
Hari itu menjadi hari yang sangat penting bagi Juna dan Hana karena dengan ketidaksiapan mereka menghadapi keluarga Arya Bram. Pernikahan bukanlah suatu hal yang mudah untuk dilakukan, karena perlu menyatukan segala macam visi dan misi antara dua orang manusia untuk menjadikan satu kehidupan yang sama.
Pertemuan dengan mereka membawa beban baru bagi Hana, karena Hana merasa minder dan tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan siapa dirinya sebenarnya. Disamping ia harus menyelamatkan ucapan pak Doni, dia juga harus membuka jati dirinya pada Juna dan Keluarga.
Beberapa hari setelah pertemuan...
"Jadi, prosesi lamaran akan ditentukan 2 Minggu lagi? itu terlalu lama nak! seminggu lagi sajalah..." pinta sang ibu kepada Juna saat mereka tengah melaksanakan sarapan pagi bersama.
"Sepertinya ibu harus menunggu Hana mempersiapkan diri dan mentalnya. Aku sangat mengerti Hana, dia bukan gadis sembarang yang mau menikahi siapapun yang dikenalnya. Jadi ibu dan ayah harap bersabarlah..." ucap Juna memberikan penjelasan. Hal itu pun menjadi bahan pertimbangan bagi sang ibu.
"Apakah Hana tidak mau menjadi menantu keluarga Arya Bram?" tanya sang ibu melenceng dari topik.
"Ibu! Hana hanya sedang mempersiapkan diri." ucap Juna tegas.
Ya... Hana mengulur waktu untuk menuju ke lamaran itu. Tak bisa dipungkiri, Hana masih memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan dan juga misteri yang harus dipecahkan.
__________________####_________________
Sesampainya di depan minimarket, Juna memandangi Hana yang termenung di meja kasir. Ia melihat gadis itu dengan sendu. Juna seperti mampu merasakan apa yang dirasakan oleh Hana.
Pak Doni tak mampu memberikan pendapat pada Juna, ia hanya mampu terdiam melihat semuanya.
"Apa yang harus aku lakukan pak Doni?" tanya Juna tanpa semangat.
"Sepertinya tuan harus bicara empat mata dengan nona Hana. Saya tidak bisa menggali informasi lebih dalam lagi.. karena ini berhubungan dengan kehidupan pribadi nona Hana."
Juna berpikir. Ia harus melakukan sesuatu dan bertanya pada Hana mengapa ia mengulur waktu untuk proses lamaran serta pernikahan itu.
Seketika ia keluar dari mobil dan pergi menghampiri Hana.
"Hana..." panggil Juna sambil terus mendekati Hana.
"Juna? Apakah sudah lama kamu disitu? maaf..." ucap Hana tersadar dari lamunan.
"Tidak, aku baru sampai... bagaimana hari ini? kau baik-baik saja?" ucap Juna berpura-pura tidak mengetahui kondisi Hana.
"Yeah.. begitulah." ucap Hana sambil tersenyum manis pada Juna.
"Kau sudah sarapan?" tanya Juna lagi.
"Iya, sudah... " ucap Hana simpel.
__ADS_1
Hana menatap mata Juna seakan-akan ingin memberitahu tentang apapun yang ada dalam hatinya. Namun Juna ternyata telah menyadari lebih dulu mengenai beban yang dimiliki Hana.
Juna tiba-tiba memeluk Hana dengan erat. Mendekapnya dan mengelus rambut gadis itu dengan lembut. Sementara Hana terdiam dan ia memejamkan mata.
"Ceritakan padaku sayang... apa yang terjadi sebenarnya. Aku tau ada sesuatu yang kau pikirkan selama ini." ucap Juna begitu lembut padanya.
Hana pun mengangguk dan mulai menceritakan semuanya.
_________________####_________________
Sementara itu di suatu tempat yang gelap dan tak berpenghuni.. seperti bangunan kosong...
Terlihat seseorang yang berjalan dengan pelan menghampiri seorang wanita yang tak lain dan tak bukan adalah Nining.
"Saya sudah menjalankan apa yang nona perintahkan, sekarang mana bayaran saya?" ucap lelaki misterius berpakaian serba hitam itu.
Lantas Nining memberikan sekoper uang tunai yang tak terhingga jumlahnya. Nining tersenyum senang, dan matanya tajam mengingat apa yang sudah dilakukan Hana padanya.
