
Kejadian semalam sungguh membuat Juna kebingungan. Malam itu menjadi awal baru lagi bagi Juna untuk memahami apa yang dia alami dalam waktu singkat itu.
Ternyata wanita itu adalah seorang praktisi veteran yang memiliki catatan hebat dalam bidang psikologi. Ia mampu membuka isi pikiran, isi hati yang sangat sulit sekalipun.
Ibunya Juna mendapatkan rekomendasi dari asisten pribadinya tersebut saat dalam masa pencarian pengobatan terhadap masalah anaknya tersebut.
Ia menyodorkan catatan yang rapi dan juga terbungkus oleh map cokelat tersebut pada Juna. Juna pun bereaksi.
"Maaf Bu, apa ini? apakah..." Tanya Juna pada wanita tua itu.
"Berikan ini pada ibumu. jangan pernah kamu buka file ini selain oleh ibumu." Ucap wanita tua itu tegas dan menyela ucapan Juna yang belum selesai.
"Baiklah." Ucap Juna menghormati wanita tua itu.
__________________####_________________
Beberapa hari berselang sejak saat itu, Juna merasa ada sesuatu yang berubah dari dalam dirinya. Ia merasa seperti gelisah... tidak tenang... bahkan ia terkadang berhalusinasi terhadap seorang gadis yang ada dalam alam bawah sadarnya.
"Ada apa dengan diriku? apakah aku tampak begitu menyedihkan sehingga aku harus mengalami semua ini? aku bahkan tidak mengenal diriku sendiri sekarang. Anehnya lagi, aku mulai cuek dengan keadaan sekitar. Aku seperti aku terlahir kembali." gumam Juna dalam hati.
Saat ia harus beraktivitas sekalipun, ia masih terus memikirkan gadis itu. ia tak bisa berkonsentrasi secara penuh. Ia mulai mempertanyakan sikap ibunya yang membuat dirinya harus mengalami kejadian itu.
"Apa yang diinginkan ibu sampai aku harus bertemu wanita tua itu? kenapa aku terus memikirkan bayangan yang bahkan aku tak tau siapa dia? ini aneh sekali... ini tidak ada dalam teori ku." gumam Juna dalam hati sambil terus memainkan pena nya.
Melihat kebingungan temannya itu, Angga yang duduk di sebelah Juna saat itu berusaha menggali informasi mengapa temannya itu bersikap aneh.
"Ssttt... kamu kenapa Jun? dari pagi kamu ga konsen bro..."
"Aku bingung, ini bukan tujuan ku. kenapa aku memikirkan hal yang tidak nyata." Ucap Juna lirih
"Hah? mikir apa?" Tanya Angga semakin penasaran.
"Gadis..." Ucap Juna simpel.
"Hey...hey... kamu naksir siapa?" Tanya Angga mencoba untuk bercanda.
"Entahlah..." Juna makin tidak konsentrasi.
"Bisa juga kamu ya. aku kira cuma naksir belajar doang." Tambah Angga yang membuat Juna semakin kacau.
__ADS_1
"Hey pak Angga... Kau mengintrogasi diriku hah? hahaha" Juna berusaha sadar dan langsung membalas candaan Angga. Diiringi dengan tertawa kecil mereka berdua. Membuat Juna merasa jauh lebih baik.
Melihat mereka tertawa dan berbicara secara diam-diam, Nining terheran karena tidak biasanya Juna tertawa seperti itu. Ia memperhatikan dengan penuh konsentrasi apa yang sedang dilakukan kedua temannya itu.
"Hm... ini aneh..." Ujar Nining yang saat itu duduk di belakang mereka berdua. Ia terus memperhatikan gerak gerik Juna.
Setelah jam perkuliahan selesai, Nining menghampiri Juna. Ia berusaha untuk mendekatinya dan mencari tau.
"Jun, mau pulang skr? bareng yuk." Ucap Nining berpura-pura mengajaknya pulang, padahal ia berusaha untuk mengorek informasi tentang Juna.
"Ayo, kita bareng. Tapi cuma sampe halte bus aja ya. aku harus pergi lagi ke suatu tempat." Ujar Juna tersenyum.
"Mau kemana memangnya?" Tanya Nining semakin penasaran.
