
Sudah satu bulan lamanya, Juna mencari jejak Hana yang menghilang. Juna berpikir dengan keras bahwa nasibnya memang telah ditakdirkan seperti ini.
Sulit.
Merana.
Tak ada Cinta.
Tak ada ketulusan.
Selama itu pula ia banyak menghabiskan waktunya sendiri di perpustakaan kampus dan tentunya ia mulai menarik diri dari segala aktivitas sosialnya.
Melihat perubahan sikap dan mental Juna yang drastis, Angga dan Nining sangat sedih. Mereka pun berusaha memahami Juna dan menyemangatinya. Mereka pun dengan ikhlas memaafkan semua yang telah terjadi.
Mereka juga dengan setia mendukung Juna di segala kesempatan, tentunya dengan segala kekuatan yang mereka miliki.
"Hei Jun, boleh kita gabung? kita ini teman kan?" ucap Angga memulai pembicaraan dan mencairkan suasana.
"Yup! ada aku juga disini Abang ganteng. hehehe" sambung Nining yang ternyata tidak membencinya Juna.
Juna pun mulai bisa tersenyum walaupun hanya sedikit. Juna terharu melihat mereka berdua yang tanpa memandang gaya, mereka menyayangi Juna secara tulus.
"Terimakasih teman-teman." ucap Juna terharu.
_________________####_________________
Waktu semakin cepat berlalu dan tak terasa hidup sebagai mahasiswa jurusan Fashion Designer pun harus segera berakhir.
Setahun setengah mereka melewati masa-masa pendidikan sehingga akhirnya bisa menyelesaikan seluruh tugas sebagai mahasiswa. Angga serta Nining pun bersama-sama menyelesaikan studinya dan dengan ini mereka dinyatakan lulus.
Juna berhasil menjadi lulusan terdepan dengan nilai IPK nyaris sempurna karena usahanya yang fokus dalam pendidikan. Ia pun mewakili seluruh mahasiswa menjalani upacara wisuda dengan khidmat dan juga menjadi perwakilan sebagai lulusan terbaik yang memberikan pidato singkat.
"Terimakasih banyak... selama ini semua bapak dan ibu dosen telah memberikan kontribusi baik bagi kami dan juga mengajarkan kami banyak hal.
Maafkan saya secara pribadi karena memiliki banyak sekali kekurangan dan selalu menyusahkan banyak orang. saya berharap semuanya akan menjadi sukses di luar sana.
Saya sadar begitu banyak yang menyayangi saya. Saya sangat mengerti, dan ini sebagai motivasi saya untuk bisa berada di podium ini hari ini juga.
__ADS_1
Sekali lagi, semangat untuk meraih masa depan gemilang! saya mencintai kalian semua. Salam hormat untuk pak rektor dan seluruh civitas akademika."
Begitulah pidato yang disampaikan Juna saat itu. Sambutan hangat dan teriakan histeris para mahasiswi pecah saat Juna menyampaikan pesan terakhirnya di kampus itu.
Juna bersalaman dengan seluruh dosen dan tentunya Rektor kampus itu. Sementara Angga dan Nining menangis terharu melihat temannya itu bisa berdiri tegap di podium khusus acara wisuda tersebut.
Sambil berfoto bersama dosen serta rektor, Juna melirik ke arah kursi tribun dimana Angga dan Nining duduk.
"Terimakasih Angga, Nining... kalian membantu menghilangkan masalahku dan juga berkat kalian, aku sanggup menata masa depan baruku." gumam Juna di hati kecilnya.
Sementara itu Angga dan Nining tak kuasa menahan air mata haru dan juga mereka berdua memberikan tepuk tangan untuk Juna yang berhasil keluar dari masa-masa sulit selama di kampus itu.
_________________####__________________
Setahun kemudian, Juna menjabat sebagai direktur utama dari perusahaan ternama CeSt. CeSt merupakan Industri Fashion yang berhasil menelurkan banyak fashion item seperti Outer wear, Bag, dan masih banyak lagi.
Semenjak bergabungnya Juna, perusahaan itu mengalami peningkatan profit yang signifikan dibandingkan sebelum dirinya bergabung.
Sang ayah sangat memuji kinerja Juna dan ia merekomendasikan Juna untuk menjadi Komisaris. Didukung dan disetujui oleh seluruh dewan Direksi yang bertujuan untuk meningkatkan popularitas CeSt di Asia bahkan seluruh dunia.
