Godaan Sahabat Suamiku

Godaan Sahabat Suamiku
Bab 20


__ADS_3

Bu Lasmi keluar dari mobil, ia baru saja sadar dari rasa trauma dan kesedihannya. Menghampiri perdebatan di pemakaman sang suami, kini Bu Lasmi angkat bicara. "Tidak ada wasiat yang diberikan Bapak Haris seperti itu."


Bu Lasmi menunjuk ke arah anak keduanya, " Kamu Lala, yang membuat surat wasiat palsu itu."


Anwar berusaha menenangkan sang ibunda, " sudah bu, ibu harus tenang. "


"Wanita tua itu," gerutu Lala, mengepalkan kedua tangan kesal melihat kemunculan sang ibunda. 


"Lala, sudah cukup. Jangan kamu membuat sesuatu yang tidak maksud akal yang malah merugikan orang lain, kamu ini harus sadar dari kesalahan dan kebodohan yang kamu buat, bapak meninggal karena kamu," Nasehat terlontar dari mulut sang kakak, yang malah salah diartikan oleh Lala.


"Jadi Kakak salahkan Lala, kakak lebih membela si Alena ini. " balas Lala kecewa. 


"Bukan seperti itu, kakak hanya ingin kamu sadar, please hentikan kekonyolan ini. Yang ada kamu rugi sendiri. " Tutur lembut sang kakak malah membuat Lala menunjuk kesal. "Aku tak perduli kak. "


Raka kini  menghampiri Pak Ustad, menyuruh Pak Ustad membubarkan para tetangga dan saudara yang berada di pemakaman. Biar pihak keluarga untuk meneruskan pembicaraan  dan urusan keluarga Almarhum Pak Haris di rumahnya saja, karena jika dilanjut di pemakanan  akan memicu perdebatan. Yang membuat orang orang salah mengartikan, dan ditakutkannya lagi berujung fitnah. 


Kasian orang-orang yang  sudah meninggal disana mereka butuh doa, bukan keributan. Pak Ustad paham dengan penjelasan yang dibicarakan oleh Raka, dia mulai memberitahu kepada para tetangga dan saudara yang berada di pemakaman itu. 


"Untuk bapak-bapak dan Ibu-ibu sebaiknya kita pulang saja, dan untuk keluarga almarhum sebaiknya dibicarakan di rumah saja."Ucap Pak Ustad.


"Baiklah pak."


Semua orang yang ada di pemakaman, setuju, agar masalah keluarga dibicarakan di rumah keluarga. 


Karna itupun mengandung aib almarhum yang sudah meninggal.


*******


Di dalam rumah Ibu Lasmi, semua orang berkumpul, mendengarkan wasiat yang sebenarnya.


Bu Lasmi, membaca surat yang dituliskan almarhum suaminya semasa hidupnya.

__ADS_1


Ketika  hendak membaca wasiat itu, Bu Lasmi tercengang kaget, kenapa wasiat yang diberikan suaminya, berbeda sekali dengan yang diucapkan waktu itu kepada Bu Lasmi.


"Ayolah bu, segera baca, kenapa diam saja." Sahut Lala tak lupa menampakkan senyum manisnya di hadapan sang ibunda. 


"Akhhahh, ibu tak tau kalau surat wasiatnya sudah aku ganti dari tadi pagi, untung saja, ibu pergi ke pemakaman, dan data surat bapak bisa aku ganti." Gumam Lala dalam hati. 


"Kak kenapa, kok nangis," Ucap Layla wanita yang menjadi adik dari almarhum.


Layla pun merangkul pundak kakaknya, dan menenangkan disaat itu juga. 


"Biar Layla yang bacakan suar wasiat dari Kak Haris."


Layla mengambil berkas dari tangan Bu Lasmi. 


"Loh ini surat wasiat Kakak Haris, sama toh kak, seperti yang dibaca sama Lala di pemakaman tadi."


Terkejut membuat Layla menutup mulutnya yang mengagah. 


"Ya elah bu, sudah tau dari wasiatnya tulisannya kaya gitu, masih ajah ibu ngelak," ucap Lala begitu lantang.


Ibu Lasmi  dan keluarga hanya bisa pasrah, dengan ketentuan  surat wasiat yang dituliskan  almarhum semasa hidup. 


Dimana  bapak berjas hitam itu menanyakan lagi, keputusan Alena. Setuju atau tidak?


Lala menghampiri Alena yang hanya terdiam membisu, seperti mulut susah mengatakan sesuatu. 


Lala yang tak sabar dengan jawaban Alena, membuat ia berbisik pada  telinga Alena.


"Bagaimana, kamu setuju apa tidak Mbak Alena. Kalau kamu tidak setuju kemungkinan besar bapak di alam sana akan menghantui kamu. "


Alena mendorong tubuh Lala, hingga gadis itu terjatuh dan disaksikan oleh banyak orang. 

__ADS_1


"Alena, berani kamu menyakiti Lala," pekik Alex membantu Lala untuk berdiri.  Dimana gadis itu menangis tersedu sedu. 


Raka terkejut dengan apa yang dilakukan istrinya, "Mama, kenapa kamu lakukan itu," ucap Raka, sedikit  terdengar bernada tinggi. 


Semua orang yang ada disana menatap ka arah Alena, menunggu jawaban yang akan dilontarkan wanita itu.


Lala berucap lagi.


"Ayolah Alena tinggal jawab aja setuju, biar nanti kamu merasakan gimana rasanya jadi orang kaya, dan Kak Raka akan melihat sang istri bahagia dengan kekayaan nya, tak akan mendengar lagi yang namanya kekurangan duit. "


Dengan ketegasan yang dimiliki oleh Alena, wanita beranak satu itu kini menjawab perkataan Lala. 


"Lala, jangan harap aku mau menyetujui wasiat bapak kamu itu." Alena menatap ke arah Raka  dan bertanya," Sekarang aku tanya padamu mas, kamu pilih aku atau dia."


Siapakah wanita yang akan dipilih oleh Raka? 


Raka menghela napas, di mana Bu Lasmi menatap ketiga orang yang berada dalam masalah.


Wanita tua itu perlahan berjalan, mendekati Raka yang penuh dengan rasa bimbang antara memilih dari salah satu yang akan ia pilih.


"Nak Raka, keinginan dari hatimu. "


Bu Lasmi memang terkesan ibu yang bijak, yang selalu menasehati dan mencari jalan yang tidak pernah merugikan orang lain.


"Lala, akhirilah kebodohan ini. "


Perkataan wanita tua itu tak dijawab sama sekali oleh anak keduanya.


"Lala, kamu tak mungkin menghancurkan rumah tangga orang lain."


semakin nasehat itu terlontar dari mulut Bu Lasmi, semakin kesalah Lala, " Aduhh, bu berisik, sudahlah. IBu tak usah ikut campur biarkan Kak Raka yang memilih di antara kita berdua. "

__ADS_1


__ADS_2