
Di kantor polisi khusus bagian reserse kriminal, Hana sedang diinterogasi atas kasusnya yang terjadi semalam. Berbekal informasi dari saksi yang melihat secara diam-diam dan juga para penjahat yang menganggap dirinya korban dari Hana melaporkan dirinya secara serempak.
Suasana di kantor polisi di siang hari itu cukup sibuk dengan lalu lalang anggota yang mengurusi masalah kriminal lainnya. Disana pula Hana terduduk diam dengan tangannya yang telah terborgol. Menunggu proses selanjutnya dan menunggu saksi lainnya datang.
Para penjahat yang mengaku korban itu melihat ke arah Hana dengan was-was namun juga kesal. Mereka ingin membalas gadis itu namun mereka tak berdaya. Mereka ingat dengan benar bagaimana Hana memainkan pisaunya untuk melukai mereka, bahkan gerakan yang dilakukan Hana sangat kontras dengan penampilan Hana yang nyatanya hanya sebagai gadis lugu. Sungguh mengerikan sosok "Hana" ini di mata para penjahat itu.
Hana tak bicara sepatah katapun. ia merasa bahwa apa yang dilakukannya sudah benar dan ia tak menyesal sama sekali dengan tindakannya itu.
Hana menoleh dan menatap tajam para penjahat itu satu persatu, menandai mereka sebagai orang baru yang dibenci olehnya. Para penjahat yang merasakan aura keganasan Hana mulai terlihat ketakutan. Tangan mereka bergetar.
"Hana Khairunnisa." Ujar salah satu polisi membaca berkas yang telah diketik rapi oleh juru ketik.
"Sayang sekali gadis secantik kamu melakukan hal yang tidak terpuji seperti ini." ucap salah satu anggota polisi lainnya sambil memandangi Hana.
"Ya pak! dia sudah merobek tangan saya! lihatlah perban-perban yang menempel ini! sakit sekali!" Seru salah satu penjahat yang dilukai Hana semalam.
Hana menoleh karena salah satu dari mereka berbicara, namun ia memberikan tatapan tajam yang tak bersahabat. Tatapan matanya itu membuat siapapun yang melihatnya tampak bergidik takut.
"Nona Hana, ada yang mau kau sampaikan terkait kejadian semalam?" Ujar polisi yang membawa berkas tersebut.
Hana terus terdiam. Ia sangat sulit berbicara. Tak ada rasa takut, rasa menyesal ataupun khawatir pada dirinya sendiri. Karena ia tau akan mendapatkan konsekuensi setiap apapun yang dilakukannya.
"Jika kau tidak mau bicara, maka kau bisa dipenjara dan kasusmu akan segera diproses lebih dalam!" seru polisi tersebut.
"Penjarakan saja pak dia! bagaimana bisa gadis polos seperti dia diberikan maaf atas perbuatannya pada kami!" seru para penjahat itu.
"Diamlah kalian. Ini urusan kami." Ucap salah seorang polisi menghentikan keributan yang dibuat oleh para penjahat itu.
Sementara Hana hanya asyik diam dan tak merespon apapun yang terjadi.
__________________####_________________
Setelah Juna selesai rapat, ia harus pergi kembali menghadiri pertemuan dengan klien di perusahaan lainnya. Pak Doni pun segera mempersiapkan kendaraan dan mengantarkan Juna ke tempat yang dituju berikutnya.
Sambil berjalan menuju lift, Juna memulai percakapan.
"Aku ingin pergi ke minimarket lagi pak. bagaimana kalau kita kesana setelah pertemuan dengan klien kita? tanya Juna meminta saran pada Pak Doni.
"Sepertinya tuan komisaris harus menundanya sebentar. Saya akan mengontrolnya terlebih dahulu." Ucap pak Doni memberi saran.
__ADS_1
"Hm... baiklah... beritahu aku ya setelah kau sampai!" Ucap Juna sumringah.
__________________####_________________
Di minimarket, beberapa orang tengah menyelidiki kejadian di minimarket tersebut baik dari dalam ruangan maupun di sekitar halaman minimarket.
Beberapa tim khusus diturunkan untuk mencari bukti tambahan yang akan memberatkan Hana.
Melihat proses penyelidikan itu, orang-orang yang berada di sekitar minimarket merasa resah dan penasaran mengapa ada banyak polisi datang ke tempat itu.
Sesampainya pak Doni di halaman minimarket, ia melihat kerumunan orang yang sedang mengintip ke dalam ruangan. Pak Doni penasaran sehingga ia menengok dan merangsek masuk.
