
Hari ini adalah hari yang bersejarah bagi Juna. Mengapa? karena ia bisa merasakan kebebasan yang nyata dan merasakan dirinya tidak dikejar-kejar oleh para wanita "buas" itu.
Sangat wajar bagi Juna melakukan hal semacam itu, karena selama hidupnya, ia menghabiskan waktu begitu banyak untuk menghindari kontak dan komunikasi dengan para wanita. Selama 21 tahun, ia mendapatkan perhatian berlebihan dari orang-orang yang baik mengenalnya maupun tidak mengenalnya. Tak segan ia kerap mendapatkan pelecehan seksual dari wanita yang terlalu over terhadapnya dan juga mengobsesikan dirinya.
Lahir dari keluarga yang tidak biasa, Juna kerap hidup sendiri tanpa bimbingan Ayah dan ibunya yang sibuk menjalin link dan komunikasi dengan banyak orang. Apalagi sang ayah yang menjabat sebagai Komisaris Utama mengharuskan dirinya mementingkan urusan pekerjaan dibandingkan memperdulikan Juna.
Sehingga Juna tumbuh menjadi sosok yang berkepribadian introvert dan senang menyendiri karena paksaan atau tuntutan kehidupan. Namun, positifnya ia sangat mandiri dan mampu merencanakan banyak hal untuk dirinya sendiri.
Sayangnya, karena perawakan Juna yang sangat sangat rupawan, ia tak mampu menguasai dan mengendalikan sekitarnya seperti hawa nafsu para wanita di luar sana yang begitu menginginkan dirinya. Sehingga ia tenggelam dalam kegelisahan dan kekecewaan terhadap dirinya sendiri.
__________________####_________________
"Hei, Arya Juna! sini kemari! bantu saya bawa barang ini ke kantor ketua prodi." Seru dosen pembimbing nya menyuruh Juna dari ruangan sebelah.
Juna yang saat itu sedang mengerjakan tugas di kelas seorang diri menoleh dan dengan sigap menghampiri sang dosen di ruangan sebelah kelasnya.
"Ada apa pak?" tanya Juna ramah.
"Bawa semua buku itu dan berikan salinan laporan ini pada ibu kaprodi. sekarang juga." Ujar sang dosen dengan enteng menyuruh Juna melakukan pekerjaan mereka.
"Tentu pak." ucap Juna tersenyum dan mengambil semua tumpukan buku itu secara bertahap.
Beberapa dosen lain berbisik dan membicarakan Juna. Juna berpura-pura tidak mendengar, padahal ia mampu mendengarnya dengan jelas.
"Beruntung dia masuk kampus ini, ternyata dia bisa kita manfaatkan untuk keperluan penelitian kita. Bagaimana jika kita menyuruhnya untuk mempersiapkan alat dan bahannya? kita ijinkan dia untuk tidak belajar satu hari saja? bagaimana?" ucap seorang dosen senior.
"Sssttt... tidak masuk akal. Jangan terlihat terlalu jelas bahwa kita akan menggunakan dia. Ini ide bagus, tapi jangan terlalu bar-bar." sambung dosen senior lainnya.
"Lalu, kita buat Kaprodi percaya bahwa dia mengikuti kelas selama kita manfaatkan dalam penelitian. Bagaimana?"
"Hmm... ide yang bagus. Aku akan memikirkan caranya."
__ADS_1
Begitulah percakapan yang didengar oleh Juna. Jika orang yang mendengar itu bukanlah Juna, itu pasti akan membuat sakit hati ketika mendengarnya. Untung saja orang itu Juna, yang memang menjalani perannya seperti ini. Juna lantas pergi dengan membawa tumpukan buku di tangannya.
Ia berjalan lambat di koridor kampus yang jaraknya lumayan jauh menuju kantor ketua prodi. Juna mulai terbiasa dengan pemikiran baru orang-orang untuk menggunakan dirinya. Dia semakin tenang karena tentunya, dia tidak akan menyakiti hati orang dengan kebiasaan barunya ini.
Keringat di keningnya mulai jatuh membasahi wajahnya. Ia tampak tak terganggu dengan hal itu. Kemanapun dia melangkah, dia merasa aman dengan kamuflasenya itu. Bahkan ia merahasiakan identitas aslinya sebagai calon penerus CeSt.
