Handsomeness Hide

Handsomeness Hide
Eps. 7. Pandangan Pertama


__ADS_3

Juna dan Nining akhirnya sampai di toko sparepart mesin jahit yang dituju. Nining membukakan pintu kaca geser dan Juna melangkah masuk.


Juna menengok ke sekelilingnya, namun tak tampak karyawan satupun yang akan meladeni pembeli seperti dirinya. Nining juga terheran. Karena tak biasanya toko ini sepi. Sepengetahuan Nining, toko ini akan selalu ramai.


Nining melihat seseorang keluar dari suatu ruangan dan segera menghampiri meja pelayanan toko tersebut. Seorang wanita dengan pakaian pramuniaga bertopi.


Nining menoleh pada Juna dan memberikan kode pada Juna untuk bertanya padanya.


Juna pun segera bertanya pada pelayan toko tersebut dan menghampirinya.


"Permisi, saya mau beli sparepart ini." Ucap Juna begitu sopan.


Pramuniaga itu memandang pakaian Juna, namun tidak mau menatap wajah pembelinya tersebut.


"Silakan, apa yang anda butuhkan?" Tanya pramuniaga tersebut dengan nada suara yang datar.


Nining dan Juna saling bertatapan. Mereka berdua sedikit kebingungan dengan tingkah pelayan ini.


"Ssstt... Jun, kasihkan catatan itu." bisik Nining


"Ya. tentu." Jawab Juna sambil menyerahkannya pada sang pelayan.


"Baiklah, tunggu sebentar." Ucap pramuniaga itu membawa catatan. Ia langsung mencari barang yang dimaksud.


Beberapa saat kemudian, ia kembali ke hadapan mereka berdua.


"Ini sparepart yang langka, karena ini khusus untuk mesin yang sudah lama. aku akan coba cari sebentar lagi. Jadi silakan tunggu." ucap gadis berambut pendek sebahu itu.


Mendengar suara gadis itu, Nining terkejut, matanya terbelalak. ia seperti mendengar suara seseorang yang mengenalnya.


"Dia? apa aku tak salah mendengar?" gumam Nining terkejut.


Gadis pelayan itu sibuk berjalan kaki ke berbagai sudut ruangan di toko tersebut.


Nining penasaran dengan suara yang sangat dikenalnya itu. ia pun mengikuti sang pelayan diam-diam. Sementara Juna menunggu di dekat kasir dan memainkan handphone nya.


Gadis itu menyadari seseorang mengikutinya. Ia pun menoleh kebelakang. Nining terkejut dan ia tersenyum grogi.


"Hei..." ucap Nining


Gadis itu terdiam dan ia mencoba memandang wajah Nining.


"Ya? ada yang bisa dibantu?" Tanya gadis itu heran.


Nining terkejut setengah mati mengetahui pelayan itu adalah temannya yang dulu menjadi sahabat nya.


"Hey, kamu ga kenal aku??? ini aku Nining!" Ucapnya berbisik

__ADS_1


"Nining?..."Ucap Gadis itu bingung.


"Ya! ini aku Nining!" Ucap Nining sambil membuka kacamata dan melepaskan ikat rambutnya.


Seketika, gadis pelayan itu terkejut.


"Meysa!" seru gadis itu terkejut.


"Sssttt... jangan keras-keras." Ucap Nining


"oh oke. aku kira bukan kamu. sekarang kamu banyak berubah ya!" Ucap gadis itu yang bernama Hana.


"Iya, ini karena aku ingin deket sama dia. aku lagi penasaran banget sama dia." ucap Nining pada gadis itu.


"Kamu jatuh cinta? haha... tapi, kenapa kamu penampilannya seperti ini?"


"Hm... enggak. cuma suka aja seperti ini."


Hana mengangguk. ia lantas kembali mencari barang pesanan Juna.


_________________####_________________


Setelah beberapa saat, Hana memberikan barang pesanannya.


Nining tersenyum senang dan menarik Juna untuk segera membayar nya.


"Harganya 246 ribu. silakan." Ucap Hana sambil menyodorkan struk pada Juna.


Hana benar-benar sangat penasaran dengan sosok Juna, karena ia tau bahwa Nining yang dikenal sebagai Mesha olehnya membawa teman pria untuk pertama kalinya semenjak mereka berteman di sekolah menengah atas.


Ia pun tengadah dan memberanikan diri melihat wajah Juna. Maklum karena selama ini ia tidak pernah menatap pelanggannya secara langsung. dan ternyata....


"Astaga!!!" gumam Hana syok.


