
Malam itu menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Juna belum mampu untuk memejamkan matanya karena kondisi mentalnya yang semakin hari semakin memburuk.
Kata orang, menjadi super cantik atau super tampan menjadi harapan dan impian banyak orang. Berbondong-bondong banyak diantara mereka semua yang melakukan bedah plastik di wajahnya, tubuhnya hingga ke bagian yang sulit terlihat demi membentuk fisik yang diidamkan. Namun nyatanya, fakta itu ditepis oleh Juna yang dari sejak lahir, ia memiliki karunia terbesar yaitu memiliki perawakan yang super duper tampan.
Menjadi pria yang perfect dalam tampilan didukung dengan status sosialnya yang berada di puncak, tidak membuat dirinya bahagia. Penolakan cinta kepada para wanita yang mengejarnya membuat nya sangat depresi sehingga ia tidak sanggup untuk berteman dengan wanita. ia merasa tak tahan jika dirinya terus menolak para wanita yang ia harapkan dapat berteman baik dengannya.
Mengapa pertemanan harus berakhir dengan jatuh cinta khususnya bagi pria dan wanita? kenapa tidak bisa jika pertemanan itu hanyalah pertemanan?
Ya... itulah kehidupan Juna. Bahkan Juna sendiri tak mampu mengatur situasi dan kondisi ketika dirinya dilanda dilema itu.
________________####___________________
Tok..tok..tok......
Suara ketukan pintu dari arah luar. Membuat Juna terperanjat. Lamunan Juna buyar, ia segera melangkah menghampiri pintu kamarnya dan membuka kuncinya.
"Ibu? kenapa ibu bangun? ini sudah larut malam." khawatir Juna pada ibunya yang sudah berumur tersebut.
"Ibu tidak akan tenang sebelum ibu bicara sama kamu. Kamu akhir-akhir ini selalu murung. Pokoknya ibu mau bicara." Ucapnya tegas.
Juna tentu tak dapat menolak permintaan sang ibu. dengan berat hati, ia mempersilakan Ibunya masuk ke kamarnya.
"Baiklah... ayo masuk Bu." Ucap Juna menghormati ibundanya.
Sang ibu mengeluarkan smartphone dari saku piyamanya. Ia mengutak-atik layar smartphone itu guna mencari sesuatu. Juna terheran dengan ibunya. Sesekali Juna tertunduk lesu.
Sang ibu tersenyum simpul membaca pesan dalam smartphonenya.
"Juna, kamu kenal dengan orang ini? sudah seminggu ini, chatting sama ibu dan kirim banyak foto kamu di kampus."
__ADS_1
"Tidak Bu. lebih baik ibu matikan chatnya dan jangan ladeni pesan yang tidak dikenal. aku tidak mau ibu terganggu." Ucap Juna menasehati ibunya.
"Mereka ini bilang penggemar kamu. gak apa-apa nak. ibu memaklumi. kau seharusnya senang dan jangan murung seperti ini." ucap ibundanya menguatkan Juna. Sebenarnya sang ibu memiliki perangai yang sedikit sombong dalam urusan percintaan anaknya.
Mendengar hal itu malah membuat Juna semakin lesu. Juna terdiam, tak sanggup berkata-kata. Matanya sedikit membengkak karena kurang tidur. Sesekali ia memainkan jarinya untuk menghilangkan kegelisahan nya. "Ibu tau, orang bilang ketampanan itu akan membawa seseorang menjadi lebih baik. tapi kenapa aku tidak?"
Mendengar pernyataan Juna sang ibu sontak kaget. Ia berusaha tersenyum dan menerka perasaan Juna.
"Jangan gitu nak. Kamu itu karunia terbesar yang hadir dalam hidup kami. Kamu Tampan karena keturunan keluarga kita yang memang orang-orang berwajah rupawan!" Jawab sang ibu enteng.
"Kenapa harus dengan ketampanan Bu? kenapa tidak bisa mendapatkan teman yang tulus? bahkan jika bukan karena ketampanan mungkin aku akan hidup lebih baik?!" seru Juna mulai kesal.
Sang ibu memandanginya dengan hati yang miris. Dia sangat tau karakter Juna yang sangat berprinsip dan juga polos.
