Hantu Pemburu Janin.

Hantu Pemburu Janin.
Episode 19.


__ADS_3

Ucok kaget kembali, sebab Perut Sarwendah berubah Warna. yang awalnya Warna Kuning langsat kini menjadi berwarna Merah seperti terbakar...


"aaaa... sakit Mas, aaaawwww !!" seru Sarwendah menggelinjang lagi. saking terasa sangat Panas di dalam perutnya,


Ucok bingung, mesti berbuat apa. melihat keadaan Sarwendah saat ini. tapi saat Ucok akan memegang Perut buncit Sarwendah lagi.. dengan sangat cepat aku tarik bayi dalam kandungan Sarwendah itu.


hingga Sarwendahnya pun tak sadar lagi, untuk selamanya. dengan keadaan Perutnya semakin menghitam, Sarwendah tak terselamatkan. aku sudah berhasil membawa Mangsaku ini, aku tak banyak lagi berdiam diri di tempat itu. karena seketika badanku melayang kembali.


Sarwendah tewas sangat mengenaskan, hingga Ucok pun tergeletak tak sadarkan diri. karena merasa lemas, setelah melihat keadaan Sarwendah.


Prov. Zaki.


di pagi hari yang cerah.. aku sudah berada di Pasar, aku sudah menggantang gantangkan Pisang pisang yang sangat bagus, untuk siap di jual. Tiba tiba ada dua Orang Ibu ibu yang biasa suka belanja,


"eehh Bu Minah, siap bungkus Bu?" tanyaku pada salah satu. pembelanja itu,


"iya nihh Jack, tolong dong pilihkan Pisang yang supernya Jack." kata Bu Minah, sembari memegang Pisang yang akan dia pesan.


"ohh.. nah yang itu juga bagus Bu, malahan baru saja matang. kalau nggak percaya tarik saja satu buat di coba," sahutku pada Bu Minah,


"oh iya Bu, tahu nggak waktu malam tadi ada korban lagi Bu," ucap Bu Diah.


"waah yang bener Bu Diah.. ko aku baru dengar sekarang yaa, memangnya siapa yang jadi Korban semalam Bu?" tanya Bu Minah,


"tunggu.. tunggu, ini yang Ibu maksud tentang hantu pencuri Janin ya?" tanyaku setelah memotong percakapan Bu Minah dan Bu Diah.


"iya Nak Zaki, saya juga sudah kesel banget. hampir mau satu bulan ini, lingkungan kita sering geger sama ke jadian semacam itu Nak Zaki." jawab Bu Diah,


"apa lagi sekarang Menantu saya sedang Hamil 9 Bulan Bu." sahut Bu Minah,

__ADS_1


"ya sudah.. ini Pisang Supernya Bu Minah. dan ini milik Bu Diah," kataku sambil menyodorkan dua Kantong kresek. yang satu punya Bu Minah, dan yang satunya lagi punya Bu Diah.


lalu akhirnya pun mereka berdua pada pamit pulang, bahaya kalau terus terusan kalau kedua Ibu ibu itu malah bergosip.


di Sore harinya... seusai aku sampai di halaman Rumahku, dan menyetandarkan Motorku, hingga kemudian Om Burhan Menelpon secara Tiba tiba.


aku pun segera mengambil Ponselku itu, yang ku simpan di Saku Jaketku. lalu aku geserkan tombol hijau yang tertera di layar Ponselku itu.


"Assalamualaikum Om." ucapku setelah menjawab telpon dari Om Burhan.


"wa'alaikum Salam jack... oh iya belakangan ini kemana saja kamu Nak? ko jarang main ke Rumah?" tanya Om Burhan dari sambung telepon.