Begitu terkejutnya pak Doni mendapati banyak sekali polisi yang berada di dalam.
"Nona Hana!!!" seru pak Doni syok dan segera mencari Hana.
Semua orang melihat kearahnya dan terkejut dengan teriakan pak Doni.
__________________####________________
Di kantor polisi, pak Doni menemui Hana dan wajahnya terlihat begitu pucat. Ia takut bahwa Hana mendapatkan siksaan oleh pihak yang berwajib, namun ia tak melihat pada diri Hana saat itu.
"Syukurlah kau baik-baik saja nona. Saya sangat menghawatirkan nona kalau mereka akan menyiksa nona disini." Ucap pak Doni sangat memperhatikan Hana.
"Saya baik-baik saja. Mereka baik pada saya." Ucap Hana lagi.
Pak Doni mengangguk seraya menyetujui perkataan Hana saat itu. Iapun lantas menelepon Juna dengan cepat.
Hana melihat pak Doni dengan bingung. Mengapa orang itu sangat menghawatirkan dirinya.
__________________####_______________
Saat Juna tengah berjalan keluar dari lift perusahaan kliennya, ia mendapatkan telepon dari pak Doni.
"Halo? pak Doni? bagaimana? saya bisa menemuinya?" ucap Juna bahagia.
Saat Juna mendengar perkataan pak Doni, Wajahnya berubah pucat, ia terkejut setengah mati mengetahui Hana ditahan sementara oleh polisi.
Tanpa basa-basi lagi, Juna memanggil supir kantornya dan memerintahkan nya untuk mengantarkan dirinya menuju kantor polisi.
__ADS_1
__________________####_______________
Mendengar pak Doni menelepon Juna dan memberitahukan hal ini, membuat Hana cemas jika kondisinya malah akan membuatnya lebih parah lagi.
Hana termenung, mengingat flashback pertemuan dirinya dengan Juna kala itu, baik saat dirinya masih bekerja di toko sparepart mesin jahit ataupun saat malam gaduh itu terjadi.
"Juna..." gumam Hana lemah.
_________________####_________________
Sesampainya Juna di kantor polisi, membuat seisi kantor begitu gempar dengan kehadirannya. Wajar saja dia sangat terkenal sekarang.
Seluruh anggota kepolisian yang bekerja di kantor itu sangat welcome pada Juna dan mempersilahkan Juna.
Juna tergesa-gesa mencari Hana, dan didapatinya gadis itu tengah tertunduk lesu dengan borgol yang mengikat lengannya. Tampak pak Doni ada di sampingnya, menunggu Juna datang.
"Pak komisaris!" seru pak Doni menghampiri Juna dan memberi hormat.
"Bagaimana Hana sekarang? dia baik-baik saja?" Ucap Juna panik, namun mencoba tetap berwibawa.
Ia pun menghampiri Hana dan memeluknya dengan erat. Hana terkejut dan jantung nya berdebar begitu cepat.
"Syukurlah, aku cemas sekali. Aku mohon jangan menghilang lagi dari diriku." Ucap Juna lirih. Mendengar hal itu, Hana terhenyak sesaat.
Hana semakin mengingat pertemuan pertamanya dengan Juna, ketika Juna nampak buruk rupa dan akhirnya ia menemukan fakta bahwa Juna sangat tampan. Hana terdiam dan tak dapat bicara apapun pada siapapun.
_________________####________________
Akhirnya Hana menghirup udara kebebasan setelah Juna menjelaskan kronologi yang terjadi malam itu pada para polisi tersebut. Tak memerlukan waktu lama untuk bernegosiasi, mereka sangat mempercayai penuh pernyataan Juna. Sehingga hal yang mudah bagi Juna untuk menyelamatkan Hana.
Juna menjamin Hana sehingga Hana bebas dan dinyatakan tak bersalah sehingga penyelidikan itu dihentikan secepatnya.
"Terimakasih.." ucap Hana padanya. Gadis itu tampak lesu.
"Sudah tugasku melindungi dirimu. Mulai sekarang, kau adalah bagian dari diriku. Jadi jangan membantah ku." ucap Juna menatap Hana dengan penuh perasaan.
Hana tersipu malu. ia tersenyum tanpa sadar dan tak bisa menyembunyikan rasa lega nya itu. Juna pun tersenyum melihat Hana kembali tersenyum manis seperti biasanya.
Setelah itu Pak Doni lantas mengantarkan Hana kembali ke minimarket, sementara Juna menyusul dibelakangnya.
__ADS_1