
Bu Lilis terasa Nyaman, setelah Mak Mirah, Membalurkan Ramuan khususnya pada Bu Lilis. dan ternyata Bu Lilis sudah agak merasa Nyaman.. Pak Winarto dan Astuti juga jadi merasa lega,
hingga Mak Mirah memutuskan untuk beristirahat dulu, karena menurutnya baru membukaan awal. sehingga Mak Mira pamit dulu untuk pulang pada mereka berdua, yaitu Pak Winarto dan Astuti.
setelah Mak Mirah pergi meninggalkan kediaman Pak Winarto dan Bu Lilis, Adzan Maghrib pun berkumandang. Pak Winarto dan Astuti segera pada pergi meninggalkan Bu Lilis, mereka pergi keluar untuk berwudhu.
sedangkan si Kakek Tua yang pernah ku temui itu sedang mendatangi Kiyai Anwar, seorang Tokoh Agama yang bijaksana dan Dermawan. ia tak pernah Takabur dan Sombong, ia tetap Tawadhu ketika Seseorang kalau sedang mengeluh padanya.
"Assalamualaikum Cucuku..." ucap Salam Kakek Tua itu pada Kiyai Anwar.
"Wa'alaikum Salam Kek," jawab Salam Kiyai Anwar pada Kakek itu. sambil mengecup punggung tangan Kakek Tua itu.
"sebentar lagi kamu bakal ke datangan tamu Anwar, dia Adalah seorang Penarik Angkot. yang sedang membutuhkan pertolongan darimu," ucap si Kakek Tua itu lagi.
"Insyaa Alloh Kek, segimana ke mampuan saya yang banyak ke terbatasan dan ke Kurangan ini Kek. Anwar Insyaa Alloh bakal bantu jika sudah ada kehendak darinya Kek." kata Kiyai Anwar,
"baiklah aku serahkan semuanya padamu Cucuku. tapi... nanti seusai kamu menolong dia, kamu bakal di pertemukan oleh Seseorang yang Bernama Zaki, dia juga Sama sedang membutuhkan pertolongan darimu Cucuku," sahut si Kakek Tua itu.
"Insyaa Alloh, saya akan membantu semuanya jika yang Maha Kuasa sudah menghendakinya Kek." kata Kiyai Anwar.
"baiklah kalau begitu, Kakek undur diri dulu. Assalamualaikum..?" ucap si Kakek Tua itu sambil mengucapkan Salam pamit pada Kiyai Anwar. lalu menghilang di balik pintu.
kita kembali ke Rumah Bu Lilis lagi...
seusai melaksanakan Sholat Maghrib tadi, Pak Winarto dan juga Astuti. kembali memasuki Kamar Bu Lilis lagi, setelah melihat keadaannya membaik tak seperti tadi. rasanya mereka berdua pada tenang, sehingga Pak Winarto akan pergi sebentar untuk menemui Kiyai Anwar.
__ADS_1
"aku Titip Kakakmu Neng ya, nanti kalau ada Apa apa segera hubungi saya." ucap Pak Winarto sebelum berangkat pergi, untuk menemui Kiyai Anwar.
"iya Kang.. Akang hati hati di jalan, karena kelihatannya akan turun Hujan Kang." kata Astuti memberi Aba aba pada Winarto.
"iya Insyaa Alloh, Akang akan langsung pulang setelah selesai meminta Air Do'a pada beliau Neng. Assalamualaikum.." ucap Salam dari Winarto Sambil melangkah pergi.
setelah Winarto sudah pergi jauh meninggalkan Rumahnya, Astuti melirik pada Kakaknya yang masih terbaring tidur. lalu Astuti mendekatinya, dan memandang Perutnya yang terhalang oleh selimut bed covernya,
Tiba tiba Astuti menguap, padahal waktu baru juga Jam satengah 7 sore.. Astuti pun menyender di tihang Ranjang yang di tiduri oleh Bu Lilis. setelah Astuti tertidur pulas.
Hujan mulai turun, Angin mendadak kencang dan bersuara mengetuk jendela kamarnya Bu Lilis. dan Tiba tiba Makhluk atau Sosok bergaun Merah itu mulai datang kembali, dengan menyamar menjadi hewan Semut.
