Handsomeness Hide

Handsomeness Hide
Eps. 28. Terjebak tanpa Sadar


__ADS_3

Keesokan harinya... mentari terbit dengan sangat terang. Kicauan burung membangunkan setiap insan yang saat itu masih tertidur lelap.


Begitulah dengan Hana yang membuka matanya perlahan-lahan dari ranjang rumah sakit. Seseorang berpakaian dokter masuk dan menawarkan sarapan untuknya.


"Selamat pagi nona Hana..." Ucap seorang dokter sambil tersenyum bangga padanya.


"Ya... tentu dokter... terimakasih banyak." Ucap Hana sambil membalas senyuman itu.


__________________####_________________


Ternyata selama ini, Hana tidak benar-benar jatuh koma. Dengan perjuangannya melawan rasa sakit ia berhasil sembuh perlahan-lahan berkat bantuan dokter yang sangat peduli padanya.


Flashback....


Tengah malam di ruang ICU...


"Ya, semuanya aman. Semoga anda lekas siuman nona. Tuan Juna adalah orang yang sangat baik. Saya tak bisa membiarkan Anda terus seperti ini." Ucap dokter itu sendiri sambil mengecek semua peralatan penunjang Hana. Sementara Hana kala itu masih belum sadar.


Setelah semuanya selesai, dokter itu berpamitan pada Hana dengan membungkukkan badan. Tanpa disadari, ia terkejut melihat Hana perlahan membuka matanya dan mencoba melihat ke arah dokternya.


"Astaga! Nona!" Ucap dokter itu terkejut. Ia sangat bahagia melihat Hana siuman.


"To..tolong... bantu aku.. dokter..." Ucap Hana dengan sangat lemah memandangi nya.


"Tentu nona." Ucap sang dokter mengecek kembali kondisi Hana dari layar monitor yang ada di sampingnya.


"Aku harus terus seperti ini... bisakah kau membantuku?" Tanya Hana memelas


"Maksudnya nona? bukankah aku harus membuat nona sehat kembali seperti biasanya? Aku akan menelepon tuan Juna." Ucap sang dokter sambil merogoh saku jasnya untuk mengambil handphonenya.


"Tidak Dokter. Tolong rahasiakan semua ini dan anggaplah saya seperti masih koma. Saya perlu melakukan ini. Untuk Juna dan diriku." Ucap Hana sendu.


"Baiklah nona... apa yang harus saya bantu sekarang."


__________________####_________________


Di kantor CeSt, sang ibu membawa Nining pergi dengannya menuju ruangan kantor dimana ayahnya Juna berada.


"Ibu, untuk apa kita menemui ayah mertua?" tanya Nining penasaran.


"Diamlah... maka kau akan tau sendiri..."


"Baiklah..." ucap Nining sambil tak menaruh rasa curiga apapun.


__________________####_________________


Sesampainya di ruangan kantor, Nining berhadapan dengan ayahnya Juna dan memberi salam hormat.


"Halo ayah mertua..." Ucap Nining senang dan sedikit malu-malu.

__ADS_1


"Apa? mertua?" tanya Arya Bram terkejut sembari melirik ke arah istrinya.


Istrinya pun memberikan kode keras pada Arya Bram sehingga Arya Bram terdiam dan menerima sebutan itu.


__________________####_________________


Di LaSally University, Juna yang kini memiliki nama samaran Fajar, berusaha mendekati Andi dengan berbagai cara.


Ia sudah sangat mencurigai Andi sebagai pelakunya dari berbagai bukti yang memang mengarah padanya.


Dikantin LaSally, Juna menghampiri Andi yang saat itu santai sambil memakan makanan nya.


"Hey, boleh saya duduk disini?" Ucap Juna sopan


"Masih banyak tempat kosong kali... kenapa lu mau disini." Ucap Andi menggerutu.


"Saya hanya tidak terbiasa makan sendiri."


"Terserah Lo dah.. yang penting jangan ganggu gw."


Begitulah percakapan awal mereka sampai pada akhirnya Andi luluh dan akhirnya berteman dengan Juna.


__________________####_________________


1 bulan kemudian... semuanya telah siap dengan rencananya masing-masing.


Di rumah sakit pula, Sang Dokter dengan setia membantu Hana dalam rencananya dan mereka sepakat untuk tetap diam hingga Juna berhasil menangkap pelaku sebenarnya.


