Godaan Sahabat Suamiku

Godaan Sahabat Suamiku
Bab 25


__ADS_3

Raka yang melihat kesedihan istrinya, kini menangis, merangkul bahu Alena dengan berkata, " Sudah, jangan bersedih lagi, ayo kita pulang. "


Alena menganggukkan kepala, mereka kini menaiki motor, " kamu yang tenang ya, sekarang Lala sudah diamankan di kantor polisi. "


"Mudah mudahan dia sadar pah, dari kesalahannya. "


"Amin, papah juga berpikir seperti itu. Tapi Lala malah menjadi jadi, papah kadang bingung kenapa dia tidak tahu malu dan tak menerima jika papah ini sudah mempunyai anak dan istri. "


Sampai di depan rumah, keduanya melihat sosok seorang wanita memakai kerudung duduk di kursi dekat pintu rumahnya. 


"Kaya ada orang, pah. "


Turun dari motor, melihat orang itu.  Raka dan Alena terkejut, jika sosok yang duduk menunggu mereka adalah Bu Lasmi. 


Kedua mata wanita tua itu berkaca kaca membuat Alena bertanya?" Ada apa ya, bu. "


Kedua mata yang berkaca kaca itu tiba tiba berubah, terlihat jika Bu Lasmi kesal dan marah pada Alena. 


"Kamu." Telunjuk tangan menunjuk ke arah wajah Alena, " apa yang sudah kamu lakukan pada anak saya? kenapa kalian memenjarakan anak saya, Lala!" Bentak Bu Lasmi pada keduanya. 


Emosi wanita tua itu terlihat meluap luap. 


"Tenang bu, anak ibu sedang ditangani polisi untuk beberapa waktu, karena anak ibu melakukan tindakan  penculikan anak!" jawab Raka, berusaha menjelaskan semua kesalahpahaman yang terjadi. 


Namun Bu Lasmi seperti tak menerima, ia mendelik kesal menunjuk kembali wajah Alena. 


"Ini semua gara-gara kamu Alena, kamu menghancurkan keluarga saya, kamu buat suami saya mati, dan sekarang anak saya kamu buat dia masuk ke dalam penjara." Teriak Bu Lasmi meluapkan semua kekesalan yang ia pendam selama ini, Alena berusaha tetap tenang, tidak terpancing akan emosi dan perkataan Bu Lasmi. 


"Bu, ibu tenang ya. Biar kita jelasin baik-baik." ucap Raka berusaha membujuk wanita tua itu dengan berkata lembut. 


Namun Bu Lasmi bukannya tenang, ia malah semakin menjadi jadi. 


"Alena, kalau saja kamu tak menolak apa yang dikatakan suami saya, semua ini takkan terjadi. Suami saya pastinya masih hidup dan anak saya bahagia."


Baru saja Alena bersedih dengan insiden penculikan anaknya oleh Lala, kini Alena dihadapi dengan perkataan menyakitkan yang dilontarkan oleh Bu Lasmi. 


 Tanpa Alena sadari, ia menangis meneteskan air matanya, " Bu, saya melakukan semua ini, karena saya berhak bahagia, bukan anak ibu saja. "


Plakk ….


Tamparan keras melayang  begitu saja dari tangan Bu Lasmi pada pipi Alena," Saya hanya meminta kamu berbagi suami saja, tidak lebih. Tetap saja kan kamu akan merasa bahagia. "


Perkataan yang tak pantas dikatakan oleh seorang ibu.  Membuat Alena tak tahan." Bu, kita ini sama sama wanita, kita juga berhak menolak bukan? kenapa ibu seolah olah mengatur dan menekan saya. "

__ADS_1


"Saya tidak menekan kamu, tapi saya ingin kamu mengerti kebahagian anak saya dan suami saya!"


"Ckk, mengerti kebahagian ibu. Hey, bu. Anda siapa saya, keluarga, saudara, teman. Bukan, untuk apa saya mengerti kebahagian ibu benar benar lucu anda kalau bercanda. "


Alena tak peduli dengan hati wanita tua di depannya, ia kesal. Tak bisa menahan lagi emosi yang sudah mengumpul di kepala. 


"Kamu."


