
Suara burung berkicau terdengar begitu merdu. Seperti mengiring pertemuan mereka berdua.
Juna menggunakan kembali kacamatanya dan ia tertegun melihat hal yang sangat menarik di depannya. Ya... Hana.
Juna sangat terpaku pada satu tatapan yang membuatnya tak bisa berpaling. Mata yang begitu cantik, dengan garis mata yang indah. Ia bahkan bisa membaca karakter wanita itu dari matanya. Mereka berdua tak dapat berhenti untuk saling bertatapan.
Sama halnya seperti Juna, Hana juga tampak terhanyut dalam tatapan Juna. Tadinya gadis itu berniat untuk membangunkan Juna dari jarak dekat. Namun usahanya gagal karena Juna tersadar lebih awal. Sehingga Gadis itu tak sempat turun dari ranjangnya dan membangunkan Juna.
Degup jantung mereka mulai berpacu lebih cepat. Apakah ini pertanda bertemunya cinta sejati? not knows... yang pasti ini adalah waktu yang tepat untuk saling mengenal.
"Hei..." Sapa Juna tersenyum manis padanya. Juna merasakan keanehan dalam dirinya. Ia tidak merasa grogi sedikit pun padanya. Tidak seperti ia bersama para wanita lainnya.
"Ah... hei juga.." Jawab gadis itu malu-malu. Hana berusaha kuat dan tenang menghadapi Juna. Hana memperhatikan penampilan Juna kala itu yang terlihat seperti pria kutu buku dan tidak bergaya. Namun anehnya, Hana sangat tertarik padanya.
Mereka berdua mulai salah tingkah satu sama lain. tak ada cara untuk mengalihkan pandangan satu sama lain. Baik Juna ataupun Hana, mereka saling senyum satu sama lain.
"Kau sudah lebih baik?" Tanya Juna lembut. sambil melangkah maju menghampiri Hana.
"Iya, terimakasih banyak..' Jawabnya singkat karena malu. Jantung Hana berdebar semakin cepat melihat Juna menghampirinya.
CKREK........
Tiba-tiba suasana intens itu hancur seketika dan membuat mereka tersentak. Seseorang masuk ke dalam dengan membawa makanan serta minuman hangat.
"Oh! selamat pagi tuan, nona!" Sapa pak Doni terkejut.
"Oh..iya, selamat pagi juga pak." Jawab Juna kaku. Sementara Hana hanya mengangguk dan kebingungan.
"Silakan sarapan dulu Tuan muda, dan juga untuk nona muda. Saya pikir belum terbangun, jadi saya masuk lebih dulu untuk menyimpan makanan ini. Maafkan saya." Ujar pak Doni membungkuk pertanda meminta maaf.
"Tidak apa-apa pak.. hehehe kami sudah bangun. Ya! kami akan makan. Ayo Hana!" Ucap Juna menyiapkan semua makanan dibantu dengan pak Doni.
"Ke..kenapa tau nama saya? kau... bukannya yang beli sparepart langka kemarin itu kan?"
tiba-tiba Hana terkejut dengan Juna yang mengetahui nama aslinya.
"Iya betul sekali. Ada rahasia yang cukup besar untuk mengetahui namamu." Canda Juna mulai mencairkan suasana.
__ADS_1
"Rahasia?" tanya Hana terkejut.
"Ya... bahkan kau tidak tau siapa aku kan? ya sudah... cepatlah makan." tukas Juna sambil menyantap makanannya.
Pak Doni dan Hana saling bertatapan. Pak Doni pun mengangguk dan sangat hormat pada nona muda tersebut.
Tak lama kemudian, Pak Doni pamit untuk pergi ke kediaman Arya Bram lagi sambil ia mengeluarkan handphone miliknya.
Pak Doni tampak sibuk mengurusi urusan lainnya yang berhubungan dengan keluarga Arya Bram.
"Saya harus kembali tuan, jika tuan ada perlu lagi, silakan hubungi saya." ucap Pak Doni seraya pamit.
"Yup.. tentu pak. terimakasih banyak." Ucap Juna senang. Ia pun mengantar pak Doni keluar hingga ke pintu.
"Terimakasih banyak juga..." Sambung gadis yang bernama Hana tersebut dari jauh dengan tersenyum.