"aduhh maaf Om, aku belum sempat nih Om... biasa lagi banyak Orderan hehe..." jawabku, walau pun agak terpaksa berbohong. karena aku tak mau menjelaskan masalahku,


"oh.. syukurlah kalau begitu Jack, Om kira kamu juga sama mau Menikah." kata Om Burhan sedikit menyindirku.


setelah lama saling mengobrol di sambung telepon, akhirnya Om Burhan hanya menyuruhku untuk menginap di Rumah Erick. karena mau mengadakan Syukuran di Rumahnya,


seusai Telepon ku Akhiri, aku juga bergegas akan langsung menuju ke Rumah Erick. lalu aku mengunci Toko terlebih dahulu, baru saja aku mengunci rolling doornya. Tiba tiba,


Bugg...!


ada yang memukul tengkukku dari belakang, hingga aku pun tak sadarkan diri. dan anehnya lagi, keadaan Pasar mendadak sudah sepi.. belum ada Seseorang yang nurunin barang saat itu, padahal waktu menunjukkan baru pukul 17:30. tapi keadaan sangatlah sepi.


dan saat itu juga tubuhku di angkat oleh dua Orang yang memukul tengkku dari belakang barusan. ternyata Riki dan Adam, suruhannya Daniel, lalu aku pun di masukkan ke belakang Mobil Jeep yang mereka tumpangi itu.


dan Adam yang mengendarai Mobilnya, Adam sudah memakai sabuk pengamannya. dan melaju dengan ke cepatan penuh, sedangkan Riki menjaga tubuhku di kursi belakang Mobil Jeep itu.


Prov. Erick.

__ADS_1


hari sudah semakin Senja, dan nampak Mentari pun Beberapa menit lagi juga akan terbenam. aku dan Bapaknya sedang sibuk melebar lebarkan Tikar atau Permadani. karena acara Syukurannya di mulai setelah Sholat Maghrib.


aku selalu melirikan Wajahku, ke Pagar di depan Rumahku. karena berharap Zaki secepatnya tiba di Rumahku. karena perasaanku mendadak jadi tidak tenang, saat memikrkan Zaki.


"coba kamu telepon lagi dia Rick," usul Pak Burhan,


"sudah Pak tapi nggak di angkat angkat oleh dia.." jawabku.


Pak Burhan menarik Nafas Panjang, ia juga Tiba tiba berharap kalau Zaki tiba saat acara belum di Mulai. "ya sudah, kita Siap siap saja berwudhu yuk.. karena sebentar lagi Adzan Maghrib." kata Pak Burhan mengajak Anak semata wayangnya.


setelah melaksanakan Sholat Maghrib berjam'ah di Mesjid yang tak jauh dari Rumahku. kami berdua sedang berjalan menuju pulang, di barengi Beberapa Jama'ah yang Bapak Undang untuk menghadiri acara Syukuran di Rumahku.


tak terasa kami berjalan dari Mesjid menuju Rumah, akhirnya kami sudah sampai lagi di kediamanku. aku pun berjalan terlebih dulu ke depan, karena akan menyambut para Tamu Undangan.


sedangkan Bapakku sengaja mengiringi para Jama'ah atau tamu dari belakang, lalu akhirnya semua para Tamu sudah pada kumpul di dalam Rumahku.


lalu aku berdiri dan melangkah ke teras Rumah, di halaman depan. terus aku mengambil Ponselku yang ku simpan di Saku Baju Koko yang aku sedang pakai.


tujuannya untuk menelpon Zaki, sekian lamanya aku menghubungi Zaki tapi tak di jawab sama sekali. hingga akhirnya aku masuk lagi ke dalam,


Prov. Zaki,


sedangkan aku yang baru sadar dari Pingsan tadi, Tiba tiba sudah berada di tempat yang Asing sekali. lalu aku menengok ke Kanan juga ke kiri, sepi tak ada siapa pun. dan yang bikin kagetnya lagi, dari mulai tangan, Kakiku di ikat semuanya. lalu mulutku pun di tutup oleh solasi ban.


"siapa yang telah melakukan ini semua! berani sekali dia mengikatku seperti begini," gerutuku dalam hati.


seusai aku menggurutu dalam hati, Rentang rentang terdengar langkah dua Kaki menuju ke tempatku. yang ternyata itu suara langkah Kaki Riki dan Adam rupanya,


"hahaha... ternyata lo sudah sadar Hem," kata Riki sambil mentertawakanku.

__ADS_1


__ADS_2