________________####___________________
Waktu menunjukkan pukul 12 siang, semua mahasiswa dan juga aktivitas perkuliahan terhenti sementara. Waktunya untuk makan siang dan beristirahat sejenak bagi seluruh mahasiswa dan semua pengajar.
Mereka semua berbondong-bondong pergi ke kantin yang terkenal dengan sajian makanannya yang sangat lezat dengan harga yang terjangkau.
Tempat itu tentunya berbeda dengan cafetaria tempat dimana Juna berada bersama Amel dahulu. Kantin ini memang untuk kalangan biasa.
Juna merapikan semua buku dan tasnya dan ia berjalan menuju kantin. seseorang dibelakangnya mengagetkan Juna dengan tepukan keras di pundaknya.
"Hey! kau mau kemana?! Ayo makan!" ujar seorang mahasiswa bernama Angga yang juga memiliki penampilan sama dengannya.
Angga adalah teman pertama Juna setelah ia mendapatkan nasib yang sama seperti Angga. Mereka menjadi tim yang solid ketika ada pekerjaan yang harus dikerjakan secara berkelompok.
"Hey, kalian berdua tidak mengajak aku hah? jahat!" Tiba-tiba saja seorang wanita berpenampilan jadul dan tampak tidak menarik, menghalangi jalan mereka berdua.
"Hei Ning! mau makan bareng? yok kita sama-sama!" Ujar Angga sambil merangkul mereka berdua.
Nining selalu memasang raut wajah yang jutek. Bahkan ketika Angga dan Juna bercanda bersama. Tapi itulah perangai Nining.
"Hey jangan marah... aku traktir." Seru Angga sambil merangkul Nining lebih halus.
"Hei, aku kan memang punya wajah seperti ini. dasar kamu!" seru Nining memukul Angga dengan pelan.
Melihat cengkrama mereka, Juna tersenyum bahagia karena akhirnya ia bisa ada di posisi tersebut. Memiliki teman walaupun temannya itu adalah orang biasa yang juga disepelekan seperti dirinya.
__ADS_1
_________________####__________________
Sesampainya di kantin....
Angga membawakan beberapa makanan yang dipesan mereka bertiga. Juna dan Nining sangat bersemangat untuk segera menyantap sajian lezat itu.
"Ayo! kita sikat habis!" Seru Angga memulai aba-aba untuk makan.
Mereka pun makan dengan lahap dan sesekali tertawa. Melihat reaksi 3 sekawan itu, beberapa mahasiswa yang tampil necis mengolok-olok mereka.
"Kasian orang-orang cupu itu kelaparan semua. Haruskah gw kasih makanan sisa gw?" ucap seorang mahasiswa berbadan kekar.
Mendengar hal itu, Angga dan Nining sedikit terganggu. Bahkan membuat Nining kehilangan selera makan dan moodnya berubah buruk. Sementara Juna memperhatikan reaksi Angga dan Nining itu.
"Aduh... jangan sampai mereka terluka hatinya." gumam Juna dalam hati.
Juna pun berdiri dan berhadapan dengan mahasiswa itu. Juna menatap tajam dan mahasiswa itu keheranan.
"Mau apa lo?" Ujar mahasiswa itu kesal
"Cuma mau bilang, kamu itu keren banget... sayang aja kalau orang setampan kamu bicara sama kita yang receh begini..." ucap Juna secara tiba-tiba mengejutkan mahasiswa bertubuh kekar tersebut.
Bukannya marah, mahasiswa itu malah kepedean dan kegeeran dengan kata-kata Juna.
"Baiklah kalau itu mau kalian dasar pecundang." jawab mahasiswa itu sambil pergi menghilang dari pandangan mereka bertiga.
Melihat apa yang dilakukan Juna, Nining dan Angga terbelalak dan menahan tawa. Sungguh perlawanan Juna tidak ada bandingannya.
"Aku tidak memandang mereka sebagai orang yang rendahan... karena semua manusia itu sama haknya. Aku berteman karena aku sangat menyayangi mereka. dan aku ingin melindungi mereka. Bahkan jika aku harus berpenampilan seperti ini selamanya, asalkan mereka tidak tersakiti, maka aku rela melakukannya.
Hanya saja... aku belum menemukan tambatan hatiku.... aneh sekali, disaat seperti ini aku mulai memikirkan tentang kekasih. Yah... semoga aku menemukan dirinya."
__ADS_1
- Juna