
Pagi itu dikediaman Arya Bram, semua nampak heboh dengan rencana pernikahan yang akan digelar. Kehebohan ini bermula dari salah satu pelayan yang tak sengaja mendengar percakapan antara Arya Bram dan sang istri. Tentu menjadi hal yang mengejutkan ketika Juna sudah menentukan pilihan.
Pak Doni bersiap menjemput Juna pagi itu dan lantas menyiapkan segala peralatan kantor Juna dan membawanya ke dalam tas besar.
Pak Doni tersenyum bahagia. Ia tak menyangka responnya akan sangat positif diterima keluarga Juna. Pak Doni pun merasa seperti seluruh beban yang ada pada dirinya menghilang dikarenakan Juna akhirnya menemukan gadis yang tepat untuk dijadikan pendamping hidupnya.
__________________####_________________
Sementara itu di rumah Hana...
Hana terjatuh karena terlilit selimut yang dikenakannya. Mendengar suara sesuatu yang terjatuh, Juna terbangun dan membuka matanya pelan-pelan dan tak disangka melihat Hana terjatuh di hadapannya.
"Hana!!" Juna kaget melihat Hana tergeletak di lantai dan meringis sakit. Secepat kilat Juna bangun dan langsung memangku Hana naik kembali ke ranjang.
"Jun... maafkan aku telah membangunkanmu." ucap Hana malu dan menahan sakit.
"Sayangku... kenapa kau terjatuh? apakah selimut ini melilit kakimu?" ucap Juna sangat perhatian.
Hana tak bisa menyembunyikan kejadian itu di hadapan Juna. ia tersenyum malu dan mengangguk. Melihat sikap Hana tersebut membuat Juna tersenyum karena lucu dan mencubit pipi Hana dengan gemas.
"Mana bagian tubuhmu yang sakit? apakah kakimu terkilir? kemarilah tunjukkan padaku." ucap Juna bersiap mengobati Hana.
Nyatanya ucapan Juna membuat Hana semakin grogi. Ia merasa bahwa diri nya itu bersikap sangat bodoh sehingga jatuh dengan hanya terlilit selimut.
Sekali lagi, Hana tak bisa berbohong. Ia lantas mengangkat lengan bajunya dan menunjukkan memar karena menghantam lantai dengan keras.
Juna terbelalak. Ia menatap tanda memar itu sambil berpikir caranya mengobatinya. Dibaringkannya Hana di ranjang dan lantas ia menggulung lengan baju Hana agar tak kesulitan mengobatinya.
"J...Ju..Jun... apa yang kamu lakukan?" ucap Hana dengan grogi serta wajahnya yang mulai memerah.l karena malu.
Juna menekan bagian yang memar itu dengan jarinya mengetes apakah memarnya parah atau tidak.
"Aaargh!" Hana sedikit mengerang. Juna terkejut dan lantas ia ke dapur kecil untuk mencari kunyit. Setelah ia menemukan sepotong kunyit, ditumbuknya kunyit itu dengan pengulek yang tersedia di rak piring, dan lantas kembali menuju kamar.
Hana terkejut melihat Juna yang dengan sigap mengobatinya dengan kunyit tumbuk itu. Hana menatap Juna dengan speechless. Tak menyangka pria sekelas Juna bisa mengerti pengobatan tradisional seperti ini.
__ADS_1
"Memar ini tidak parah, sayang. Aku mengecek seberapa sakit dan parahnya luka ini dengan menekannya. Ternyata ini tidak apa-apa. Besok juga akan sembuh." Ujar Juna dengan tenang sambil tersenyum manis padanya. Ucapan Juna itu memang membuat Hana sukses tersipu malu. Bahkan ia tak kuasa untuk menatap Juna.
_________________####__________________
Tok tok tok....
Suara seseorang mengetuk pintu membuyarkan kegiatan Juna dan Hana yang sedang sarapan bersama. Hana lantas membukakan pintu dan begitu kaget dengan apa yang dilihatnya.
Seorang pria tua yang sepertinya berumur sekitar 59 tahun itu ada dihadapan pintu dengan pak Doni dibelakangnya. Hana kebingungan. Ia tak tahu siapa yang bertamu pagi itu.
"Selamat pagi..." ucap pria itu dengan sumringah.
"Se.. selamat pagi..." ucap Hana terbata-bata karena kebingungan. Dari belakang pria tersebut, Pak Doni mengangguk dan tersenyum.
Juna yang selesai menghabiskan sarapannya datang menghampiri Hana karena mendengar suara yang sangat dikenalnya. Betapa terkejutnya pria yang bertamu itu adalah ayahnya Juna! Ya... Arya Bram!
Juna dan Hana kaku bagaikan terkurung balok es. mereka hanya menatap Arya Bram dengan sangat terkejut. Sungguh lucu tingkah sang anak dan calon menantunya itu.
