
Lelaki muda yang menjadi suruhan Nining alias Meysa itu memang sudah tak asing lagi terlibat dalam sebuah kasus yang cukup rumit.
Kehidupan memprihatinkan yang dialaminya semasa hidup membuatnya nekat mengambil jalan pintas sebagai orang suruhan yang mampu melakukan apapun demi uang.
Tak terkecuali dengan Meysa yang tak sengaja menemukan Andi dikala ia sedang sangat terpuruk karena cinta yang ditolak begitu saja oleh Juna.
Melihat Meysa menangis di suatu tempat, dijadikanlah oleh Andi sebagai sasaran manis majikan barunya. Mengapa jejak Andi sebagai orang suruhan yang mampu melakukan tindak kejahatan itu tak bisa tertangkap oleh pihak kepolisian?
Karena masa lalu Andi yang erat kaitannya dengan dunia tersebut. Ia adalah office boy di salah satu Polsek sekitar yang nyatanya memiliki kredibilitas dan predikat sangat baik oleh seluruh anggota polisi. Sehingga ia menjadi orang kepercayaan para anggota polisi itu. Hal itulah yang ia manfaatkan untuk berbuat kejahatan di luar sana demi uang.
__________________####_________________
Andi melenggang dengan bebas layaknya mahasiswa terdaftar di LaSally University. Ia tak terlihat seperti orang yang dicurigai. Penyamarannya sangat sempurna sehingga tak ada yang menyangka kalau ia adalah biang kerok dari proses teror yang dialami oleh Hana.
Kala itu seluruh office boy dan office girl tengah bekerja membersihkan ruangan kantin bersama-sama dikarenakan selesainya aktivitas makan siang seluruh mahasiswa.
Hana begitu pucat dengan peluh yang bercucuran. Ia berusaha untuk tetap kuat meski kondisi badannya tak menyatakan dirinya sehat.
Jauh dari kantin, Andi tampak asyik menyeruput minuman kotaknya sambil duduk manis melihat kondisi Hana yang semakin buruk. Sesekali ia tersenyum puas dan memainkan handphonenya.
Sementara itu, Juna terlihat keluar dari kelas dan menenteng tas ranselnya, mencari-cari keberadaan Hana juga pak Doni.
"Dimana Hana??? aku harus melihatnya sendiri!" Ujarnya dengan serius.
Sesampainya ia di pertigaan koridor, ia melihat seorang mahasiswa laki-laki yang sedang duduk asyik menyeruput minuman. Juna terheran karena saat ini aktivitas pembelajaran masih berlangsung. Ia pun berpura-pura tak melihatnya dan berjalan melewati lelaki itu.
Juna semakin penasaran, dan ia berbalik arah untuk bertanya pada mahasiswa itu.
"Eh... sorry, mau tanya, kalau ruang dosen fashion design ada dimana ya?" tanya Juna berpura-pura.
Andi menengok kearahnya dan ia terdiam. Lelaki itu menerka dan mencoba mengingat siapakah pria itu namun tak berhasil.
"Coba jalan aja ke koridor sana, lewatin kantin dulu. Nanti ketemu di pojok sebelah kanan ruangannya." Ujar Andi ketus karena merasa terganggu.
Juna merasa aneh karena ucapan lelaki itu yang nampaknya tak asing baginya. Juna semakin curiga dengan sikap lelaki itu yang langsung beranjak pergi dari tempat duduknya dan berpindah ke tempat duduk yang ada di kantin.
"Kenapa dia begitu? Kenapa aku merasa aneh?" Tanya Juna dalam hati. Ia pun terus menengok ke arah lelaki itu namun seketika ia syok melihat sesuatu...
"Hana?!!!" gumam Juna terkejut ketika lelaki itu tengah memperhatikan Hana yang sedang membersihkan meja kantin bersama para office boy lainnya.
__________________####_________________
__ADS_1
Pak Doni baru saja tiba di LaSally University setelah ia membantu Arya Bram menyelesaikan beberapa pekerjaan. Ia terkejut mendapati smartphonenya berdering saat ia baru saja memarkirkan mobilnya.
"Oh? halo Mister Nim?!" Ucap Pak Doni senang.
"Pak Doni, apakah kau ada di sekitar Hana sekarang?" Ucap Juna sambil berjalan menjauhi kampus dan menuju taman.
"Saya baru saja sampai tuan. Saya akan segera menemui nona Hana sekarang." Ucap Pak Doni serius mendengarkan ucapan Juna yang bergetar.
"Oh... tidak... berarti dugaanku benar." Ujar Juna yang langsung membuat Pak Doni terkejut.
"Maksud anda tuan???" Ucap pak Doni terkejut.