"Juna, ada apa lagi? kamu gak betah di kampus baru? mau pindah lagi? ibu merasa kamu itu ada masalah. tolong cerita sama ibu. Jangan salahkan ke-tampananmu nak." Ujarnya mencoba menasehati.
"Bisakah aku menjadi tidak tampan??? jika aku bisa, maka aku akan melakukannya dan aku akan memiliki kehidupan normal layaknya orang lain Bu." Ucap Juna mulai tak bergairah.
"Ibu... kenapa aku tidak bisa mendapatkan teman yang tulus padaku? apalagi mendapatkan kekasih yang mencintai aku apa adanya..." Juna mulai membuka semua perasaan yang dipendamnya. Ia meneteskan air mata yang bahkan tak disadarinya.
Sang ibu merasa sedih melihat sikap Juna yang tampak frustasi. ia merasa harus melakukan sesuatu guna menghilangkan perasaan itu dalam diri Juna.
"Maaf, diumurku yang ke 21 ini, aku tidak bisa bersikap dewasa. bahkan aku tidak bisa menghandle para gadis itu." ucap Juna pasrah.
"Ini bukan salahmu nak. Ibu sangat mengerti apa yang kamu rasakan. sekarang terserah padamu, apa yang ingin kamu lakukan. tapi jangan berbuat hal yang bodoh dan merugikan kehidupan kamu sendiri." Nasehat ibunya seraya menepuk pundaknya dan pergi meninggalkan Juna sambil tersenyum.
"Kamu anak kami satu-satunya. jadi, ibu dan ayah tidak akan menekanmu atau membatasi kehidupan kamu. Hiduplah seperti apa yang kamu inginkan dan temukan kebahagiaan kamu sendiri. Satu hal yang harus diingat, jangan sampai melupakan tugasmu untuk menggantikan Ayahmu di CeSt (perusahaan besar yang bergerak di bidang Garmen)." Ucap sang ibu dengan pasti dan percaya bahwa Juna akan baik-baik saja setelah percakapan itu.
Juna mengangguk dan tersenyum. "terimakasih banyak ibu..." ucap Juna tenang.
__ADS_1
Sang ibu akhirnya kembali ke kamarnya, dan Juna mulai sendiri lagi. Ia pun larut dalam lamunan.
"Tampan \= Tidak tampan,
Cantik \= Tidak cantik,
Kaya \= Tidak kaya
Pintar \= Tidak pintar.
Ya... itulah hukum alam. Selalu ada kebalikannya. kenapa aku tak berpikir seperti itu sejak dulu!!!!" Ucap Juna seperti mendapat angin segar. Hasil dari lamunan dan teorinya.
Setelah ia mendapatkan ide brilian itu, Juna dengan cepat menuju meja belajarnya. Tanpa berpikir lagi, ia membuka laptop miliknya. Ia terlihat sangat serius dan mencari sesuatu di dalam sana. Setiap detik jantungnya berdebar seakan ia berusaha untuk mengeluarkan diri dari suatu kurungan. ia berjuang untuk menghirup udara kebebasan. Matanya yang indah itu tak henti-hentinya menatap layar laptop. Tangannya seakan sudah sangat lentur memegang mouse dan keyboard laptop itu.
"Ya... ini adalah pilihanku!" Gumamnya dengan sangat yakin dan pasti.
Juna melihat berbagai online shop yang menjual pakaian murah dan sedikit kurang bagus. "Ya! itu bisa kugunakan!" Seru Juna. Ia juga bergegas ke ruangan pakaian khusus miliknya dan mencari-cari pakaian yang tepat serta aksesoris ataupun milineris pendukung.
"Sementara aku bisa menggunakan jaket ini! ya ini tidak terlihat mencolok! ya! tepat sekali!" serunya lagi.
Banyak menghabiskan waktu di ruangan itu, pada akhirnya ia pun mengantuk dan mengeluarkan air mata. Juna segera menengok jam dinding yang ada di ruangannya tersebut.
"Sudah pukul 3 pagi..." gumamnya lemas.
Setelah itu ia beranjak dari kursinya dan segera menuju ke ranjang. Bergegas tidur karena waktu perkuliahan akan dimulai pagi hari sekitar pukul 08.00.
_________________####_________________
"Aku harap, di pagi hari, akan menjadi awal baru bagiku."
__ADS_1
- Juna