Hantu Pemburu Janin.

Hantu Pemburu Janin.
Episode 25.


__ADS_3

jawab Zaki.


"oh ya sudah, kita langsung saja pada pembicaraan ya.. jadi begini Jack, sekarang di kampung ini ada ke hebohan lagi,, mengenai Sosok Ghaib. tapi yang jelas bukan Minati." kata ku


"apaa..!! ada Sosok lain lagi begitu Kiyai?"seru Zaki kaget setelah mendengar perkataanku barusan.


"iya benar Jack, tapi yang jelas Sosok itu di pelihara oleh Manusia yang serakah Jack," jawabku


"Astaghfirulloh... Kira kira Sosoknya seperti apa Kiyai?" tanya Zaki.


"kalau dari ke terangan Warga sih, yang betul betul melihatnya. sejenis Genderewo Jack, dan yang menjadi incarannya adalah Anak anak balita Jack." jawabku menjelaskannya pada Zaki.


"Astaghfirulloh... Benar benar keterlaluan kalau begitu Kiyai ya..." kata Zaki sambil bengung, saking kagetnya Zaki.


"naah nanti jam dua belas tengah malam, aku akan mengeceknya, jika tidak keberatan. kamu juga mesti ikut Jack ya," sahutku.


"Insyaa Alloh.. aku akan ikut Kiyai, lagian aku juga jadi ikut penasaran Kiyai," ucap Zaki.


"baiklah kita sekarang istirahat dulu, biar nanti malam kita dalam keadaan segar..." usulku.


Zaki pun hanya memanggut, dan ikut Pak Kiyai untuk beristirahat di kamar tamu yang sudah di sediakannya.


**Prov. Genderewo,


"HUHUHAAHAA... BAGAIMANA KEADAANMU MAIL HEM? HUHAHA**..." kataku pada Mail si pemuja Siluman.


"sekarang saya sangat senang sekali Gende, justru berkat bantuanmu, sekarang Hutang hutangku sudah terlunasi haha..." kata Pak Mail sangat antusias.


Pak Mail sedang berkomunikasi denganku di Gudang tua, bekas penyimpanan semua barang bekas yang dia kumpulkan. setelah aku bantu sekarang Pak Mail sudah jadi Orang kaya sekampung itu.


di dalam Gudang itu sudah kumplit berupa sesajen, dari mulai kemenyan, Bunga tujuh rupa dan rambut Anak balita. beberapa lembar,

__ADS_1


dan di malam itu juga, Pak Mail harus berpuasa untuk tidak berhubungan dengan Istrinya selama 6 bulan. karena aku yang menggantikannya,


seusai beres berkomunikasi denganku, Pak Mail segera pergi dari Gudang itu. lalu berjalan menuju dapur, atau lewat belakang Rumah. tapi Pak Mail kaget saat Istrinya, berwudhu... "Bu.. Ibu mau ngapain Bu?" tanya Pak Mail pada Istrinya.


"yaa mau Sholat dong Pah, kan sebentar lagi mau Adzan Subuh." jawab Istrinya itu.


"alaaah.. udah nanti saja Bu, mendingan bikinin makanan buat Papah cepetan!" seru Pak Mail.


"eehh... nggak boleh gitu dong Pah, inikan sudah ke wajiban kita. masa harus di bolaikan." sahut Istrinya,


"pokonya jangan ada yang berani menunaikan Sholat di Rumah ini, Titik." kata Pak Mail tegas,


lalu Istrinya pun malah Geleng geleng kepala, dan berlalu meninggalkan Pak Mail. yang sedang Duduk di ruang tamu, dan Istrinya Pak Mail itu tetap mengerjakan Sholat Subuh. seusai Adzan berkumandang.


tapi baru saja Istrinya Pak Mail, melakukan Takbirotul Ikhrom. Tiba tiba ada yang menarik mukenanya dari belakang,


breet...


Istrinya Pak Mail tak sadarkan diri, hingga jam Sembilan pagi. Purno Anaknya sepasang Suami Istri itu, kaget saat melihat Ibunya tergeletak pingsan. di ruangan tempat Sholat keluarga.


