
Berhari-hari Hana dirawat di ruang ICU karena kondisinya yang memprihatinkan membuat Juna bergerak cepat mengungkap misteri dibalik orang asing tersebut.
"Fajar Pratama? Anda mau kemana?" Ucap salah seorang dosen yang sedang mengajar di depan kelas. Ia kebingungan melihat Juna pergi membawa tasnya begitu saja meninggalkan waktu perkuliahan tersebut.
"Saya ada urusan mendesak. Maaf sekali saya pergi pak." Ucap Juna Sambil meninggalkan ruang kelas.
"Anak itu! Tapi... sepertinya aku mengenali gerak geriknya..." Ucap sang dosen sambil terus menatap Juna yang pergi meninggalkan dirinya.
__________________####_________________
Juna pergi mengunjungi kantor ketua prodi, lalu ruangan TU hingga ruangan Dekan untuk mencari identitas lelaki misterius tersebut. Semua yang dilakukannya ternyata membuahkan hasil.
Pria misterius itu bernama Andi. Ia terdaftar sebagai mahasiswa pindahan dan juga sebagai mahasiswa kelas karyawan.
"Dia sama sepertiku. Penyamaran yang sangat sempurna." Ucap Juna sambil memegangi berkas-berkas penting mengenai informasi Andi.
__________________####_________________
Juna mengurung diri di kamar kosnya. Ia berpikir keras dan mengandalkan intuisinya untuk mengungkapkan semua ini.
"Jadi... jika Hana mulai sakit sejak hari itu, dia sudah dalam pengaruh racun tersebut. Dokter tak mungkin berbohong, karena dengan jelas ia mengemukakan segalanya tentang kondisi Hana. Lalu... Pria bernama Andi ini menjadi mahasiswa pindahan sejak hari dimana kami mulai berpacaran." Ucap Juna terus menyambungkan semua kejadian itu.
Juna pun segera menelepon Arya Bram dan mengkomunikasikan semua pemikirannya.
"Halo Ayah? lama tak bertemu..." Ucap Juna dengan serius.
"Juna?!" Jawab sang ayah dengan terkejut.
"Bagaimana sekarang?" Ucap Arya Bram sambil berbisik.
___________________####________________
Sementara itu, Pak Doni masih dalam pengawasan Andi atas permintaan Nining. Hal itu sudah diketahui olehnya sendiri dan ia dengan sengaja selalu berada di dekat Hana untuk terus memancing Andi mengawasinya.
"Silakan awasi aku semaumu nak, kau akan menyesal." Ucap Pak Doni di dalam hati sambil berpura-pura sedih menunggu Hana tersadar.
"Bayaran ku akan semakin besar mengetahui hal ini, karena akan menjadi kabar baik bagi nona Meysa." Ucap Andi memperhatikan pak Doni dari jauh.
_________________####_________________
Arya Bram sangat marah dengan semua kejadian ini. Tak tinggal diam, ia memanggil seluruh bodyguard nya khusus untuk melindungi Pak Doni dan Hana sementara waktu. Ia juga menyewa seorang detektif khusus untuk menyelidiki siapakah dalang dibalik pria misterius itu.
"Apakah Ayah tak masalah membantuku seperti ini? Aku hanya meminta saran Ayah saja." Ujar Juna terharu.
"Kau itu anak satu-satunya Ayah. Tidak mungkin seorang Ayah membiarkan anaknya terus jatuh dalam kesulitan?" Ucap Arya Bram tersenyum haru.
"Terimakasih Ayah..." Jawab Juna sangat berterimakasih pada sang ayah.
Percakapan telepon itu pun berakhir. Arya Bram langsung bergerak cepat membantu Juna dan begitupun Juna yang bergerak cepat mengumpulkan bukti pria misterius itu.
__ADS_1
__________________####_________________
Tak lama setelah percakapan itu, kondisi Hana menurun lagi. Pak Doni sangat was-was dan terus memantau kondisinya.
"Halo pak Arya, Nona Hana...." Ucap Pak Doni cemas sambil memberitahu kondisi terbaru Hana pada Arya Bram.
"Baiklah... Aku sudah berkompromi dengan Juna mengenai hal ini. Kau terus kabari aku." Ucap Arya Bram bijaksana.
Click... Arya Bram menutup teleponnya. Ia menghela nafas dan ia memasrahkan seluruhnya pada Juna.
"Semoga berhasil nak." Gumamnya.
Sementara dari balik pintu sang Ibu tertunduk lesu dan ia mulai mengerti semua hal yang terjadi. Ia sangat mengenal suaminya itu dan juga mengerti perasaan Juna.
"Semua ini pasti ada dalangnya. Siapa orang yang membuat anakku dan suamiku kesulitan seperti ini?!" gumam dirinya dan ia berbalik untuk pergi.
Namun ia terkejut melihat salah satu pelayan perempuan melihat kearahnya dan sama-sama terkejut.
"Heh?! kamu ngapain disini? kamu menguping?" Ucap sang ibu sambil menangkap basah kelakuan pelayan perempuan itu.
"Maaf Bu! ampunilah saya! Saya mohon!" Ucap pelayan wanita itu mengemis maaf pada sang nyonya.
Ibunya Juna dengan kesal. Ia menggusur Pelayan itu dan memasuki ruangan tertutup di rumah itu.