Astuti tak sadar kalau Semut itu menggerayam pada batang Kaki Bu Lilis yang sama masih tertidur pulas. Angin masih terlalu kencang di luar Rumahnya. suara Petir mulai terdengar, Semut itu sudah mulai masuk ke permukaan daerah khususnya, hingga menyusuri bawah Perut Bu Lilis. sampailah di area lubang perutnya Bu Lilis. tanpa Basa basi lagi, Sosok itu masuke ke dalam perut Bu Lilis melalui lubang Perutnya.
"kenapa Teh? apa lagi yang Teteh Rasain?" tanya Astuti Panik.
"ng..nggak tahu Tut, Tiba tiba Perut Teteh sakit lagi kaya tadi Tut.. aduuh," rintih Bu Lilis sambil berusaha menjelaskan apa yang dia Rasa saat ini.
mendengar penjelasan Bu Lilis seperti begitu, Astuti langsung mengutak ngatik Ponselnya. untuk segera menghubungi Pak Winarto, dan kebetulan sekali Pak Winarto sudah berada di depan Rumahnya.
pak Winarto dan Kiyai Anwar berbarengan masuk ke dalam Rumah Bu Lilis. yang sekarang sedang mengalami Sakit seperti tadi Sore, saat di periksa oleh Dukun Beranak yang bernama Mak Mirah itu.
lalu Pak Winarto kaget saat mendengar Rintihan Istrinya lagi, Pak Winarto di suruh oleh Kiyai Anwar untuk masuk duluan. karena perihal yang tak beres telah menimpa Bu Lilis kembali.
"aduuh Tut sakit Tut...!!" keluh Bu Lilis sambil mengerang ke Sakitan. Perutnya yang seperti bertambah Besar itu sedang di pegang oleh kedua tangannya.
__ADS_1
Astuti baru saja mau melangkah ke Sisi Ranjang yang di tiduri oleh Bu Lilis, jadi terhenti saat mendengar suara langkah Kaki menuju padanya. setelah ia lirik ternya Kang Winarto, selaku Kakak Iparnya Astuti.
Pak Winarto mendekati mereka berdua, terutama Istrinya, yang sedang menggelinjang menahan rasa Sakit di Perutnya. Pak Winarto sengaja membawa Air khusus dalam Botol, pemberian dari Kiyai Anwar.
dan Pak Winarto juga menyuruh Astuti untuk mempersilahkan masuk pada Kiyai Anwar. Astuti langsung melangkah menuju keluar Kamar, seperti yang di katakan Kakak Iparnya. Astuti mempersilahkan masuk pada Kiyai Anwar.
Kiyai Anwar yang sedang menunggu di depan pintu Kamar Bu Lilis itu, sekarang melangkah untuk masuk. saat itu peroman Pak Winarto Mulai kembali gelisah,
"bagaimana Mas? apa sudah di Minumkan Airnya?" tanya Kiyai Anwar.
"eehmm.. belum Kiyai, saya jad.. di panik begini Ki, yai..." jawab Pak Winarto gugup.
"Astaghfirulloh... coba awalilah dengan membaca Basmallah Mas," usul dari Kiyai Anwar pada Winarto.
Pak Winarto memanggutkan kepalanya, lalu segera membuka tutup Botol itu. dan langsung membaca Basmallah. sesuai apa yang di usulkan oleh Kiyai Anwar barusan.
setelah Pak Winarto berhasil memasukkan Air Do'a dari Kiyai Anwar, Alhamdulillaah Bu Lilis sudah mulai membaik. sehingga ia kembali sadar dan membagikan Pandangannya pada Winarto Suaminya, juga pada Seseorang yang baru ia kenal. yaitu Kiyai Anwar,
"bagaimana sekarang keadaanmu Lis?" tanya Winarto. sambil mengelus kepalanya Lilis Istrinya.
"Alhamdulillaah Mas, aku Baik baik saja sekarang. terimakasih kamu sudah berusaha nyelamatin aku dan calon Anak kita," kata Lilis dan tak terasa ada yang keluar dari kedua ujung Matanya. yaitu Air Mata haru.
Kiyai Anwar segera keluar.. ia berlari kecil, menuju teras depan Rumah Pak Winarto. karena Makhluk itu melarikan diri menuju pohon beringin yang tak jauh dari depan Rumah Pak Winarto.
seusai sampai di luar, Kiyai Anwar mulai mengularkan Tasbihnya yang di simpan di dalam saku Baju kokonya.
__ADS_1