"Apa bu. Saya kira ibu itu orang yang baik, yang bisa menasehati anaknya, untuk sadar. Tapi, ibu sama saja, tidak tahu diri seperti anak ibu. "


Tangan Bu Lasmi mulai melayang pada pipi kiri Alena, namun, dengan sigap Raka menepis tangan itu. 


"Bu, Alena istri saya. Saya tidak ridho jika ibu menyakiti atau menyentuh istri saya dengan tangan kotor anda itu. "


"Kalian ini. " Bu Lasmi berusaha mengontrol emosi. 


Dimana Putra tiba tiba menangis, membuat Alena   pergi meninggalkan wanita tua itu.


Ia sudah malas berdebat dan membahas lagi Lala. 


Bu Lasmi yang melihat langkah Alena kini berkata. ""Kemana kamu?"


Raka yang tak suka dengan Bu Lasmi, kini berusaha tetap bersikap sopan. 


Bu Lasmi malah menatap tajam ke arah Raka, membuat ia menjawab. 


"Alah, diam kamu Raka."


"Bu."


Mencoba menghargai yang lebih tua," bu. Maaf sebelumnya, izinkan kami beristirahat sekarang sudah malam. Sebaiknya ibu pulang ya. "


Bu Lasmi malah sengaja, berteriak," Alena, asal kamu tahu ya, kamu wanita yang tak punya hati nurani, kamu wanita jahat."


Raka berusaha beristighfar dalam hati, agar hatinya tetap tenang dan tak berani menyakiti hati wanita tua itu. 


"Bu, tolong, pulang dari sini. "


Mendelik kesal, karena sudah puas memaki-maki Alena, wanita tua itu pun berlalu pergi dengan kekesalan yang mendalam.


"Akhirnya wanita tua itu pergi. "


Raka mulai membuka pintu rumah, terlihat sang istri sedang menidurkan anaknya satu satunya.

__ADS_1


"Sayang, kamu baik baik saja kan?"


Alena mengusap pelan air mata, " kamu menangis!" Pertanyaan Raka membuat Alena, mengindar setelah melihat Putra tertidur nyenyak.


Wanita itu bangkit dari tempat tidur, membuat Raka menarik tangannya.


"Apa sih. "


kedua bibir Alena mengkerut, ia berusaha mengalihkan pandangan dengan berkata. " Aku cape, lelah, sudah jangan ganggu. Mau tidur. "


Raka mencoba merayu sang istri dengan mencium bibirnya.


"Issh, sudah pergi sana. "


Alena berusaha pergi dari pelukan suaminya, ia berkata, " lepaskan. "


"Nggak akan. "


"Lepaskan."


"Papah akan melepaskan mama, jika mama mengatakan apa yang mama tangisi."


Keduanya bangkit, duduk bersamaan, saat itulah Alena bercerita pada sang suami.


"Mama cape pah, disalahkan terus, gara gara papah tidak mau menikahi Lala. Mereka itu mengganggap mama itu wanita jahat. Padahal mama berusaha melakukan apa yang menurut mama baik, mama juga ingin bahagia. Mama tidak ingin berbagi suami dengan wanita lain, mama tidak mau, mama tidak bisa."


Pelukan kini dilayangkan lagi oleh Raka, " apa yang mama lakukan itu sudah benar, mereka nya saja yang tak tahu diri, dipaksa bagaimana pun. Papah nggak bakal nikahin Lala. Papah sudah menganggap Lala sebagai adik papah."


Melepaskan pelukan Raka, Alena kini menatap dalam dalam wajah suaminya, " jadi papah dukung mama? Papah setuju dengan perkataan mama?"


"Dari dulu papah selalu dukung mama kok, mama ini masih saja tanya. Sudah jangan sedih lagi, kalau Bu Lasmi mengatakan sesuatu yang menyakiti hati mama, papah akan maju paling depan melawan Bu Lasmi. "


Brakkk ....


Saat menikmati obrolan, tiba tiba satu buah batu menebus kaca rumah, membuat Alena dan juga Raka terkejut, mereka bangkit dan melihat siapa orang yang sudah berani melepar batu kejendela rumah.


"Sialan, siapa itu. "


Raka berusaha mengecek, sampai dimana ia melihat sosok seperti wanita berlari menjauh dari rumahnya.


"Hey, tunggu. Siapa kamu. "


Berteriak, sampai?

__ADS_1


__ADS_2