Godaan Sahabat Suamiku

Godaan Sahabat Suamiku
Bba 23


__ADS_3

"Hey, Mbak?" Sapa seseorang memegang pundak gadis yang sedang mengintip rumah Alena.


Gadis itu, terkejut dan menoleh ke arah orang yang menyapanya." Eh, ya!"


"Ngapain?" Pertanyaan wanita paruh baya membuat Lala gelisah, ia takut jika nanti wanita itu memberitahu dirinya yang sedang mengintip. 


"Eh Mbak, A-nu  saya .... "


Lala ragu dengan wanita yang baru saja ia kenal, padahal terngiang di kepala gadis licik itu, menyusun rencana jahat dengan meminta bantuan pada orang yang mau melakukannya. 


"Loh, Mbak malah melamun. "


Tak mau berlama lama, Lala mencoba bertanya pada wanita yang ada di hadapannya. 


"Mbak, kenal wanita yang ada di rumah itu? "


"Oh itu, Mba Alena, tetangga saya, emang kenapa!" jawab sosok wanita paruh baya itu terlihat ramah di depan Lala. 


"Gini Mbak," Lala tak ingin rencananya di dengar orang, pada akhirnya ia membisikan rencana  kepada orang yang ia baru saja kenal.


Mendengar perkataan Lala, membuat wanita itu tertarik dan ingin mencobanya. 


"Oh, bisa Mba, asal bayarannya sekarang, gimana? " Tanya wanita paruh baya yang tertarik dengan tawaran Lala, karena ia kurang suka dengan Alena. 


Lala mulai merogoh tas yang berisi uang, bernominal sepuluh juta, ia sengaja membawa uang cash untuk melakukan aksinya. 


"Oke, nih tiga juta langsung aku bayar, ingat jangan sampai gagal."


Membuat wanita paruh baya itu kegirangan. 


"Oke!" Memperlihatkan jempol tangan. 


Saat wanita paruh baya itu mulai bereaksi dengan aksinya, saat itulah Lala mulai memegang tangan wanita paruh baya itu, " yang memberi sebuah peringatan dengan berkata, "Kalau sampai gagal, aku akan bikin perhitungan sama kamu."


"Baik." Tak ada rasa takut sedikitpun pada wanita paruh baya itu, ya begitu terlihat sampai saat menjawab perkataan Lala. 


"Gimana?" Lala berusaha bertanya dengan begitu tegas agar dirinya tak kecewa. 


"Setuju." Perkataan setuju itu membuat Lala senang, yang melipatkan kedua tangan bergumam dalam hati, " Siap siap, Alena. "


"Saya pamit dulu. "


Akhirnya mereka berjabat tangan. Untuk bisa bekerja sama, jangan sampai membocorkan satu hal yang malah melibatkan mereka berdua. 


Setelah kepergian wanita paruh baya itu, Lala hanya menunggu di balik pohon besar yang menutupi tubuhnya, dia melihat gerak-gerik tubuh wanita paruh baya itu. 

__ADS_1


"Akhah, tak perlu susah payah untuk membuat anak itu jatuh di tangan ini." ucap Lala sembari ngintip suruhannya.


Rasa tak sabar menyelimuti hati Lala saat itu, Iya tak sabar ingin segera melihat suruhannya membawa bayi mungil Alena. 


Menatap jarum jam beberapa kali, membuat rasa bosan menyelimuti hati Lala yang terus menunggu di balik pohon besar. 


"kemana lagi dia. "


Sampai 5 menit kemudian. 


Terlihat dari kejauhan, ternyata suruhan Lala berhasil membawa bayi Alena keluar, dan bergegas membawa ke pangkuan Lala. 


Terdengar suara terengah-engah pada wanita tua itu, sepertinya ia kelelahan karena berlari sembari menggendong bayi Alena. 


"Ini Mbak, sudah saya dapatkan anaknya." ucap suruhan itu sembari memberikan anak Alena kepada gadis bernama Lala. 


Menggendong bayi milik Alena membuat Lala tersenyum bahagia, Ya sudah membayangkan bahwa dirinya akan menikah dengan Raka, setelah Lala bisa melenyapkan bayi mungil itu. 


"Oke, nih aku tambah uangnya," gadis itu pun menyodorkan lagi uang yang ia ambil dari tasnya.


"Waw, makasih Mbak." Uang yang diberikan Allah benar-benar sangat banyak, membuat wanita tua itu semakin senang dan juga takjub dengan pemberian Lala. 


Lala mulai memberitahu wanita tua itu, "Dan ingat jangan sampai semua orang tau."


"Oke Mbak,"  dengan santai Sambil menghitung lembaran uang merah. 


