
Hana akhirnya mengetahui betapa Juna begitu memahami dirinya. Setiap hari Juna selalu bertanya mengenai apa saja kegiatan yang tengah dilakukan Hana. Mulai dari pagi hingga malam hari. Tak luput dari perhatian Juna.
Hana juga mulai terbiasa untuk mencurahkan isi hati dikala sedih dan bimbang padanya. Menjadi nilai plus bagi Hana ketika Juna dapat memberikan solusi yang sangat membantu Hana keluar dari segala permasalahan.
Suatu hari Hana datang mengunjungi toko sparepart tempat dimana dulu ia pernah bekerja. Ternyata toko itu telah tutup selama 3 bulan. Ia merasa miris mengingat apa yang dilakukannya masa itu.
Ia mengingat dirinya ketika bekerja berat seorang diri, tinggal di mess karyawan yang tempatnya jauh dari layak, tak memiliki teman bahkan semua menjauhinya.
Hana merasa sedih dan berusaha untuk tegar mengingat hal itu. Namun tiba-tiba seseorang seseorang datang menepuk pundaknya dari belakang.
"Hei!" ucapan seorang wanita terdengar.
Hana menoleh. Ia terkejut siapa yang ditemuinya. "Meysa???" ucap Hana tak percaya karena bisa bertemu di tempat itu.
"Hei, gimana kabarmu? Kamu gak kerja lagi disini?" tanya wanita bernama Meysa yang ternyata adalah Nining.
"Engga... maaf." ucap Hana memalingkan wajah.
Nining terkejut, sifat Hana berubah dari terakhir kalinya ia bertemu. Ia berpikir bahwa Hana akan selalu malu-malu dan takut berbicara dengannya, namun kini Hana berperangai berani dan cuek.
"Oh... kamu banyak berubah ya. Aku senang." ucap Meysa tersenyum memaksa.
"Terimakasih ya, ternyata kamu memperhatikan aku." jawab Hana sambil mendekatkan diri padanya.
Nining sekali lagi terkejut dengan jawaban Hana. ia mulai heran dan bertanya-tanya. Mungkinkah ada seseorang yang mengubah dirinya?
_________________####__________________
Saatnya menikmati makan siang, Hana dan Nining memilih untuk makan bersama di suatu rumah makan yang letaknya tak jauh dari LaSally University.
Hana makan dengan lahap dan Nining sesekali memandangi dirinya dengan speechless.
"Orang yang kuremehkan dulu kini berubah..." gumam Nining di dalam hati.
Sementara itu di CeSt, Juna tengah berjalan-jalan di sekitar tempat produksi fashion item. Ia mengontrol kinerja semua orang dan juga mendalami atmosfer serta suasananya yang pernah ia rasakan dahulu ketika ia masih kecil.
Seketika flashback masa lalu muncul...
Juna berada dalam suatu ruangan penuh sesak dengan para pekerja yang sibuk menjalankan mesin garmen. Juna berlarian dan beberapa orang berusaha menangkap Juna. Juna tertawa lepas seakan tak ada masalah yang mengekang dirinya saat itu.
Namun tiba-tiba ia berhenti dan menatap ke satu arah. Seseorang yang tidak dikenalnya tersenyum menakutkan. Semakin lama senyumannya semakin jelas dan semakin mengerikan! Juna berteriak histeris.
__ADS_1
"Astaga!" teriak Juna begitu keras di sekitar koridor kantor. Para direktur yang menemaninya itu terkejut dan segera mengamankan Juna.
"Pak komisaris? ada apa?!!" seru para direktur panik.
Juna tersadar dari lamunannya dan ia terkejut mengetahui dirinya sudah berjalan hingga koridor kantor utama.
"Tidak apa-apa. saya hanya melamun. jadinya seperti ini." ucap Juna menenangkan semuanya. Mereka tampak lega mendengar hal itu.
_________________####__________________
Di minimarket, Hana tampak sibuk melayani pembeli. Seseorang bertanya tentang suatu produk dan Hana dengan pintar menjelaskannya sehingga pembeli tersebut tampak terpana dengan kemampuan Hana.
"Terimakasih banyak mbak. Saya akan datang lagi nanti." ujar sang pembeli merasa puas.
Hana tersenyum manis dan mulai berjalan menghampiri meja kasir. Tapi Hana melihat Juna datang dan dengan cepat ia menghampiri Juna.
"Kau datang lebih cepat?" Tanya Hana senang dan mempersilakan Juna duduk.
Juna yang saat ini dalam mode samaran seperti biasanya tersenyum lebar dan mengangguk. Lantas ia memeluk Hana dengan erat.