"Kenapa kau menguping!" Ucap sang nyonya marah.
"Saya... saya disuruh. Saya tidak berniat jahat terhadap tuan Juna." Ujar pelayan itu polos.
"Nyonya, saya dibawah suruhan nona Meysa untuk mengawasi tuan Arya Bram, Nyonya, dan tuan Juna." ucap pelayan itu gemetaran.
"Beraninya kamu!!!" Seraya sang ibu merasa kesal dan akan menampar pelayan itu, namun ia tersadar dan menghentikan tindakannya itu.
"Saya mohon... maafkan saya. saya berjanji akan membantu nyonya dan keluarga saya pantas untuk mendapatkan hukuman!" Ucap pelayan itu makin ketakutan.
Sambil menahan amarah, wanita cantik itu mengerti dengan semua ini. Ia pun menyekap pelayan itu dan mengurungnya di ruangan gelap nan tertutup.
"Kau akan merasakan semua keheningan ini hingga saatnya kau mempertanggungjawabkan perbuatanmu." Ucap Ibunya Juna sambil menutup dan mengunci pintu. Sementara pelayan itu tertunduk pasrah.
__________________####_________________
Akhirnya ia sadar bahwa Meysa yang selama ini berusaha dijodohkan dengan anaknya itu sangat berprilaku buruk hingga dengan sangat lancang memata-matai keluarga besarnya.
Tak tinggal diam, ia pun bergerak sesuai rencananya sendiri dan pergi menemui Hana di rumah sakit tanpa sepengetahuan Arya Bram.
__________________####_________________
Sesampainya di rumah sakit, Pak Doni sangat terkejut dengan kehadiran nyonya besar yang dengan sengaja mengunjungi Hana. Ia pun menyambut dengan sopan majikannya itu.
"Nyonya??" Ucap Pak Doni terkejut.
__ADS_1
"Tak perlu kaget aku datang kemari. Aku datang untuk menemui Hana. Tolong izinkan aku masuk ke dalam." Ucap Ibunya Juna tegas.
"Baiklah nyonya." Ujar pak Doni lantas memanggil dokter yang menangani Hana.
Setelah proses diskusi panjang, Ibunya Juna pun diperbolehkan masuk dan ia menatap dari dekat Hana yang masih tak sadar.
"Hana... anakku..." Ucap Ibunya Juna luluh melihat sosok Hana yang polos dan ia menitipkan air matanya.
Melihat kondisi Hana yang sangat memprihatikan, ia mengingat Juna anak kesayangannya yang begitu mencintai Hana. Wanita itu menangis terdiam sambil terus memanggil nama Hana.
"Tetaplah bertahan nak... Juna menunggumu kembali. Kau satu-satunya menantuku yang aku sayangi. Maafkan prilaku ibu mertuamu ini. Maaf semua ini membuatmu menderita nak..." Ucap sang ibu menumpahkan kesedihannya dihadapan Hana.
__________________####_________________
Kejadian itu membuat Andi terkejut. Ia menelepon Nining alias Meysa dan berkata bahwa ia melihat seorang wanita tua yang mengunjungi Hana seorang diri.
Mendengar hal itu Nining terkejut. Ia pun sangat kesal dengan apa yang didengarnya.
"Jadi, kau juga menarik calon mertuaku, Hana?!! keterlaluan kau!!" Ketus Nining sambil ia memikirkan cara baru.
_________________####__________________
Di sisi lain, Juna berhasil mendapatkan seluruh bukti dan identitas Andi sehingga ia pun memutuskan untuk kembali menjadi Arya Juna dan melaporkan kejahatan yang direncanakan oleh Andi.
Arya Bram melindungi pak Doni dan Hana yang dijaga secara diam-diam oleh para bodyguard nya. Hebatnya lagi, Andi tak mengetahui hal itu.
Ibunya Juna akhirnya memutuskan untuk ikut berperan penting dalam mengungkap kasus teror yang terjadi pada Hana dengan caranya sendiri. Dan bahkan ia sudah mencurigai Nining sebagai pelaku utamanya.
Sehingga lengkaplah sudah semua anggota keluarga Juna berperan aktif melindungi Hana dan bersiap mengungkapkan kasus kejahatan yang terjadi pada Hana.
_________________####_________________
Keesokan harinya, Sang ibu mendatangi rumah fashion milik Nining dan ia menemui secara langsung wanita yang menjadi incarannya itu.
"Nak Meysa... ibu datang kemari, karena ibu sangat khawatir Juna tidak akan pernah menikah." Ucapnya berpura-pura sendu.
"Ibu, jangan bilang seperti itu." Ucap Meysa berpura-pura sedih dan ia sangat penasaran dengan kedatangan wanita itu.
"Ibu berencana menikahkan kamu dengan Juna. Ibu tak ada harapan dengan Hana." Ujar Sang ibu membuatnya sangat terkejut.
"Apa ibu??? serius??"
"Iya nak... tolong persiapkan dirimu, karena kami akan membawa Juna kembali padamu." ucap Ibunya Juna tersenyum manis namun jauh dibalik itu menyimpan rasa benci yang mendalam.
__________________####_________________
"Hana adalah kesayangan kami... tidak akan pernah kau menjadi bagian dari keluarga kami! Bersiaplah kau menerima konsekuensi!"
- Ibu Juna
__ADS_1