Setelah itu, mereka berdua lekas menghabiskan makanannya dan bersiap-siap untuk pulang ke rumah Hana.
"By the way, namamu Juna kan? terimakasih banyak kau sudah sangat membantu aku. jika aku seperti itu dan tak ada yang menolongku, aku pasti sudah mati." ucap Hana bahagia.
Juna baru tersadar bahwa ia harus menghadiri kelas perkuliahan yang tak bisa ditinggalkan hari itu.
Hana pun melihat kebingungan di mata Juna dan ia bertanya padanya.
"Juna? ada apa?" tanya Hana lembut.
"Em... Saya bolos kuliah hari ini hehe jangan khawatir..." jawab Juna polos.
"Hei Jun, kau tidak bisa seperti itu! cepatlah pergi, kau harus menjalankan kegiatanmu. Jangan buang-buang waktu karena saya. Saya baik-baik saja." ucap Hana sambil menarik baju Juna.
"Tidak, saya tidak akan tenang jika meninggalkan kamu dalam kondisi begini." ucap Juna khawatir.
"Kenapa?"
"Karena saya akan kehilangan kamu lagi. saya tidak mau itu terjadi." Ucap Juna tegas.
"Saya memiliki hutang budi padamu Juna. Mana mungkin saya kabur begitu saja. Saya akan menunggu disini. Toh kamu yang memberikan perawatan saya disini. " Ucap Hana dengan ceria, berharap Juna akan sadar.
__ADS_1
Juna tertegun dengan ucapannya. Ia seperti mendapat dukungan penuh yang tak pernah dimiliki sebelumnya. Ia lantas tersenyum cerah dan mengangguk padanya.
"Baiklah... aku pergi dulu ya. aku akan langsung ke kampus." Ucap Juna mengalah pada Hana dan ia segera pergi dengan hati yang lega.
"Yup... hati-hati Jun." Ucap Hana sambil tersenyum.
Melihat Juna pergi dari hadapannya, ia termenung. Matanya berkaca-kaca. Ia merasakan ketulusan yang tak pernah didapatkan sebelumnya. Bahkan dari pria yang baru dikenal 1 hari itu. Hana mulai merasa sedih dengan hidupnya sendiri yang jelas selalu menyusahkan orang lain.
"Juna... terimakasih..." ucapnya dengan lirih.
__________________####_________________
Dikampus, Nining dan Angga terheran mengapa Juna tidak datang. Sedangkan mereka mengetahui bahwa Juna adalah orang yang sangat patuh dan rajin. Angga mencoba menghubungi Juna, namun ponselnya tidak aktif. Sementara Nining nampak cemas dengan tingkah Juna yang semakin hari sulit ditebak itu.
Saat perkuliahan berlangsung, Dosen pria yang terkenal galak di kampus itu mulai mengabsen kehadiran para mahasiswa. Sehingga hal itulah yang membuat Angga juga Nining ketakutan dengan nasib Juna apabila ia tidak hadir.
"Arya Juna? apakah hadir sekarang?" Tanya dosen killer itu.
Semua mahasiswa terdiam. tak ada yang mampu menjawabnya.
"Sekali lagi saya tanya, kemana Arya Juna?!" Seru dosen itu sambil mengerutkan keningnya.
Angga dan Nining saling bertatapan. wajah mereka berdua tampak pucat.
Namun tiba-tiba suasana menegangkan itu berubah menjadi mengejutkan.
"HADIR!" seru Juna yang tiba-tiba datang dari arah pintu. Ia terengah-engah karena kecapekan berlari.
Semua mahasiswa terkejut dengan penampilan Juna. termasuk sang Dosen yang bahkan tidak bisa berkedip karena sosok yang dilihatnya.
Nining dan Angga sangat terkejut. "Ju..Juna!" seru Angga keceplosan karena saking kagetnya.
Semua mahasiswa terdiam tak berdaya. mereka sangat terkejut melihat penampilan Juna yang sesungguhnya tanpa kacamata, tanpa pakaian kumal.
Juna membungkuk dan meminta maaf kepada dosen itu berkali-kali agar ia dapat bergabung dalam kelasnya.
"Kamu.....!" Ucap Pak Dosen dengan mata melotot namun tiba-tiba matanya berubah menjadi berbinar.
__ADS_1