Wanita paruh baya itu menggelengkan kepala dia berkata," uang yang anda berikan pada say sangat cukup.


"Baiklah kalau begitu."


"Kalau begitu saya pamit, Mbak. "


Suruhannya itu pun berlalu pergi meninggalkan Lala  yang sedang menggendong bayi.


"Cukup mudahkan, kalau untuk urusan ginian, uang pun bisa menolong," ucap Lala sembari menatap wajah bayi dalam pangkuannya. Lala berusaha mencari cara untuk mengurus bayi itu beberapa hari, karena dirinya tak mungkin mengurus bayi yang dia tak suka sama sekali. 


Ia mencoba mencari seseorang yang mampu menolongnya saat itu, sampai Lala teringat dengan sosok Alex yang selalu mendukung dan juga membelanya. Lala tak sabar sekali ingin segera pergi dari lingkungan Raka, Iya takut jika ada orang yang mengetahui dirinya. 


Menghela napas Lala mengambil ponsel dalam tasnya, dan menelpon seseorang yang mungkin bisa ia percaya. 


Tidak butuh waktu lama untuk menunggu Alex mengangkat panggilan teleponnya


"Halo, Alex, jemput aku sekarang juga."  Lala sangat berharap sekali. Jika Alex mau membantunya lagi. 


Alex mulai menanyakan keberadaan Lala yang berada dimana,

__ADS_1


"Dimana kamu sekarang, aku akan datang sekarang juga.?"


Lala kini  melihat ke sekelilingnya, mencari nama tempat dirinya berada. Dan, " Aku di jalan anggrek dekat setasiun!"


"Oke, aku kesana."


"Cepat ya, aku tak mau berlama lama di daerah sini."


"Iya."


Mematikkan sambungan telepon sebelah pihak. Lala bergegas pergi berjalan kaki.


Tak jauh dari tempat keberadaannya sekarang, gadis itu berjalan cepat menuju setasiun, sambil menggedong bayi mungil itu dalam pangkuannya.


Bayi mungil itu tiba-tiba saja menangis karena merasa tak nyaman saat digendong oleh Lala, merasa tak terbiasa dengan tangisan bayi mungil itu, Lala berusaha menghela napas lalu berkata, " kamu jangan menangis, kalau kamu menangis terus aku bisa mencekikmu saat ini juga. "


Perkataan Lala membuat suara klakson berbunyi di belakang punggungnya


Tid ... Tid ....


Ternyata sosok itu datang, menghentikan mobil tepat di samping Lala. Membuka pintu mobil dan berkata."Lala , ayo naik"


Gadis itu bergegas memasuki mobil Alex, dengan terburu-buru. Dia takut jika orang lain tahu bahwa dirinya sudah menculik seorang bayi.


Saat duduk di dalam mobil, Alex terkejut melihat bayi mungil itu dalam pangkuan Lala. Membuat ia bertanya dengan rasa ragunya. "La, bayi siapa itu?"


Lala malah tertawa menjawab perkataan Alex.


"Kamu mau tahu, ini bayi siapa!


Alex menganggukkan kepala dengan rasa penasarannya, di mana Lala melanjutkan perkataannya di depan Alex." Ini anaknya Alena, aku akan bawa dia untuk rencanaku."


"Kamu gila La, tak seharusnya kamu berbuat seperti itu, aku tak setuju," Alex terkejut dengan rencana gila yang dilakukan oleh Lala


"Memang aku gila, gila karna cinta." membulatkan kedua matanya membentak Alex, membuat tangisan bayi itu semakin terdengar kencang.


"Ini sudah jatuhnya kriminal Lala, kamu bisa masuk penjara, dan juga kamu tidak kasihan terhadap bayi itu, yang dari tadi terus menangis menginginkan ibunya. "


Lala yang tak suka dengan nasehat Alex kini berucap tegas.


"Kamu mau, ikut rencanaku, atau." Lala mengeluarkan sebuah pisau dalam tasnya ," pisau ini bisa saja menusuk dada bidang ini,.Jika kamu tidak mau menuruti keinginanku. " sembari menunjuk-nujuk pisau yang gadis itu pegang.


Pada akhirnya Alex menurut dan berkata. " Baiklah. "


"Perset**n dengan penjara." Teriak Lala di dalam. Mobil.

__ADS_1


Tangisan bayi itu terus saja terdengar di telinga Alex, membuat rasa kasihan tumbuh pada hatinya pada bayi itu, Alex yang tengah mengendarai mobil, dengan sigap merai ponsel dalam tas celananya, tanpa Lala tahu.


Dia pun memberitahu lokasi dirinya berada, agar Alena dan Raka menyusul, sembari membawa polisi.


__ADS_2