"Aku merindukanmu." ucap Juna manis. Hana tersenyum lebar mendengar kata-kata itu.
Mereka berjalan bersama sambil membuat kopi latte di mesin kopi yang ada di minimarket itu. Juna selalu tersenyum dan ia selalu menempel pada Hana.
_________________####_________________
Pak Doni duduk termenung di dalam mobil sambil memperhatikan lalu lalang orang beraktivitas di jalanan itu. Ia terkadang memainkan handphonenya dan kembali melihat jalanan.
"Sepertinya semua sudah semakin dekat. Aku harus segera menyelesaikan tugasku." gumam Pak Doni di dalam hati.
Entah apa yang ada dipikirannya, Pak Doni merasakan satu firasat aneh bahwa akan terjadi sesuatu yang besar, yang akan bersinggungan dengan Juna.
Pak Doni lantas melihat Juna dan Hana yang semakin hari semakin lengket satu sama lain. Ia tersenyum.
__________________####_________________
Cuaca sore itu tiba-tiba mendung. Tak disangka-sangka hujan turun begitu deras. Hana dan Juna tak sempat menyelamatkan kopi latte mereka sehingga kopi itu penuh dengan air hujan dan meluberkan semua isinya.
Hana terdiam. Ia memandangi kopi latte itu.
Melihat Hal itu Juna berusaha menghibur Hana yang mungkin merasa sedih karena hujan tiba-tiba datang dan mengguyur segalanya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa... itu hanya kopi latte." ucap Juna tertawa kecil menghibur Hana.
"Ya... kau benar. aku bisa membuatkannya lagi kalau kau mau." ucap Hana berusaha tersenyum pada Juna, padahal jauh di lubuk hatinya, ia merasakan kesedihan yang mendalam ketika mengingat tentang Hujan.
Juna sangat peka dengan apa yang dilakukan Hana setiap waktu sehingga dia hafal bagaimana cara untuk membuat Hana lebih baik dan tenang.
Juna mulai memeluk Hana dari belakang. Hana terkejut dan ia menoleh memandang wajah Juna.
"Jangan pernah bersedih lagi. Kekasihku..." ucap Juna memeluknya dengan hangat dan penuh cinta.
Bagaikan api yang disiram oleh air. Terasa menyejukkan. Itulah yang dirasakan Hana. Hana pun tak kuasa meneteskan air mata karena bahagianya yang tak terkira.
Hujan itu semakin lama semakin deras. Pak Doni segera datang menghampiri membawakan payung untuk mereka. Menjemput Juna dan Hana karena jam kerja Hana telah selesai. Saatnya berganti shift.
_________________####__________________
Juna terus menggenggam tangan Hana seakan tak mau melepaskan diri darinya.
"Tuan Juna, kita akan kemana sekarang?" ujar Pak Doni kebingungan sambil terus menyetir.
Juna menatap Hana dan dengan refleks mengatakan pada pak Doni untuk membawa mereka pulang ke rumah kontrakan Hana. Tentu saja ucapan Juna membuat Hana terkejut setengah mati.
"Jun? kenapa.. kau mau ke rumah kontrakan ku?" Tanya Hana terkejut dan membutuhkan jawabannya segera.
"Aku berhak tau tempat tinggalmu sekarang. Setelah itu, aku akan membawamu berkenalan dengan orangtuaku." Ujar Juna dengan mesra.
"Baiklah... tapi apakah kamu yakin? tempatnya tidak bagus." ucap Hana malu.
"Aku tak memperdulikan hal seperti itu. sudah." Ucap Juna menenangkan Hana sambil tersenyum manis.
_________________####__________________
Karena hujan begitu deras, Juna memilih untuk setia menemani Hana hingga hujannya mereda. Ia tak mau apabila Hana merasakan kesepian lagi seperti apa yang pernah dialaminya dulu.
Sesampainya di rumah kontrakan Hana, Mereka turun dari mobilnya dan tiba-tiba angin kencang muncul menerbangkan payung yang dipegang Juna. Hana terkejut dan langsung menarik Juna masuk ke dalam rumahnya sementara pak Doni memilih untuk diam di mobilnya.
"Pak Doni! ayo masuk! aku akan buatkan teh hangat!" ucap Hana berusaha meraih pak Doni.
"Tidak usah nona! saya akan mengambil barang tuan Juna di suatu tempat. Saya akan kembali lagi nanti." ucap pak Doni beralasan sehingga mempersilakan Juna menikmati waktu dengan Hana lebih lama lagi.
Pak Doni pun menghilang dari pandangan setelah itu.
__ADS_1
_________________####________________
"Bagaimana ini... aku dan Juna... kami berdua saja..." ucap Hana bergumam sambil menatap Juna grogi.