"Mau beli pesanan pak dosen, Kain jarik juga sparepart mesin. (untuk mesin jahit.)" Ucap Juna sambil memperlihatkan secarik kertas yang ditulis pak dosen.
"Aku bisa antar kamu kok, yuk!" Ujar Nining memanfaatkan kesempatan untuk bersama Juna lebih lama lagi.
"Benar bisa? baiklah." Juna tak bisa menolak.
Nining tersenyum penasaran. ia benar-benar ingin tau, apa yang terjadi sebenarnya. Mereka berjalan santai menuju halte bus, untuk segera pergi ke tempat yang dituju.
"Semoga bisnya ga penuh ya." Ucap Nining mencairkan suasana.
"Yup, tentu..." Ujar Juna sambil tertawa ramah.
_________________####__________________
Sesampainya di lokasi pertokoan, Juna lantas mencari tempat yang dituju. Nining menemani Juna kemanapun Juna melangkah.
"Sepertinya, lokasi tokonya tidak jauh dari sini. Ayo kita berjalan sedikit ke sebelah sana." Ucap Juna sambil terus melihat jalan.
Nining mengangguk. ia tau apa yang Juna pikirkan.
"Hey Jun, kenapa ga mampir aja ke toko punya temanku? kalo cari disini susah... adanya bahan kain semua. kamu butuh sparepart juga kan?" keluh Nining karena sedikit lelah berjalan. Namun dia malu mengatakannya secara gamblang.
"Ya, betul. kamu benar sekali." Jawab Juna sambil tersenyum padanya.
"Dasar kau ini... hehe" ucap Nining menepuk Juna sambil tertawa. Merekapun beranjak pergi dan menuju ke toko milik temannya Nining.
__ADS_1
"Syukurlah Juna menurut... kalau tidak aku bisa pingsan karena berputar-putar terus huhu.." gumam Nining di dalam hatinya.
_________________####__________________
Sementara itu di rumah megah Juna....
"Apa maksudmu? Juna akan bertemu jodohnya? statement macam apa itu?!" Ucap ayah Juna kaget saat ia baru menyelesaikan pekerjaannya di ruangan kantor Komisaris CeSt.
"Ini sesuai hasil dari catatan yang diberikan psikolog itu. Aku membayar nya lebih mahal agar Juna bisa mengubah kebiasaan buruknya itu." Ucap ibunya Juna memberikan catatan pada sang suami.
Ia pun membaca tulisan demi tulisan di catatan itu.
"Hah? Apa ini?" Tanya sang suami begitu terkejutnya membaca pesan dari sang psikolog.
Air mukanya berubah. Matanya terbelalak, dan seakan tidak percaya. Arya Bram sungguh terkejut dan tak menyangka bahwa ada sesuatu yang terjadi pada Juna.
"Jadi... dia terserang gangguan psikologis?? apa-apaan ini! Ginofobia dan Agoraphobia???
Ini tak mungkin!" Serunya tak bisa menyembunyikan kecemasan akan anak satu-satunya itu.
"Ya.. itu benar, sayang. Kita harus melakukan sesuatu agar Juna bisa terselamatkan. Aku tak bisa menanganinya sendiri. Kau juga harus membantuku!" Seru istrinya sambil menyeruput secangkir teh hangat yang diberikan oleh sekertaris sang suami.
Arya Bram termenung. ia kebingungan dengan hal tersebut. Ia memutar otak dan berusaha mencari jalan keluar. Sesekali ia beranjak dari kursinya dan terus berjalan.
"Kita harus benar-benar bertindak." Ucap Arya Bram.
"Ya, aku menunggu keputusanmu, sayang."
"Aku akan menunggu Juna untuk segera menyelesaikan studinya di kampus itu. Dan aku yang akan turun tangan untuk melatihnya sesegera mungkin menjadi Komisaris Utama." Ucapnya sambil menoleh pada sang istri.
"Setidaknya, itu yang bisa kita lakukan. dia harus terlibat sesegera mungkin dalam lingkungan karir keluarga Bram." Ucap istrinya itu menyetujui.
Arya Bram terdiam. ia mengingat flash back dirinya dikala muda dahulu yang ternyata sama seperti dirinya.
___________________####________________
"Aku tak menyangka... Juna akan mengalami hal yang sama sepertiku.."
- Arya Bram
__ADS_1