__________________####_________________


Di rumah keluarga Nining,


Tampak banyak sekali makanan yang tersedia. Sepertinya akan ada jamuan makan besar yang melibatkan keluarga Juna.


Nining dengan setia menunggu kedatangan calon Ibu dan Ayah mertuanya. Raut wajah bahagianya tak terelakkan.


_________________####__________________


Di dalam mobil, Arya Bram dan Sang istri dibantu pak Doni menyatukan pendapat dan pemikiran mereka.


"Aku sangat yakin dengan wanita itu. Dia adalah biang kerok semua ini. Maka dari itu, aku bersusah payah melakukan ini untuk menangkap basah dirinya!"


"Bagaimana kau bisa seyakin itu?" Tanya Arya Bram terkejut.


"Aku menyiksa seorang pembantu yang menjadi mata-mata Meysa. Dan dia akhirnya membongkar siapa yang ada di balik semua ini." Ucap sang istri dengan marah.


Mendengar hal itu pak Doni terkejut dan matanya terbelalak.


"Maaf nyonya? Nona Meysa?" ujar pak Doni tak percaya.

__ADS_1


"Ya... bahkan aku menyekapnya di ruangan yang tidak diketahui siapapun." Ujar sang istri sambil menyimpan rasa dendam pada semua tragedi ini.


"Kau mengerikan juga ya, istriku..." ujar Arya Bram tersenyum geli.


__________________####_________________


Di suatu jalan menuju kos-kosan, Andi dan Juna bercengkrama.


"Oh.. jadi lu memang pindahan dari universitas sebelah ya. Lu jangan pindah-pindah gitu. Emang lu punya duit?"


"Saya tidak punya banyak uang, tapi saya cari kenyamanan aja... saya tau saya jelek, jadi banyak yang tidak suka dengan saya." ucap Juna berpura-pura polos.


"Gue kasih tau ya, hidup ini keras. Lu harus pinter-pinter cari duit buat biaya hidup Lo. Kalo pun itu harus pake jalan kotor kayak gue." ucap Andi tak merasa bersalah dengan sikapnya yang seperti itu.


"Maaf? maksud mu? jalan kotor?" Tanya Juna


"Gue sekarang punya brankas duit yang bisa gue bawa kemana-mana. Gue ga akan pernah kehabisan uang, bahkan gue bisa hidup mewah kayak konglomerat, tau!" Ujar Andi sombong.


"Hm... begitu ya... saya akan coba seperti kamu." Ucap Juna berpura-pura pasrah.


"Nah... gitu. Lu harus bisa kayak gue! Sini, gue ajak loe ke kamar gue dan gue akan lihatin semua yang berhasil gue dapetin." Ujar Andi bangga.


Juna menoleh dan dia tak menyangka dengan apa yang didengarnya. "Sialan kau Andi." gumam Juna dalam hati.


__________________####_________________


Sesampainya di kamar kos Andi, Juna bergidik. Melihat kondisinya yang kotor dengan banyak sampah dimana-mana. Ia juga melihat banyak sekali komik dan majalah dewasa yang membuatnya risih.


"Selamat datang di istana gue. Duduk dimana pun yang elu mau. Asal jangan sentuh barang apapun di meja gue." Ujar Andi sambil melempar tasnya dan juga pergi ke kamar mandi.


Juna terkejut dengan sesuatu yang ada di atas meja. ya... itu adalah kumpulan foto para target Andi yang selama ini diincarnya.


Juna menggeser beberapa foto di meja itu dan ia sangat terkejut mendapati foto Hana ada diantara banyak foto para gadis itu.


Juna lantas memfoto dengan handphonenya sebagai barang bukti. Ia juga memfoto seisi ruangan kamar Andi.


"Bagus... aku menemukan bukti utamanya." gumam Juna.


Ia juga lantas menemukan minuman leci yang terjatuh di dekat meja kerjanya itu. Difotolah juga minuman leci itu.


Selintas Juna mengingat perkataan pak Doni.


"Tuan Juna, seorang pria muda menawarkan dagangan kepada nona Hana di minimarket. Dan itu tampak seperti minuman..."


Juna pun membuyarkan lamunannya dan seketika dia sangat merindukan Hana.


"Aku sangat merindukanmu Hana... kumohon sadarlah dari koma..."


__ADS_1


__ADS_2