Godaan Sahabat Suamiku

Godaan Sahabat Suamiku
Bab 27


__ADS_3

Alena tak menyangka jika nasib Lala akan seperti ini jadinya, ia mengira Lala akan meratapi nasib di dalam penjara, menjadi sosok pribadi yang lebih baik lagi. 


Namun pada kenyataanya, Lala malah depresi dan menjadi gila. 


Ketika Alena hendak menghampiri Lala di dalam sel tahanan.


Alena melihat gadis itu duduk sambil memeluk kedua lututnya, mendekat, memanggil Lala. " Lala."


Ia berdiri menghampiri Alena yang menghampirinya. " Kamu. "


Menarik kerah baju Alena, gadis itu langsung mencekik leher Alena, dan berkata. "Kamu harus ma-ti, biarkan suamimu bahagia bersamaku."


Alena berusaha melepaskan tangan Lala yang mencekik lehernya, sekuat tenaga untuk melepaskan genggaman tangan gadis itu.


"Jangan harap, gadis licik." dengan napas yang terengah, akhirnya Alena mampu melepaskan genggaman tangan gadis itu dari lehernya, dan membuat gadis itu terjatuh.


Tatapan mata kedua wanita itu saling beradu, seperti berkata dalam kata isyarat.


"Mama Kenapa?" Tanya Raka yang baru saja menghampiri  istrinya.


"Tidak, pah!" ucap Alena  menatap sinis gadis yang duduk di atas lantai itu.


Gadis itu memalingkan wajahnya dari tatapan sinis Istri Raka, dia hanya bisa mengepalkan kedua tangannya dan menahan amarah yang menggebu.


"Ayo kita pergi, pah. Takutnya nanti si Lala itu ngamuk." bisik Alena sambil menarik tangan suaminya.


Raka sekilas menatap wajah Lala yang terlihat menyedihkan.


"Ayo, pah. Kita pergi dari penjara ini, mama sudah nggak betah pengen cepat ketemu Putra. "


"Iya, mah. Ayo. "


Lala mulai berdiri, ia memegang jeruji besi. Dan berteriak. " Kak Raka, "


Memanggil Raka berulang kali, membuat Alena, menarik wajah suaminya. " Ayo kita pulang. "


"Aduhh, mah, sakit. "


Alena menempelkan kepala Raka pada ketiaknya, untuk tidak melirik Lala yang terus memanggil Raka berulang kali.


"Mama."

__ADS_1


Mereka Pun berlalu pergi meninggalkan Lala di dalam sel tahanan.


Baru beberapa langkah kaki mereka melangkah


Lala berteriak lagi, membuat sebuah ancaman pada Alena, " kau akan tahu akibatnya, Alena. Dasar wanita gila, tidak tahu diri. Jahat kamu. "


Alena hanya mengabaikan perkataannya, dan berlalu pergi meninggalkan gadis gila itu.


"Kenapa mama nekat menghampiri  Lala, tanpa ada polisi yang berjaga, kalau mama kenapa-napa bagaimana, " ucap Raka begitu mengkhawatirkan  istrinya. 


"Awalnya mama kira, Lala akan berubah, setelah berhari-hari di dalam penjara, tapi setelah  mama menghampiri dia, untuk berbicara baik-baik tanpa  satu orangpun yang tahu, dia malah makin menjadi." balas Alena menceritakan semuanya. 


"Terus? Mama nggak kenapa-kenapa kan?" Tanya Raka pada sang istri. 


"Tenang ko, mama, nggak kenapa kenapa!"


Balas Alena lelaki yang berada di sampingnya. 


"Syukurlah, ta-pi ini leher ko merah?" tanya Raka menatap leher berwarna merah itu, dengan begitu detail. 


"Alah, ini hanya merah biasa, nanti juga hilang sendiri." Alena berusaha berbohong di depan suaminya. 


"Apa jangan- jang ...." 


"Sudahlah ..., toh mama, di cekik juga bisa ngelawan, emang papah, lebay ... " sindir Alena sembari tertawa kecil.


"Lebay juga, ta-pi setiakan." ucap Raka sembari merangkul pundak istrinya.


Raka  mendengar ucapan istrinya yang dicekik, membuat ia terkejut, " Mama di cekik. "


"Sudahlah, yang terpenting mama sekarang nggak mati. "


"Mama kalau ngomong suka ngawur deh. "


Terlihat wajah Alena  sedikit memerah karena rayuan suaminya.


