Handsomeness Hide

Handsomeness Hide
Eps. 8. Emergency Time


__ADS_3

Malam itu, kondisi rumah sakit tampak sibuk dengan banyaknya pasien yang datang dan pergi. Lalu lalang bagaikan di pusat keramaian. Juna duduk termenung di sudut ruangan khusus tunggu pasien. ia masih syok dengan kejadian singkat yang membuatnya sulit bernafas tersebut.


Seseorang berjalan kaki dengan ritme yang pelan, menghampiri Juna yang kala itu tidak berdaya.


"Tuan muda, apakah anda baik-baik saja?" tanya asisten pribadinya itu bernama Pak Doni.


"iya... sedikit." Jawab Juna tanpa menoleh.


"Saya mengerti perasaan anda. Jika anda mau, saya bisa mendengarkan apa yang tuan muda pikirkan sekarang. jangan ragu-ragu." Nasehat pria yang disebut sebagai asisten terbaik kepercayaan keluarga Arya Bram tersebut.


"Saya hanya merasa bingung, dan saya kecewa dengan diri saya sendiri. Mengapa saya selalu menyakiti orang lain." Curhat Juna dengan lirih.


"Menyakiti? maksud anda?" Tanya sang asisten.


"Saya tau saya ini bermasalah. Itu sebabnya saya memilih untuk berpenampilan buruk seperti ini. Saya ingin agar diri saya dipandang dengan apa adanya saya. Saya memiliki trauma berlebihan terhadap wanita yang obsesi terhadap saya. Saya berharap agar saya berhenti menyakiti orang lain karena kelebihan saya ini. Maka dari itu, mau tidak mau, saya harus menyembunyikan identitas asli saya. Tapi ini tidak mudah bagi saya!!" Ucap Juna gamblang padanya.


Reaksi pak Doni begitu serius mendengarkan masalah ini. ia teringat flashback percakapan antara dirinya dengan kedua orang tua Juna kemarin tanpa sepengetahuan Juna.


"Tolong jaga dia dan bantu dia untuk keluar dari trauma dan gangguan mental yang dialaminya itu. Saya mendelegasikan anda, karena saya percaya anda." Ucap sang Ayah pada pak Doni.


Lamunan Pak Doni pun buyar dengan kedatangan Dokter yang selesai memeriksa gadis misterius tersebut.


"Selamat malam, saya akan melaporkan kondisi kesehatan gadis ini. Bisakah saya melihat identitas aslinya? agar kami bisa merekap nama pasien untuk dipindahkan ke ruang rawat inap." Ucap sang dokter begitu ramah.


Juna terhenyak, ia panik. Ia baru ingat, bahwa ia tak mengenal gadis ini dengan baik. bahkan, ia tak tahu identitasnya sama sekali.


"Saya akan menghubungi orang tuanya. mohon tunggu ya Dok." Tiba-tiba pak Doni membantu Juna berbicara. Juna pun melongo melihat kesigapan Pak Doni.


"Orang tua?" bisik Juna bingung dan menoleh pada pak Doni.


"Saya akan cari identitas dan semua informasi gadis ini... hanya dalam 10 menit tuan muda. mohon tunggu sebentar." Ucap Pak Doni dengan suara kecil serta memberikan kode pada Juna. Juna pun mengerti maksudnya dan ia mengangguk.

__ADS_1


"Saya harap, rahasiakan ini dari semua orang termasuk orang tuaku. Kumohon. Aku ingin mengendalikan situasi ini oleh diriku sendiri." ujar Juna dengan gemetar.


"Siap, laksanakan, tuan muda." Pak Doni tersenyum menguatkan Juna yang kala itu sangat ketakutan.


__________________####_________________


Di balik tirai hijau ruang UGD tersebut, terdapat gadis cantik nan polos yang masih terlelap tidur karena pengaruh obat. Juna menghampirinya dan menyingkapkan sedikit tirai itu.


Dilihatnya sosok gadis cantik yang sama seperti dalam mimpinya. Dia mengelus rambut hitam sang gadis sembari tersenyum. Perasaannya campur aduk. Antara sedih, senang, dan kebingungan.


"Sampai seperti inikah kamu berjuang untuk hidup? bahkan kau tidak makan seharian ini kan?" Ucap Juna bernada kecil.


