Handsomeness Hide

Handsomeness Hide
Eps. 14. Sorry Girl... i Quit


__ADS_3

Juna tampak sigap menyudahi makan malamnya bersama gadis bernama Rara tersebut. Ia membungkukkan badan seraya mengucapkan selamat tinggal padanya.


"Hei... tunggu! kau mau kemana Jun!" Ucap Rara panik melihat Juna akan pergi meninggalkan dirinya.


"Aku harus pergi, ada acara yang sangat penting selanjutnya. maaf." Ucap Juna simpel sambil pergi meninggalkan gadis itu.


"Tidak bisa Juna! kau tak bisa meninggalkan aku sekarang!"


"Kenapa tidak bisa?"


"Aku calon istri mu sekarang. kau harus meyakini itu! Kamu tak bisa memperlakukan aku seperti itu!" seru gadis itu tak tahan lagi menyimpan unek-unek dalam hatinya.


"Baiklah, kalau itu yang kamu rasakan. Selamat tinggal!" ucap Juna tanpa basa-basi dan dingin terhadap wanita itu.


Melihat ekspresi Juna yang tidak memedulikan dirinya, ia pun menangis tersedu-sedu di meja makan itu.


Para kru dinner yang saat itu bertugas tampak memalingkan wajah dan berpura-pura tidak melihatnya.


"Sepertinya, tuan Juna sekarang tampak lebih seram dibandingkan saat masih kuliah dulu ya." ujar salah seorang kru chef yang berbisik dari arah dapur.


"Iya, tentu saja. Mana mau dia hidup dengan kekangan seperti yang dilakukan nyonya sekarang. Aku khawatir tuan Juna akan kembali depresi seperti dulu." Ujar kru chef lainnya sambil menatap ke arah ruang makan.


__________________####_________________


Juna berlari menuju halaman rumah dan segera menaiki mobil kesayangannya "Blacky".


Brooom..... Terdengar suara mobil melaju dengan kencang. Juna memacu gasnya dan semakin meninggikan kecepatan mobilnya itu.


Juna mengendarai blacky seperti orang yang sedang marah dan menunjukkan suasana hatinya yang sebenarnya saat itu.


Antara senang, dan sedih....


Adapun amarah juga....


Juna berusaha memfokuskan kembali pikiran dan hatinya yang tak menentu itu.


"*****!" seru Juna meluapkan kekesalannya terhadap sang ibu yang mulai berulah dan semakin menyulitkan dirinya.


Sambil mengemudi, Juna menyalakan telepon wireless nya dan mulai menghubungi pak Doni.


"Hal pak Doni. dimana anda sekarang?" Ucap Juna tegas.


"Pak komisaris? ya saya ada di dekat LaSally University sekarang." Seru pak Doni sambil berjalan diantara banyak orang di jalanan.

__ADS_1


"Baiklah, Saya sampai disana 10 menit lagi." Ucap Juna dengan tegas, sambil menutup teleponnya.


"Siap tuan Juna." ucapnya sambil menutup teleponnya dan ia segera pergi menuju minimarket tempat dimana tujuan utamanya adalah menemui Hana.


Broooooommmm! Juna pun semakin memacu dengan cepat mobil kesayangannya itu.


_________________####_________________


Beralih ke Kediaman Juna, Sang Ibu datang dengan cepat menghampiri Rara yang sedang menangis tersedu-sedu. Ibunya Juna itu sedikit grogi dan ketakutan melihat kesekian kalinya para gadis menangis setelah berbicara dengan Juna.


"Aduh nak Rara.... ada apa?" Ujarnya sambil berpura-pura tegar.


"Nyonya, Juna...." Ucap Rara menangis semakin keras.


"Astaga... astaga..." gumam Ibunya Juna mulai panik sambil memeluk gadis tersebut.


Arya Bram turun dari tangga dan melihat pemandangan yang tidak aneh tersebut. Ia tersenyum mengejek.


"Anakku Juna tak akan mudah untuk jatuh cinta. Seberapa cantiknya pun gadis pilihan ibunya, tidak akan pernah bisa menaklukkan hati Juna. Juna dan aku sama." gumam Arya Bram begitu miris.


__________________####________________


Sesampainya di depan gerbang LaSally University, Juna memarkirkan mobilnya itu. Ia pun keluar dari mobil dan melihat jam yang melilit di pergelangan tangannya.


Ia pun segera mencari-cari keberadaan Pak Doni.


"Kemana pak Doni! tadi dia bilang ada di dekat sini." Ujarnya lagi sambil menengok ke segala arah. Hingga pada suatu saat ia melihat sebuah minimarket tepat di depan LaSally University.