Raka mencubit pipi merah itu dengan berkata, " Mama ini, kalau di lihatin lucu juga ya. "


Namun, di tengah-tengah rasa bahagia mereka, Ibu Lasmi datang.


"Apa yang kalian lakukan, kepada anak saya? kenapa kalian menyetujui Lala  masuk rumah sakit jiwa! tanpa sepengetahuan saya." bentak wanita tua yang duduk di kursi roda, persis sekali seperti suaminya waktu itu.

__ADS_1


Terlihat raut wajah yang begitu marah dan menatap lekat terhadap  Alena. 


"Bu, Sabar dulu ya, biar kita jelasin." ucap Raka, mencoba menenangkan amarah wanita tua itu.


"Jelaskan apa lagi, baru saja saya datang ke penjara, pihak polisi sudah mengabarkan bahwa Lala sudah dialihkan ke rumah sakit jiwa." balas Bu Lasmi dengan nada sedikit meninggi. 


"Bu, kami terpaksa melakukan semua itu, demi kebaikan Lala, ibu tidak mau kan punya anak gila. " timpal Alena, pada Bu Lasmi yang masih menanam kebencian. 


"Diam kamu, semua ulah kamu. " Pekik Bu Lasmi pada Alena. 


Wanita tua itu, berusaha melembutkan suaranya, dimana ia berkata. 


" Nak Raka, yang ibu harapkan dulu, kamu tidak menikah dengan Lala. Ta-pi sekarang ibu berubah pikiran, kamu harus menikah dengan Lala, agar Lala tidak menjadi gila karena kamu Raka." teriak wanita tua itu sembari menangis, memegang tangan Raka. 


Alena kesal dengan wanita tua yang asal bicara itu, "Eh, bu, jelas-jelas, suamiku tak mau menikahi, anak ibu, sudah jelaskan anak ibu sudah, terbukti gila." timpal Alena, membuat wanita tua itu  menangis sejadi-jadinya.


"Maaf sebelumnya, Nak Alena, kenapa kamu begitu sulit untuk berbagi suami dengan anak saya, kasihanilah Lala, dia anak baik, yang dia inginkan, hanya mendapat cinta dari Raka, walaupun hanya sedikit." sahut Bu Layla, membela kakaknya. Wanita yang menemani Bu Lasmi dari tadi. 


"Anak baik, kalian bilang dia anak baik, terus apa yang selama ini dia lakukan, kepada anakku, dia menculik putra, kalian masih bisa bilang dia anak baik, pikirlah sekali lagi, keluarga macam apa kalian membuat anak sendiri, seperti itu." timpal Alena, sedikit menahan amarah.


"Diam .... " teriakan Bu Lasmi.


"Sudah lah, tak ada gunanya ibu memohon, kepada kami, karena saya sebagai laki-laki tak akan menikahi Lala." ucap tegas Andi.


"Liatkan, apa kata suami saya." timpal Alena sembari menggandeng tangan suaminya, dan meninggalkan mereka berdua.


"Kalian ini, tak punya hati nurani." Teriak wanita tua ini seketika menghentikan langkah kaki suami istri itu.


Suami istri itu hanya terdiam sejenak, dan berkata.


"Kami, bisa saja mengeluarkan Lala dari penjara, dan mencabut semua gugatannya. Dan tidak akan memasukan Lala ke dalam rumah sakit jiwa, ta-pi saya tidak akan menikahi Lala  sampai kapanpun."


Mereka pun melanjutkan langkah kaki , dan terdengar Ibu Lasmi menangis sejadi-jadinya  dan berteriak, menyebut-nyebut nama Alena. 


"Kau akan tahu akibatnya Alena, wanita tak tahu diri, tak punya hati nurani."


Alena berusaha tetap tenang melangkah kaki bersama suaminya, " kamu jangan sampai terpancing perkataan Bu Lasmi, sebaiknya kita pergi saja biarkan dia berbicara apapun. "


"Tapi, pah. Perkataanya itu sangat keterlaluan, mama tak terima, mama ingin menutup mulut wanita tua itu dengan lakban. "


"Mama, tidak ada gunanya kita melawan, sudah sebaiknya kita pergi saja. Biarkan saja Bu Lasmi mau ngomong apa pun. "

__ADS_1


Alena menggepalkan kedua tangan, berusaha mengatur napas, agar tetap setabil.


__ADS_2