"Dokter bilang kamu harus makan. kamu itu perlu asupan makanan. Kamu seperti ini karena kamu kekurangan energi, kamu tau?!" ucapnya lagi menirukan suara ucapan dokter pada gadis yang masih tertidur itu.


Juna memilih duduk di kursi sofa sambil beristirahat sejenak dari rasa lelahnya akibat semua yang terjadi ini.


"Kalau saja aku tidak ada... maka gadis ini bisa mati." Ujar Juna sambil memejamkan mata.


__________________####________________


"Halo, pak Doni? apa yang terjadi? kenapa Juna belum pulang juga? ini sudah jam 1 malam." Ucap sang ibu menelepon pak Doni.


"Maaf saya telat mengabarkan. Tuan muda Juna sedang ada pekerjaan di kampus. Saya melihatnya. kemungkinan ia menginap." Pak Doni menutupi informasi mengenai keberadaannya sesuai instruksi Juna.


Sang ibu kaget,


"Apa? sampai selarut ini dia belajar?"


"Iya nyonya, ada proyek mahasiswa yang harus dirampungkan oleh tuan Juna." Tambah pak Doni, berusaha untuk meyakinkan sang ibu.


"Hm... baiklah tolong jaga dia baik-baik. Kami menitipkan Juna padamu." Ucap sang ibu sambil menutup teleponnya.

__ADS_1


Setelah percakapan di telepon itu, Pak Doni lantas memegang selembar kertas putih berisikan informasi data yang akurat mengenai gadis yang pingsan tersebut. Pak Doni menatap kertas dengan mata yang tajam.


Sementara di rumah keluarga Arya Bram, sang ibu terlihat cemas dan tak mau berdiam diri.


"Anak ini benar-benar... ya sudah setidaknya ada Pak Doni." gumamnya. Ia memandang suaminya yang sudah tidur terlebih dahulu di ranjang. ia pun memilih untuk langsung bergegas tidur.


__________________####________________


Semalam suntuk, Juna benar-benar tidak tidur demi menjaga gadis yang ia temukan itu. Pak Doni berjaga di luar ruang rawat inap, sementara Juna menjaga dari dalam ruang rawat inap berkelas VVIP.


Juna terlihat lelah. ia melepaskan kacamatanya dan ia memejamkan mata sejenak. Namun ia kembali membuka matanya sambil melamun.


"Aku harus bicara apa pada gadis yang bernama Hana ini? bahkan aku tak pandai berkata-kata pada seorang wanita." gumamnya dan berpikir keras sambil membaca selembar kertas yang telah pak Doni berikan padanya. Ia pun segera melipat kertas itu dan menyimpannya dalam saku celananya.


Tak lama berselang, Juna akhirnya tertidur di sofanya.


_________________####__________________


Saat Juna terlelap, gadis itu akhirnya sadar dan mencoba membuka mata. ia sangat lemas dengan selang infus yang masih terpasang di lengan kanannya. Ia mencoba menerka kondisi sekitarnya. namun ia terdiam saat melihat seorang pria yang tertidur di kursi sofa dekat dengan dirinya. Gadis itu sangat kebingungan.


"Siapa dia? bukankah dia yang pernah datang ke toko? dan kenapa aku di sini?" Ujarnya dengan suara yang lemah. Sambil mencoba mengingat dengan jelas.


Saat ia terlalu lama memandang Juna, Luka akibat jatuh pingsan di kepalanya mulai bereaksi dan membuatnya sedikit pusing. ia memegangi kepalanya dan menyandarkan lagi dirinya di ranjang.


"Astaga... aku kebablasan lagi... seharusnya aku tetap kuat. Aku tak boleh seperti ini!" ucap Gadis itu. Ia mencoba bertahan dengan rasa sakitnya dan pada akhirnya ia tertidur karena lemas.


_________________####__________________


Keesokan harinya, Juna terbangun dari tidurnya, dan dia segera memakai kembali kacamatanya yang ia simpan di saku jaketnya.


"Hmmm sudah pagi..." Ujar Juna melihat sinar yang sedikit menyilaukan matanya dari arah jendela ruangan VVIP tersebut.

__ADS_1


Ketika ia menoleh ke arah ranjang, betapa kagetnya ia melihat sesuatu dan membuatnya terperanjat!


"Astaga!!!" Ucap Juna refleks.


__ADS_2