, Tanah , Rumah, dan lain sebagainya.


Namun di dalam tulisan ini.


Bapak Haris berpesan, Kepada Nak Raka agar mau menikahi Anaknya Lala Adelia.


Dan meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada Ananda Alena, agar menyetujui pernikahan Nak Raka dengan Anaknya Lala Adelia. Kalaupun Ananda Alena bersedia Harta gono gini yang diberikan pada Nona Lala, akan menjadi hak milik Ananda Alena sepenuhnya.


Sekian terima kasih dari Almarhum Bapak Haris."


Alena membulatkan kedua matanya, membuat ia berkata, " Heh, bapak berjas hitam kaya penagih hutang, mana ada surat wasiat kaya begitu. "


Lelaki tua itu terdiam, membuat suasana semakin  memanas. Apalagi para ibu ibu yang akan mereka jadikan bahan gosip. 


"Surat wasiatnya ko gitu sih." bisik para ibu ibu, mereka ikut terkejut dan pastinya membela Alena. 


"Bapak Haris kok agak sengklek ya kaya anaknya. Bisa bisanya mati, nyusahin orang. Minta suami orang nikahin anaknya. " balas ibu memakai baju putih bermotif kotak kotak, sembari mendelik kesal pada Lala. 


"Bukan nyusahin lagi, tapi bikin anak orang sakit hati, mana ada wanita ingin di dua jaman sekarang dan lagi. Sok soaan bahas harta gono gini, " timpal ibu ibu memakai baju hitam dengan perhiasan yang begitu ramai. Seperti toko emas berjalan. 


"Ya iya, harta gono gini dari mana, bukannya semua sudah habis, dan Pak Haris itu pengangguran?" 


"Aku geram bu, lihatnya. "


"Sama, si Lala titisan lakor ya. "


"Ya benar, kita harus hati hati. "


Semua orang menatap lekat menatap ke arah Alena, mereka lebih simpati pada Alena, sang istri sah. 


Bisik demi bisik begitu terdengar nyaring di telinga. Membuat Alena benar benar tak nyaman. 


"Oh ya Alena, bagaimana jawabanmu?" Tanya Lala mendekat, berusaha bersikap santai, jika dunia akan berpihak padanya saat ini. 


"Sayang loh tawaran mengejutkan, kapan lagi jadi orang kaya," Ucap lagi Lala, 


Membuat para tetangga jijik melihat gaya bicara Lala, yang pada kenyataanya tak punya apa apa. 


"Jangan mau, dibohongi si Lala, gayanya saja yang elit, nyatanya ekonomi sulit, " ucap Ibu ibu yang membela Alena. 

__ADS_1


Lala kesal dengan para ibu ibu yang ikut campur, " Jangan sok tahu kalian. "


"Ayolah Alena jawab, segituh ajah ko susah," Harta bapakku itu melimpah dan banyak, kalau aku sih, gak takut kehilangan harta bapakku, karena tau sendiri, harta ku sendiri juga banyak tak terhitung."


"Pert, mana ada si Lala hartanya banyak, sudah melarat sombong lagi." Ucap ibu ibu memulai gosip kembali.


"Emang ia nggak tahu malu, bisa bisanya ia ngaku kaya, kemarin masuk ke rumah sakit jiwa dibayar pemerintah," balas ibu ibu yang geram dengan wasiat Pak Haris.


"Pengennya laki orang. Si Lala emang benar benar, bikin malu warga kita. "


"Iyah ya, bu, kaya gak laku ajah tuh si Lala, jadi nyosor punya orang."


Bisikan ibu-ibu di pemakaman semakin merajalela. Membuat Lala tetap berpegang teguh pada pendiriannya.


"La, sadar dong, masa ia perawan pengen laki orang, lu mikir nggak sih. Kalau lu jadi anak gue udah gue pepes lu. "


Geram dengan salah satu ibu ibu yang berani mengatainya. " sudahlah ibu ibu, toh aku juga meminta izin terlebih dahulu. Apa salahnya, kalau aku di gerebek sama laki dia baru, bisa di sebut lakor. "


"Ya elah tetap saja sih, ke nggak punya harga diri. "


Ustad berusaha menenangkan perdebatan di pemakanan, " yang tenang ibu ibu, kita harus menghargai keluarga korban dan almarhum yang baru saja dimakamkan. "


"Ya tetap saja, Pak Ustad. Nggak patas di umumin di sini. "


"Huuh, iya benar. "


semua saling adu mulut, sampai dimana Pak Ustad berkata lagi, " diam ibu ibu. Kita lihat ketentuan sebelah pihaknya lagi. "


Alena masih heran dengan Lala, melihat gadis itu seperti tak punya rasa malu sedikitpun, apa ulat malunya sudah putus sampai lancang didepan orang merendahkan harga diri. 


 Bapak-bapak berjas hitam itu pun menanyakan kepada Alena. 


"Bagaimana Ananda Alena, apakah Anda bersedia, membagi suami anda dengan anak almarhum Bapak Haris?" Tanya lelaki berjas hitam itu.


Para tetangga pun kini melontarkan sebuah ucapan, " jangan deh, jangan mau."


"Iya, nanti kamu bakal nyesal. " ucap lagi para ibu ibu.


Lelaki berjas hitam itu, berusaha menunggu jawaban dari Alena.

__ADS_1


Apa jawaban Alena?


__ADS_2