__________________####_________________
Setelah percakapan antara Juna dan pak Doni membuahkan hasil, mereka berdua lantas meningkatkan kewaspadaannya terhadap orang yang juga berada di sekitar Hana.
Juna hampir kehilangan akal dan sangat kesal dengan apa yang dilakukan lelaki itu. Ia pun memilih untuk banyak menghabiskan waktu absen di perkuliahan guna mengikuti lelaki misterius itu pergi.
Sementara pak Doni tetap mengawasi Hana dari jauh.
__________________####________________
Andi terus mengikuti kemanapun Hana pergi dan ia sangat menantikan kejadian "menyenangkan" yang akan dialami Hana sesegera mungkin.
Pak Doni pun dari kejauhan melihat pergerakan pria misterius itu dan tentu saja membuatnya tak tinggal diam. Ia berusaha untuk mendekati lelaki itu namun mahasiswa itu lebih pintar dari yang ia duga.
Lelaki itu menghilang bagaikan angin yang tak terlihat. Berhasil menipu pandangan Pak Doni dari dirinya.
"Ajudan itu sangat bodoh... tak bisa menyadari betapa aku pintar melakukan ini." ucap Andi sambil tertawa licik.
__________________####_________________
Juna segera mengganti pakaiannya di ruangan khusus karyawan minimarket itu. Ia tampak cemas karena Hana tak kunjung menampakkan batang hidungnya di tempat ini.
Beberapa saat kemudian, Hana masuk ke ruangan karyawan dan ia melihat Juna yang saat itu sebagai "Fajar".
"Halo, selamat sore." Ucap Hana dengan wajah yang sangat pucat dan tak berdaya. Ia segera membuka kunci lokernya dan tiba-tiba gadis itu akhirnya ambruk dan jatuh pingsan.
Hal itu bagaikan tersambar petir bagi Juna, ia berteriak histeris dan syok melihat calon istrinya itu tak berdaya.
"Hana!!!!!" Teriak Juna dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
Ia pun segera memanggil manajer pengelola minimarket dan bersama-sama membawa Hana menuju rumah sakit terdekat.
__________________####________________
Melihat hal yang mengagetkan itu, pak Doni syok dari dalam mobilnya. Ia lantas mengikuti ambulans yang membawa Hana menuju rumah sakit.
"Hm... sepertinya tugasku selesai." Ucap Andi sambil tersenyum senang dan segera memberitakan kabar ini pada majikannya, Nining alias Meysa.
"Halo nona, saya sudah berhasil. Nona Hana di bawa ke rumah sakit oleh karyawan dan manajer minimarket itu. Sepertinya dia sekarat sekarang." Ucap Andi enteng.
Mendengar kabar mengejutkan itu, membuat Nining terperanjat. Ia sangat terkejut dan hatinya bercampur aduk antara bahagia dan juga ketakutan yang teramat sangat.
"Ba..baiklah! akan kuhubungi lagi kau." Ucap Nining sambil menutup teleponnya dan ia mulai gemetaran.
"Hana?! di dia... sekarat!" gumamnya tertawa dan juga sesekali ketakutan. Sikapnya ini sangat menghawatirkan, lebih mirip seperti ODGJ (orang dalam gangguan jiwa).
"Mati!!! yeah!!! mati!!! hahahaha!" Ucap Nining sambil meloncat-loncat kegirangan dan membuat pembantu di rumahnya geger dengan perkataan gadis itu.
__________________####_________________
Malam sudah sangat larut, Hana masih dalam pengawasan dokter-dokter di ruangan UGD itu.
"Sepertinya, kondisi gadis ini tidak akan membaik dok, dilihat dari detak jantungnya yang semakin menurun." Ujar salah satu dari mereka.
"Kondisi lambungnya kering. ini bisa disebabkan karena adanya pengikisan yang terjadi karena sesuatu yang dimakannya." Ucap salah satu dokter lainnya.
"Kalau begitu, ini sama dengan keracunan kan dok?"
"Ya... kita akan menolongnya semaksimal mungkin. Tambahkan terus cairan infusnya, dan terus pantau denyut nadinya." Ucap mereka secara cepat menangani Hana.
__________________####_________________
Dari balik tirai UGD yang tertutup itu, Juna terdiam... ia menangis dan tak kuasa melihat kekasih hatinya mengalami hal itu diluar kendalinya.
Sementara Pak Doni tampak bersedih dan tak bisa menghampiri Juna karena masih dalam rencana penyamaran.
__________________####_________________
"Aku bersumpah akan mengakhiri semua ketidakadilan yang terjadi pada kami. Akan kuingat semua ini!"
- Juna
__ADS_1