Juna berjalan ke arah minimarket itu dan melihat seseorang di dekat minimarket yang sedang memainkan handphonenya sambil menyeruput secangkir kopi. Juna pun tak segan segera menghampirinya.


"Pak Doni! mari kita bicarakan tentang hal yang tadi." ucap Juna datar sambil terus berjalan ke arah orang itu.


Namun perasaan Juna tidak tentram. Ia merasakan perasaan yang tidak menentu yang membuat langkah kakinya terasa berat.


Tiba-tiba seseorang memukul Juna dari belakang dengan balok kayu.


Bruk!!!!


Juna pun jatuh tersungkur dan ia sangat terkejut dengan serangan tiba-tiba itu. Ia menoleh ke arah depan dan dilihatnya itu bukanlah pak Doni. Orang yang berdiri di depan minimarket itu adalah seseorang yang mirip dengan Pak Doni. Celakanya orang itu adalah pemimpin geng penjahat yang selalu beraksi malam hari di sekitar LaSally University.


Juna berusaha bangkit namun ia terus mendapatkan pukulan dan serangan dari para pria yang tak dikenal itu.


"Argh!!!! hentikan!!" Teriak Juna kesakitan. Ia berusaha bangkit dari kondisinya yang semakin menurun.

__ADS_1


Seseorang dari dalam minimarket menyaksikan kejadian nahas itu dan ia segera kembali ke dalam ruangan kecil. Ia membawa sesuatu dan segera pergi ke luar.


___________________####________________


Pak Doni tiba. Ia pun terkejut dengan apa yang dilihatnya itu.


"Pak komisaris!" Ucap Pak Doni histeris. ia langsung menyerang para penjahat itu seorang diri namun ia gagal dan juga mendapat banyak pukulan dari para penjahat tersebut. sungguh malang nasib mereka berdua.


Dari balik minimarket itu, seorang gadis muncul dengan pakaian penjaga minimarket dan ia membawa pisau dari balik punggungnya.


"Enyahlah kalian semua!" teriak gadis itu dan langsung menyerang para penjahat dengan membabi buta.


Beberapa diantara mereka jatuh dengan luka sayat di lengan mereka akibat sabetan pisau gadis itu.


Para penjahat merasa tertantang dengan serangan sang gadis akhirnya berbalik dan mulai menyerang gadis itu bersama-sama namun kemampuan bela diri sang gadis itu sangat diluar ekspektasi. Sehingga mampu memukul mundur para penjahat yang menyerang Juna dan Pak Doni.


"Argh...." rintihan para penjahat yang terkapar dan akhirnya memilih untuk mundur.


Gadis itu tampak kotor dengan banyak percikan darah di badannya serta di pisau yang ia genggam. Sungguh situasi itu membuat suasana cukup mengerikan.


"Siapa kalian? jika kalian berniat jahat juga, enyahlah dari tempat ini." Ucap sang gadis memberi peringatan pada mereka berdua.


"Pak Komisaris, apakah anda terluka?!" Ucap Pak Doni tak menghiraukan ucapan gadis itu sambil berusaha menyangga Juna yang sedang terbaring tak berdaya.


"Tidak aku baik-baik saja. Kau harusnya khawatir dengan gadis itu..." ucap Juna sambil menoleh pada gadis itu. Juna tertegun dengan apa yang dilakukannya.


"Pak, saya akan telepon polisi dan Ambulans! tunggu sebentar." Ucap pak Doni tergesa-gesa mengambil handphonenya.


"Tidak usah pak." ucap Juna simpel sambil ia beranjak bangun. Menguatkan dirinya sendiri.


Gadis itu menatap Juna dengan tajam dan seperti menelaah siapakah pria yang ada di hadapannya itu.


Juna berusaha berdiri walaupun masih sempoyongan. Sungguh kekuatan tubuh Juna masih dalam kondisi yang baik meskipun ia dipukuli dan tampak memar dan di beberapa bagian tubuhnya.


Juna pun menatap sang gadis dan secara tak sadar, ia tersenyum manis melihat sang gadis.


"Kaulah yang kucari selama ini..." Ucap Juna tanpa sadar.


_________________####_________________


"Apakah Tuhan yang mempertemukan kami dalam keadaan seperti ini? aku tak pernah menyangka akan terjadi hal seperti ini. Kenapa tatapan mata itu tampak sama seperti tatapan yang kurindukan?"


- Juna

__ADS_1


__ADS_2