"Astaghfirulloh... Ibu, kenapa Ibu?" tanya Purno saat melihat Ibunya, ternyata dari raut muka Istrinya Pak Mail sudah pucat pasi.


lalu menggoyang goyangkan badannya, yang malah ikut bergerak semuanya. ternyata Istrinya Pak Mail sudah meninggal, tapi Purno yang baru berusia 20 tahun itu. mencoba membawanya ke Rumah Sakit terdekat, untuk mengecek keadaannya.


tapi ke nyataanya, malah tak sesuai dengan harapan Purno juga Pak Mail. karena Ibunya Purno, atau Istrinya Pak Mail telah wafat.


"Ibu...!!! kenapa Ibu ninggalin Purno Bu!! hik, hik," seru Purno sambil menangis sendu.


"sudahlah Purno, kamu masih ada Ayah. yang bakal jagain kamu." sahut Pak Mail, sambil mengelus pucuk Rambut Purno.


sedangkan Purno tak menjawab perkataan Ayahnya itu. dia hanya menangis, sambil memeluk Ibunya. yang sudah terbaring tak bernyawa lagi, yang kini masih di atas Ranjang Rumah sakit.

__ADS_1


"pasti ini akibat lusi mengerjakan Sholat tadi subuh. maafkan aku Lusi, aku ngelakuin ini hanya untuk kamu dan Purno bahagia..." ucap Pak Mail dalam hatinya,


Prov. Kiyai Anwar,


di Siang harinya, aku sedang ke datangan tamu dari Desa rupanya. yaitu perwakilan dari Pakades,


"Assalamu'alaikum...!" ucapnya sambil tersenyum ramah,


"Wa'alaikum Salam Warohmatulloh... ehh Pak haris, silahkan masuk Pak." jawabku setelah melihat Pak Haris, dari balik pintu.


lalu Pak Haris pun melangkahkan kakinya memasuki Rumahku, dan Duduk di tikar atau permadani yang sudah aku siapkan. untuk Tamu tamuku,


"jadi begini Kiyai, ke datangan saya kemari. ingin mengabarkan Isu isu atau berita yang sudah Booming di wilayah kita, yaitu adanya gangguan Sosok yang baru. naah saya ingin tahu pendapat Anda Kiyai?" tanya Pak Haris padaku,


"oh iya, saya juga mendengar tentang kabar itu Pak. tapi kalau menurut saya itu benar Pak, karena saya dan teman saya melihat dengan mata kepala saya sendiri." jawabku sambil menjelaskannya pada Pak Haris, Pak Haris tercengang kaget.


"jadi... itu bukan sekedar Isu dong Kiyai? terus bagaimana caranya supaya kami dan para Warga lainnya, untuk mengantisipasi adanya Sosok itu Kiyai?" tanya Pak Haris lagi, yang Tiba tiba Peromannya beda.


"soal itu Insyaa Alloh, akan saya usahakan Pak. karena Bapak sudah tahu adanya perihal berita itu, maka saya juga memohon dukungannya." jawabku dengan tenang,


"Insyaa Alloh Kiyai, saya akan mendukungnya. bahkan semua perangkat Desa siap membantu, demi keamanan Warga." kata Pak Haris antusias,


Malam pun tiba. pada pukul 20:00, semua Santriku sengaja aku kumpulkan di Madrasah. yang biasa di pake pengajian umum, atau khusus para Santri. tak lupa aku juga mengundang Zaki, dan Ustadz Hasan. Kaka


seperguruanku waktu di Pesantren,


juga para Tokoh Masyarakat, dari mulai Pak Rw, juga Pak Rt. semuanya pun ikut hadir. kami semua berencana akan memagari ini wilayah dari gangguan Makhluk ghaib, dengan cara mengadakan Tawasulan atau membaca Ayat ayat pilihan.


semuanya pun sepakat ikut kegiatan tersebut, dan malam itu juga acara di mulai. Ustadz Hasan yang memimpin pembacaan Hadorohnya, sedangkan aku bagian pembacaan Do'a nanti jika setelah usai.


Gendrewo itu rupanya sudah berkeliaran, menjelejahi Perkampungan juga komplek yang tak jauh dari Desa kami. ia sedang mencari Mangsa Balita yang berumur 6 Bulan, sampai 8 bulan.

__ADS_1


tapi Tiba tiba Genderewo itu kaget dan merasa heran, karena di setiap Wilayah yang dia pijaki terasa panas dan berasap tebal. Genderewo itu terdiam dengan Mata yang menyala berwarna merah, dengan taring yang keluar dari Ujung mulutnya.


__ADS_2