Handsomeness Hide

Handsomeness Hide
Eps. 19. Just 2 of Us


__ADS_3

Malam menunjukkan pukul 10 sekarang, namun tak ada tanda-tandanya hujan akan berhenti mengguyur bumi ini. Pak Doni juga sulit untuk dihubungi.


Juna dan Hana benar-benar skakmat di dalam rumah kontrakan yang hanya berukuran 5x6 meter tersebut. Bahkan rumah kontrakan itu hanya diisi oleh Hana seorang diri tanpa ada siapapun lagi.


Juna terdiam dan meringkuk sambil sesekali melirik Hana yang juga bersikap sama dengannya. Sungguh lucu tingkah kedua insan yang saling jatuh cinta ini.


Pada akhirnya Juna memberanikan diri untuk memulai pembicaraan dengan Hana. Berharap mampu mencairkan suasananya yang mulai tegang.


"Han..." tanya Juna sambil menoleh.


"Ya?" Jawab Hana singkat berusaha sekuat tenaga agar tidak melirik Juna.


"Emm... apakah kau kedinginan?" tanya Juna tanpa dipikirkan terlebih dahulu.


"Tidak. Aku tidak kedinginan hehe..." ucap Hana grogi. Hana tersipu malu karena suasana ini terasa begitu kaku bagi mereka berdua.


"Kemarilah... pakai selimut ini. Aku tidak kedinginan. Kau memerlukannya." ucap Juna lembut sambil menatapnya penuh perhatian. Mendengar hal itu Hana mulai kehilangan akal karena malu. Ia sangat grogi hingga tak dapat menatap Juna.


"Tidak maukah kau membersihkan wajahku?" ucap Juna lagi sambil tersenyum jahil mencoba mencairkan suasana.


"Hei Jun... kau bisa melakukannya sendiri kan... " tawa Hana yang mulai mencair karena tingkah Juna yang lucu.


Juna mengusap wajahnya sendiri dan memasang raut wajah yang menyedihkan dan berpura-pura menangis karena Hana tidak mau menolongnya bahkan melihat wajahnya. Melihat kelakuan Juna, Hana pun tersenyum manis dan akhirnya ia melakukan sesuatu.


Hana bergegas mengambil kotak make up nya yang terlihat tidak bagus dari lemari pakaiannya. Ia mengambil beberapa kapas dan micellar water dan langsung duduk menghadap Juna. Beberapa tetes air pembersih itu membasahi kapas yang dipegang Hana dan lekas ia seka make up samaran yang menempel pada wajah Juna.


"Seperti ini kan?" ucap Hana simpel.


Sambil menunggu Hana membersihkan make up di wajah Juna, ia pun menatapnya dengan penuh cinta dan sesekali tersenyum manis melihat kekasihnya itu merawat dirinya.


Setelah usapan terakhir selesai, Hana terdiam. Pipinya mengeluarkan semburat warna pink yang cantik karena spontan begitu malu ketika matanya saling berpandangan dengan Juna.

__ADS_1


Beberapa saat mereka terdiam dan menikmati pandangan itu satu sama lain. Hana merasa begitu beruntung menjadi pilihan Juna sebagai wanita satu-satunya yang dicintainya. Bahkan kini hujan adalah satu hal yang paling disukai oleh Hana karena mengingatkan peristiwa manis ini.


Juna pun mendekat dan meraih pipi Hana yang masih memerah tersebut. Pastinya Hana semakin grogi dan jantungnya berdebar semakin kencang.


"Maukah kamu jadi istriku...?" Tanya Juna dengan sangat mesra membuat Hana seperti mau meledak rasanya.


"Jun..." ucap Hana tanpa sadar dan seluruh tubuhnya bergetar karena tak percaya Juna mengatakan hal itu secara pasti dan penuh keyakinan.


Juna mengetahui perasaan yang tengah dirasakan Hana saat itu lewat gerak geriknya. Sehingga ia lantas mencoba mencium Hana untuk menghilangkan kikuk itu.


"Jangan malu atau ragu padaku." ucap Juna menatap kedua mata Hana secara mendalam.


Hana terhanyut dalam tatapan Juna yang indah itu. Hana mulai memahami apa yang diinginkan Juna dan mengerti perasaan Juna setelah lama mereka saling bertatapan.


Hana lantas mengangguk memberikan kode pada Juna dan memeluk Juna dengan lembut.