Arya Bram tentunya begitu bangga dan sangat setuju dengan putusan tersebut. Ia pun pensiun lebih dini guna memberikan kesempatan itu pada anak kebanggaan nya.
"Bisakah aku menggantikan posisi ayah untuk lebih maju membangun CeSt? apakah aku bisa menghandle semua?" Tanya Juna pada dirinya sendiri.
__________________####________________
Di ruangan kantor nya yang kini menjabat sebagai Komisaris, Juna nampak sibuk menyusun berkas-berkas mengenai fashion garmen yang disodorkan para Direktur bagian untuk ditinjau olehnya. Ditemani oleh bunyi telepon kantor yang terus berdering menambah kesibukan Juna yang semakin tak terkendali.
Disaat kesibukan itu melanda, tiba-tiba dikejutkan dengan suara ketukan pintu.
"Masuk saja." Ucapnya simpel sambil terus menyusun berkas-berkasnya di atas meja kerjanya.
"Pak Komisaris, dokter dari bagian psikiater datang ingin menemui bapak, apakah anda akan mempersilahkannya untuk masuk? ucap sang sekertaris Juna dengan sangat hormat.
"Ya. silahkan masuk." Ucap Juna tegas. Ia segera beralih tempat duduk ke kursi sofa khusus menyambut tamu.
Seorang nenek tua yang wajahnya sudah tak asing lagi baginya datang menghampiri nya.
__ADS_1
"Oke pak, mari kita periksa perkembangan terbaru kesehatan mental mu." Ucapnya simpel sambil mengeluarkan beberapa alat tes khusus.
"Baiklah, saya siap." Ucap Juna seraya duduk dengan kaki selonjoran di kursi sofa serta menutup mata.
__________________####________________
Sementara itu Pak Doni terlihat sibuk mengintai seseorang dari jarak jauh. Ia menutup dirinya dengan kamuflase pakaian dan tampilan yang sangat berbeda.
Jalanan yang padat dengan banyak kendaraan yang melintas cukup menyulitkan pak Doni untuk lebih mendekati target yang saat itu ada di seberang jalan.
Ia mengeluarkan kacamata pengintai jarak jauh agar mampu melihat lebih jelas sang target.
"Ya... benar sekali. itu dia." Ucap pak Doni sambil tersenyum bangga.
ia pun lantas kembali ke mobil dan segera tancap gas dari tempat itu.
__________________####________________
Beberapa saat kemudian, nenek tua itu memberikan hasil catatan kesehatan nya pada Juna. Ia membacanya dengan seksama dan sangat teliti.
"Jadi aku sudah sembuh 100 persen?" Ujar Juna tak percaya.
"Ya tuan... Ginofobia dan Agoraphobia anda sudah tidak terdeteksi lagi. ini kemajuan sangat pesat. Saya harap tuan menjaganya dengan baik." Ucap sang nenek yang ternyata adalah wanita tua yang melakukan pembacaan pikiran Juna di masa lalu. (baca episode 6)
"Okay, nyonya. Saya sangat berterimakasih. Sebagai hadiah, ini saya berikan sweater terbaru desain perusahaan kami. Ambillah sebagai ucapan terimakasih ku." Ucap Juna ramah pada nenek tersebut sambil tersenyum.
Juna berjalan kaki menuju lemari penyimpanan contoh produk yang selesai dibuat oleh para desainer CeSt. Ia mengambil sweater berwarna merah muda yang cantik dan mengemasnya dengan rapi untuk sang nenek.
Hal tersebut lantas dibalas pula dengan senyuman oleh sang nenek.
"Kau tak perlu memberiku hadiah. ini sudah tugasku." Ucap sang nenek.
"Tak apa nyonya... aku ingin melakukan ini untuk mu." Ucap Juna senang.
_________________####__________________
"Ini kemajuan bagiku. Aku merasa aku bisa mengendalikan diriku lebih baik sekarang. Inilah Jati diriku. Inilah personality ku.
__ADS_1
Ini adalah awal yang baik bagi diriku untuk menemukan kembali separuh jiwaku yang hilang. kuharap Tuhan memberiku kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahanku di masa lalu."
- Juna