
Menghela napas, itulah yang dilakukan
Raka saat itu, ia begitu bingung untuk memilih dari keduanya. Karena pilihannya begitu sulit, sebenarnya Raka dari dulu ingin sekali membahagiakan Alena dengan materi dan kekayaan.
Dan semua itu tak dapat Raka capai, karena putusnya sekolah dan kurangnya biaya, Raka hanya bisa menjadi orang biasa dan sederhana.
Hanya mengandalkan sebagai pegawai pabrik, dan gajinya pun tidak begitu besar hanya mampu membeli kebutuhan untuk makan saja, untuk membelikan perhiasan pun Raka begitu sulit.
Lala menyadari sesuatu dari Alena, "Tunggu." gadis itu kini menghampiri Alena, ia dengan lancangnya memegang jari tangan istri Raka itu.
Melihat dengan begitu teliti, Lala kini berucap. Ini kan, cincin yang mau diberikan Kak Raka kepadaku, kenapa ada di tangan wanita ini?"
"Maksud kamu?" Alena mulai menyingkirkan tangan Lala yang berani memegang tangannya.
"Ahahahh." Lala tertawa terbahak bahak di depan semua orang," jangan berpura-pura bodoh kamu, Alena!"
Mengerutkan dahi, Alena kini menatap ke arah suaminya.
"Papah, benarkah apa yang dibicarakan gadis ini, pah jawab?
Menekan Raka yang terlihat kebingungan membuat ia berkata "A-nu."
Raka malah terlihat gelisah, membuat Alena bertanya lagi.
"Ayo jawab? Kenapa malah gelisah seperti itu, apa jangan jangan kalian berdua."
Raka berusaha menjelaskan semuanya.
" Papah mohon kamu tenang dulu, mah, papah bakal jelasin. "
Alena yang sudah dibakar api cemburu dan amarah menggebu gebu pada hatinya kini membentak suaminya.
__ADS_1
"Jelasin, apalagi?"
Raka memegang kedua tangan istrinya, "semua tidak seperti yang mama bayangkan, percayalah pada papah. "
Lala melihat pemandangan dimana kedua insan itu berdebat, membuat ia bergumam dalam hati, " Bagus sekali, mereka masuk dalam perangkapku, sebentar lagi aku akan menikah dengan pujaan hatiku, Kak Raka. "
"Percaya, apa yang harus mama percaya, papah sudah membelikan cincin ini pada Lala. Papah benar benar keterlaluan."
Rasa sakit yang dirasakan Alena, membuat ia pergi dari keluarga Lala, ia berlari sambil mengusap-usap air matanya, yang dari terus mengalir jatuh dari kedua matanya.
Raka yang tak bisa tegas dalam masalah, kini berlari mengejar sang istri, dimana ia berteriak memanggil manggil Alena.
"Mama, tunggu. Jangan pergi. "
Lala mencari kesempatan di saat ia melihat masalah semakin memburuk pada Alena dan juga Raka.
Ia mengejar Raka, meraih tangan lelaki beristri itu.
Raka yang tak suka dengan tingkah Lala, membuat ia menghempaskan tangan gadis itu.
"Kak Raka," Teriak Lala mengepal kedua tangannya, terlihat raut wajah yang begitu kesal ia perlihatkan di depan keluarganya.
Saat Lala berlari, adik dari sang ibunda menahan tubuhnya.
"Lala, sudah hentikan " Bentak wanita tua yang terkulai lemah di kursi roda.
Lala yang tak terima dengan bentakan sang ibunda kini menjawab. Tanpa menoleh sedikitpun pada raut wajah sang ibunda.
"Sudah lah bu, ini urusan cinta Lala. Ibu tak usah urusin hidup Lala."
"Benar apa kata ibumu, Lala." Timpal Bi Layla.
__ADS_1
"Bibi nggak ngerti bagaimana perasaan Lala saat ini. "
Melihat Lala yang terus mengelak di depan keluarga membuat lelaki berbadan tegap berkata. "Hentikan ucapanmu, Lala."
"Iss, kalian ini," gadis itu melepaskan tangan Layla sang bibi, dan pergi dari hadapan keluarganya.
Namun, Paman Hari, menarik paksa keponakannya. Untuk berjaga jaga, agar Lala tidak mengejar Alena dan Raka.
" Lepaskan Lala, Om, ini kesempatan Lala untuk bisa bersama Kak Raka, jangan ikut campur terus." gadis itu menghempaskan tangan lelaki yang menahannya untuk pergi.
"Mas, kurung dia." Bentak Bibi Layla.
"Apa-apaan kalian, Hah, aku bukan anak kecil lagi." timpal Lala, berusaha memberontak.
"Sudah, kurung dia Her," ucap wanita tua itu. Yang menjadi ibunda Lala.
Paman Hari pun, menggendong paksa keponakannya, dan membawanya ke kamar, " Lepaskan Lala, om."
Memasukkan Lala ke dalam kamar, sang paman kini mengunci pintu kamarnya dari luar dan meninggalkannya sendirian.
"Om, buka," Teriak gadis itu menggedor-gedor pintu kamarnya.
Paman Hari berlalu pergi, dan mengabaikan teriakan sang keponakan.
Lala yang berada di dalam kamar, menggerutu kesal.
"Sial, aku harus pergi dari kamar ini, dan melanjutkan rencanaku."
Lala mencari cara untuk bisa mengejar Raka, sampai dimana ia melihat sebuah jendela kamar terbuka.
"Sepertinya aku harus kabur lewat jendela ini. "
__ADS_1
Gadis itu pun berencana kabur melalui jendela kamarnya.