"Kalian berdua kenapa hah? melihat Ayah datang seperti ini malah diam." ucap Arya Bram menahan tawa dan sangat senang.
_________________####__________________
"Maaf ya, kami mengundang kalian dengan cepat karena kami tidak punya banyak waktu untuk mempersiapkan semua ini." ucap Sang ibu dengan sigap mengundang ahli dekorasi ruangan pengantin dan merombak kamar Juna menjadi sangat indah dan serba merah.
Arya Bram sudah membicarakan mengenai Juna yang telah memiliki pasangan pilihannya untuk dinikahi pada sang istri. Awalnya istrinya itu terkejut dan tak setuju karena sudah mengundang Meysa alias Nining dihari yang lalu untuk dijodohkan pada Juna. Namun apa daya, rasa sayangnya yang besar pada Juna membuat sang ibu membatalkan perjodohan dengan Nining itu secara sepihak.
Mendengar kabar bahwa Juna akan menikah dengan gadis lain secara mendadak, membuat keluarga Nining marah dan kesal. Terutama Nining yang telah setia menunggu Juna dan merombak dirinya agar bisa menaklukkan hati Juna yang dicintainya selama ini.
"Arya Juna!" ucap ayahnya Nining kesal. "Aku akan membalas semua ini." ucapnya lagi.
Melihat ayahnya begitu marah dan kesal membuat Nining sedih dan seperti hilang harapan untuk menjadi istri dari seorang Arya Juna. Ia menangis di kamarnya dengan tersedu-sedu.
"Kenapa nasibku seperti ini... aku mencintaimu Juna... jangan seperti ini kumohon!" tangis Nining pecah dan meluapkan kekesalan sekaligus kesedihannya.
_________________####__________________
__ADS_1
Sekilas tentang Nining...
Nining merupakan wanita berdarah campuran Arab dan Sunda yang hidup mewah bersama kedua orangtuanya semenjak kecil. Nining memang tak pernah bergaya ataupun mengurus penampilan layaknya gadis seumurannya sehingga dia dikritik banyak orang dan di ejek dengan sebutan wanita jelek.
Setelah bertemu Juna beberapa tahun yang lalu ia mulai jatuh cinta. Sehingga ia mulai memperhatikan penampilannya. Sehingga Juna dan dirinya lulus dari kampus yang sama, Nining bersikeras untuk mengubah total penampilannya dan akan berencana mengejutkan Juna dengan tampil dihadapannya suatu hari nanti.
Bak petir disiang bolong, Ia tak kuasa menahan rasa sakit serta kecewa dengan kondisi yang terjadi apalagi flashback dirinya yang berjuang untuk tampil cantik menjadi dasar kesedihan mendalam baginya saat ini.
_________________####__________________
Kembali ke situasi Juna yang saat itu malu untuk bertemu ayahnya. Hana juga tak memiliki keberanian untuk berbicara dan ia berpikir akan terkena masalah baru atas sikapnya itu. Merasakan apa yang dirasakan kekasihnya, segera Juna menggenggam tangannya dan menguatkan Hana agar tak merasa takut.
Arya Bram tersenyum manis melihat tingkah mereka berdua. Lantas ia memulai pembicaraan dengan mereka dengan teinang
dan nyaman.
"Jadi... ini calon menantunya ayah, Jun?" tanya Arya Bram menggoda Juna sambil tersenyum.
"I..iya ayah... maaf aku tidak memberitahu padamu dan ibu sejak awal..." ucap Juna terbata-bata.
"Jadi, berapa usiamu sekarang nak? beritahu calon ayah mertuamu ini..." ucap Arya Bram tersenyum senang.
"Umurku... 25 tahun Pak.." ujar Hana dengan nada suara gemetar.
"Baguslah... umurmu ideal untuk menikah dengan Juna. Aku sangat menantikanmu menantuku." Ucap Arya Bram bahagia.
"Terimakasih banyak pak.." tambah Hana lagi sambil menganggukkan kepala. Melihat hal itu, Juna tersenyum manis padanya.
"Ngomong-ngomong, Apakah Juna menyakitimu semalam? Maaf kalau dia tidak melakukannya dengan baik. Ini kali pertama dia berkencan dalam satu malam dengan gadis. Untung saja gadis itu adalah calon menantuku. Hehe.." Tawa Arya Bram dengan jujur pada Hana.
"Apa?!" Ujar Juna dan Hana serempak kaget dengan perkataan sang ayah. Mereka menatap satu sama lain dan tanpa bersuara.
Pak Doni menepuk jidatnya dan ia menggelengkan kepalanya karena kebingungan. Semua diluar kendalinya.
"Astaga... kesalahpahaman ini semakin tak terkendali... harusnya aku tak terburu-buru bicara pada Pak Arya Bram!" gumamnya di dalam hati.
__ADS_1