Juna mengambil struknya dan ia tak sengaja melihat wajah gadis itu. Ia pun terjebak dalam tatapan Hana.


"ASTAGA!" gumam Juna syok.


Juna dan Hana sama-sama terkejut. mereka tak saling bicara. Hanyalah berpandangan dalam jangka waktu yang cukup lama. Melihat reaksi mereka berdua, Nining salah tingkah dan merasa gerah.


"Dia.... aku seperti kenal dia..." Ucap Hana tanpa sadar.


Nining lantas menarik tangan Juna dan mengajaknya segera pergi dari pandangannya. Juna terdiam dan terus menatap mata Hana tanpa berkedip sedikitpun. Melihat hal itu, Nining semakin curiga dan tak tahan dengan dugaannya.


"Apa nih! pasti Hana kesengsem Juna juga. Harus aku tarik Juna sekarang!" gumam Nining menahan rasa curiga dan kesal.


_________________####__________________

__ADS_1


Di kantor Komisaris Utama CeSt, nampak sang psikiater datang untuk memberikan klarifikasi atas penelitiannya terhadap traumatik yang dialami Juna.


Mendengar beberapa penjelasan yang lebih dalam dan akurat, membuat Arya Bram, yaitu ayah Juna terlihat lebih tenang.


"Dia sudah diberikan sugesti pak Komisaris, jadi tak perlu cemas dengan gangguannya itu. kita akan lihat bagaimana progresnya." Ucap wanita tua itu tampak percaya diri menjelaskan semua yang telah dilakukannya.


Sebagai informasi, setelah membaca catatan sebelumnya itu, Arya Bram dengan sigap memanggil kembali psikolog itu dan meminta penjelasan rinci. Hal itu sempat dicegah sang istri, namun prinsip seorang Arya Bram yang kuat, tak mampu digoyahkan bahkan oleh istrinya sendiri.


Mereka berdua syok mendengar langsung mengenai apa yang direncanakan Juna, apa yang dirasakan Juna, hingga tujuan hidup Juna sebenarnya.


"Setelah Juna lulus, kemungkinan dia akan memulai hidup barunya dengan sifat dan karakternya yang baru." tukas sang psikolog.


"Baiklah kami mengerti. terimakasih atas bantuannya." ucap sang Ayah pada wanita tua itu.


_________________####__________________


Beralih kepada Juna, setelah ia selesai berbelanja dengan Nining, ia harus kembali ke kampus karena semua dosen sudah menunggunya. Sementara Nining pulang ke rumahnya dengan hati yang sedikit kesal.


Sesampainya di ruang dosen, Juna menyerahkan pesanan para dosen itu, dan ia juga bergegas pulang ke rumah.


Sesampainya kembali di halte bus, ia termenung. ia memikirkan sosok gadis pelayan di toko sparepart itu.


"Siapa gadis itu? kenapa dia orang yang ada di mimpiku malam itu?" Juna menggigit jari dan sesekali tanpa sadar tersenyum.


Pada akhirnya ia kembali mengunjungi toko sparepart itu.


_________________####__________________


Tak terasa waktu berubah malam, hingga malam, Juna asyik memantau gadis itu dari seberang toko. Ia selalu tersenyum melihat gadis itu beraktivitas.


Ia pun memilih memberanikan diri untuk menemui kembali gadis itu.


"Aku bisa... aku pasti bisa..." gumam Juna. Lantas ia masuk ke dalam toko itu dengan tegang.


"Permisi... saya mau membeli... ASTAGA!!!" Juna terkejut seketika!


Belum sempat ia bicara banyak ia malah menemukan gadis itu tergeletak di lantai. Gadis itu pingsan!


"Hei! nona! nona! bangunlah!" Ucap Juna keras berusaha menyadarkan gadis itu. Namun tak ada reaksi. Juna panik, dia menoleh ke sekitar, dan tidak ada pelayan lain selain dirinya. Ia pun menggendong gadis itu dan menelepon asisten kepercayaan nya.


"Halo! pak Doni? tolong saya sekarang juga. datang ke alamat .......... saya butuh bantuan sekarang juga!" Ucap Juna panik. Ia pun melepaskan kacamatanya dan menyimpannya di kantong saku jaketnya.


__________________####_________________


"Aku tidak tau, siapakah kamu... belum sempat aku menanyakan namamu, kau sudah seperti ini. aku mohon bangunlah dan tatap aku sekali lagi... aku ada di hadapanmu..."


- Juna

__ADS_1


__ADS_2