"Kapan racun itu akan menyebar di tubuh Hana?" ucap Nining penasaran.
"Mungkin memakan waktu dua hari nona. Tinggal anda lihat saja prosesnya." jawab lelaki itu sembari berjalan pergi meninggalkan Nining.
__________________####_________________
"Jadi, kau memundurkan jadwal lamaran dan pernikahan kita karena itu?" Juna sangat serius menangkap pembicaraan Hana.
"Ya, Jun... Bukan karena aku tidak ingin menjadi istrimu sesegera mungkin, tapi aku harus menyelesaikan kecurigaan ku ini. Sudah seminggu ini aku merasakan ada hal yang tak bagus." Tambah Hana lagi sambil mengerutkan keningnya. Ia mencoba menerka dugaan-dugaan yang muncul di kepalanya.
Juna terdiam. Ia mencoba berpikir lebih dalam dan ia menyambungkan perkataan pak Doni dengan Hana.
Di suatu malam...
"Sepertinya ada orang lain yang membuntuti nona Hana. Bukan hanya saya." ujar pak Doni.
"Siapa dia?" tanya Juna dengan serius.
"Entahlah, sepertinya orang itu tidak mengetahui saya yang juga mengikuti nona Hana. Tapi orang itu sepertinya saya kenal karena wajahnya familiar. Tapi samar-samar." jawab pak Doni dengan aneh.
"Aku harus melakukan sesuatu..." ucap Juna sambil ia mengerutkan keningnya. Berpikir keras.
Setelah Juna tersadar dari lamunannya, ia lantas menyentuh pipi Hana dan mengarahkan pandangan pada dirinya.
__ADS_1
"Aku punya ide..." ujar Juna berbisik pada Hana.
Hana menatap Juna dengan heran, namun ia sangat mempercayai Juna sehingga ia tau Juna akan menolongnya.
"Baiklah... apa idemu, sayang..." jawab Hana sambil mengangguk.
__________________####_________________
Nining ketakutan... disisi lain ia sangat berambisi untuk memiliki Juna yang memang sudah ia intai sejak dia masih kecil. Nining sudah habis kesabarannya selama ini dan dia tak mau ada wanita lain yang akan mengambil Juna darinya.
Gadis berambut panjang itu segera menelepon Ibunya Juna dan berniat datang menghampirinya.
"Halo, nyonya? bagaimana kabar nyonya? ini saya Meysa! bolehkan saya datang berkunjung? saya mau memberikan hadiah untuk nyonya!" ucap Nining berpura-pura ramah.
"Oh.. halo? Meysa? iya boleh datang.. aku akan menunggumu ya. Sampai jumpa lagi nak.." jawab Ibunya Juna di telepon genggamnya.
"Baguslah... aku akan bertanya padanya segalanya..." ucap Nining dengan pelan setelah menutup teleponnya.
__________________####_________________
Sementara itu waktu berubah senja. Tak terasa matahari yang terik itu segera terbenam dan berganti suasana.
Juna sudah selesai menyusun rencana dengan matang dengan pak Doni. Ia juga berniat untuk memberitahu hal ini pada ayahnya Arya Bram karena beliaulah satu-satunya yang mengerti Juna selain pak Doni.
Sesampainya di rumah lebih awal, membuat Arya Bram terkejut. Ia berbicara serius dengan Juna, sementara pak Doni berada di luar ruangan untuk berjaga.
"Ayah... sebenarnya, aku ingin bicara ini..." ucap Juna terbata-bata.
"Bagaimana nak? apa yang mau kau sampaikan? jadinya bagaimana pernikahan mu itu?"
"Bukan itu... aku hanya perlu meminta izin ayah untuk meliburkan diriku dari jabatan ku. Anggap saja aku pergi perjalanan bisnis. Aku akan meninggalkan rumah dan hidup sebagai seseorang yang baru." ucap Juna secara jelas dan membuat Arya Bram terkejut.
"Maksudmu Jun?" ucap Arya Bram penasaran.
"Hana dalam bahaya ayah... aku harus melindunginya dan menangkap pelakunya." jawab Juna dengan serius.
Sang ayah shock mendengar itu dan ia pun menyetujui permintaan Juna.
"Lakukan apa yang harus kamu lakukan, ayah akan mendukungmu." Ujar sang ayah sambil tersenyum bijak.
__ADS_1