"Ya... aku mau.." ucap Hana tersenyum sumringah dan dengan ucapan itu menandakan bahwa mereka telah bersatu untuk selamanya.


Tanpa sadar Juna meneteskan air mata di hadapan wajah Hana. Satu persatu air matanya jatuh mengalir membasahi pipinya. Juna sangat terharu.


Hana tersenyum melihat Juna dengan polosnya menunjukkan perasaan. Hana luluh dengan sikap serta kebaikan Juna yang tulus selama ini sehingga dirinya sangat bahagia akhirnya menemukan sosok pendamping hidup yang nyata memberikan kasih sayang yang akan selalu tulus padanya.


"Hana..." Suara Juna bergetar karena menahan rasa haru bercampur bahagia. Hana secara cepat lantas memeluk lagi calon suaminya itu dengan erat dan penuh kasih sayang.


"Aku mencintaimu pak Komisaris..." ucap Hana menghibur Juna. Mendengar hal itu, Juna tertawa kecil menyadari bahwa dirinya berkelakuan bak anak kecil yang merengek pada ibunya.


"Aku... sangat... sangat mencintaimu.." ucap Juna tanpa sadar saat mereka berdua tertawa bersama.


_________________####__________________


Di kediaman keluarga Arya Bram...

__ADS_1


Pak Doni secara terus terang mendatangi Arya Bram dan membagikan kabar bahagia Juna padanya. Pak Doni telah merencanakan sendiri laporan ini kepada Arya Bram tanpa sepengetahuan Juna. Inisiatif ini adalah hadiah bagi tuan Juna yang diberikan pak Doni karena sudah menganggapnya sebagai sosok teman yang baik.


"Pak Arya, sepertinya anda akan menjadi seorang kakek..." ucap Pak Doni bicara dengan penuh sopan santun padanya.


Hal itu bagaikan mendapat hembusan angin besar yang membuat dirinya terbangun dari tidur panjang. Arya Bram langsung berdiri mematung dan memancarkan aura positif ketika menerima berita itu.


"Bagaimana bisa pak Doni? ada apa dengan Juna?!" ucap Arya Bram sangat penasaran.


"Tuan Juna sudah resmi memiliki calon istri." ucap Pak Doni terbata-bata membuat tingkat kepenasaran Arya Bram memuncak.


Mendengar hal itu adalah suatu kejutan yang tak terduga bagi keluarga Arya Bram.


"Langsung siapkan pernikahan! mulai besok hubungi bagian khusus penanganan pernikahan! aku tidak mau siapapun menghalangi kebahagiaan anakku Juna dan juga masa depan kami!" seru Arya Bram histeris dan langsung mendelegasikan itu pada pak Doni tanpa memikirkannya.


Pak Doni terbelalak. ia tak bisa mengucapkan sepatah katapun karena efek dari perkataannya itu membuahkan sesuatu yang sangat besar dan tidak dapat diduga olehnya sendiri. Ia sangat tak menyangka Pak Arya Bram sungguh welcome dengan berita yang disampaikannya itu.


"Aku sendiri yang akan mengatakannya pada istriku. kau tetaplah menjaga Juna, pak Doni." ucap Arya Bram begitu bahagia.


Wajar saja hal itu sangat membahagiakan bagi keluarga Arya Bram, karena selama ini Juna satu-satunya penerus keluarga Arya Bram tidak pernah merasakan jatuh cinta pada gadis manapun. Juna sangat introvert untuk urusan asmara dan hal itulah yang membuat istrinya Arya Bram sangat ketakutan dan selalu menjodoh-jodohkan Juna kepada banyak gadis kenalannya.


_________________####__________________


Pagi pun tiba, hujan telah berhenti semenjak dini hari. Langit yang tertutupi awan hujan kini tampak cerah dan sangat jelas. Embun sisa hujan telah turun menghiasi suasana pagi hari yang indah tersebut.


Handphone Hana berdering, Hana pun membuka matanya perlahan. Ia menoleh ke arah sofa dan memastikan apakah Juna masih tertidur di sana.



Ia lekas mematikan alarm pagi yang selalu disetting untuk membangunkan dirinya tepat waktu. Segera perlahan-lahan ia beranjak dari ranjang dan berusaha agar tak mengeluarkan suara langkah kakinya. Namun.....


BRUK!!!

__ADS_1


__ADS_2