
aku pun memanggut dan lalu berkata...
"iya Mas, saya juga baru mendengar dari Warga sini Mas. terus memang kami berdua ini awalnya mau bersilaturahmi ke sini. ehh tahunya Bu Sumroh sudah Wafat," kataku pada Mas Broto.
Mas Broto pun lalu terdiam sambil berfikir, sebab ke jadian seperti ini. hampir sering terdengar di wilayah Perkampungan itu, dari sekian banyak Wanita yang sedang mengandung. banyak yang tewas mengenaskan secara tak Lazim, begitu yang ada di dalam Fikirnya Mas Broto saat itu.
Pak Ustadz Malik, tokoh Agama daerah itu baru saja tiba, di dampingi oleh salah seorang Santrinya. lalu dengan agak tergesa gesanya Pak Ustadz Malik dan Santrinya itu cepat masuk ke dalam Rumahnya Almh. Bu Sumroh.
sedangkan aku dan Om Burhan masih mengamati dari luar, tak terasa hingga Waktu menunjukkan Pukul 09:30. Jenazah Almh baru akan di Mandikan, pantas saja Pak Ustadz Malik dan Santrinya itu agak terburu buru.
seusai Jenazah di Mandikan lalu di Sholatkan, Jenazah Almh. Bu Sumroh sudah di Angkat oleh para Warga setempat akan di bawa ke tempat Pengistirahatan terakhirnya. yaitu TPU terdekat.
di Sore hari...
seusai melayat Bu Sumroh tadi siang, dan sekaligus ikut mengantarkan sampai Pemakamannya. aku pun segera Pulang terlebih dahulu, setelah Bersih bersih saat itu juga aku pergi lagi. tujuanku adalah ke Rumah Endang Asih.
dalam Perjalanan aku masih tak bisa membuang Bayangan Sosok itu, ketika dia bertengger di atas Mobilnya Bu Sumroh. yang di kendarai oleh Adiknya itu. hingga aku pun tak terasa akan menabrak Gerobak Tukang Bakso,
Ciiit...
suara Remku yang ku tekan dengan kencang, hampir saja Ban Motorku mengenai Roda itu. Alhamdulillaah ternyata aku masih selamat.
"aduh tolong maafin saya Bang, barusan saya agak melamun!" seruku sambil memohon maaf padanya.
"ahhk kamu Enak saja main minta maaf. nih jantung saya hampir copot barusan, kalau saja Motormu itu menabrak Gerobakku. ancur harapanku," jawabnya agak ketus.
" makanya saya mau minta Maaf sama Abang juga, Bang." ucapku lagi,
dengan rasa tak karuan, antara tegang dan kaget bercampur di dalam benak Tukang Gerobak Bakso itu. dengan terpaksa mengiyakan Maafnya aku.
seusai aku meminta maaf pada si Abang itu, dan sudah memaafkannya juga. aku pun melajukan Motorku lagi.
sesampainya di Rumah mewah milik Endang Asih, aku pun sudah di persilahkan masuk oleh penjaga Gerbang Rumah Endang Asih. saat itu juga aku mulai memasuki pekarangan Rumahnya dengan mengendarai Motorku.
__ADS_1
Endang Asih datang menghampiriku dengan senyuman yang sangat mempesona menurutku, setelah aku mematikan kontak Motorku. aku pun segera turun dari atas jok Motorku, lalu datang mendekatinya,
"Subhanalloh... Cantiknya Sang Bidadariku ini," kataku sambil menggoda dan memuji ke Cantikannya itu.
"ahk kamu mah gitu melulu, sebel aku mah ahk.." sahutnya sambil membuang muka.
"ah gitunya ngambek, tapi aku serius Sih. penampilan kamu berbeda dari sebelumnya tahu hehe... dan aku sangat mencintaimu Sih," ucapku sambil semakin mendekati tubuhnya itu.
namun Tiba tiba.. "ekhm.." suara Ayahnya berdekhem.
lalu aku juga segera memundurkan Kakiku ke belakang, saking karena kaget Tiba tiba ada Om Rudi juragan Pasar Ayahnya Endang Asih.
"So.. sore Om," kataku sambil berbahasa Gugup.
"heem..." jawabnya sambil menatapku tajam.
"loh Ayah malah ngagetin sih datangnya." ucap Endang Asih.
"Danie? siapa itu Om, Asih?" tanyaku penasaran pada keduanya.
"itu.. eehm anu," jawaban Asih mulai Gugup.
"kamu sudahlah jangan ikut Campur Zaki, dan mulai sekarang dan seterusnya. kamu jangan Berani berani lagi mendekati Endang Asih Putriku." ucapan Om Rudi, semakin terasa jenger di kupingku.
"eeh.. maaf Om, memangnya kenapa Om?" tanyaku sangat penasaran.
"Ayah..." ucapan Endang Asih keburu terpotong oleh ucapan Om Rudi.
"Diam kamu Asih, sekarang lebih baik kamu masuk dan temui Daniel saja." ucap Om Rudi menggema.
aku sudah mulai tak Enak perasaan, karena Tatapan Om Rudi sudah memberikan Isyarat padaku untuk segera angkat Kaki dari Rumahnya ini.
"oke, kalau begitu saya pamit Om, Asih." kataku sambil berbalik badan akan segera pergi meninggalkan Rumah mewah itu.
__ADS_1
tapi langkahku terhenti, saat Endang Asih memanggilku dari belakang. " A.. tunggu," kata Endang Asih yang sedang berlari kecil mengejarku.
aku pun terdiam, tak mau meliriknya. Tiba tiba saja perasaanku berkecamuk, antara Cinta dan kecewa. saat itu Endang Asih mendekatiku lalu meraih kedua tanganku dari depan wajahku.
"A.. tolon maafkan aku, seharusnya kamu tahu. kalau Ayah..." ucapan Endang Asih tak bisa di lanjutkan, karena aku tutup dengan telunjukku.
"sst.. Sayang aku juga tahu, dari dulu Ayahmu tak merestuiku. dan memang aku bukan Pria yang Orang tuamu harapkan, lagi pula kan aku juga ngontrak toko di Pasar yang di Pegang oleh Ayahmu Sayang. lalu siapa Daniel itu?" tanyaku pada Endang Asih,
"diaa... dia," Asih merasa risih jika harus mengatakannya padaku.
"sudah cepet katakan saja Sih," ucapku lagi.
"dia adalah Seseorang yang ingin Ayah jodohkan untukku A," ucapan Endang Asih. membuat perasaanku sangat Sakit dan Panas membara.
"apa..? jadi kamu mau di jodohkan sama dia? terus apa pendapatmu?" tanyaku lagi.
"iya A... justru aku sedang bingung A, mesti menjawab apa? karena Orang tuaku sangat mengharapkanmu untuk menerima lamaran Daniel A," kata Endang Asih yang Tiba tiba menderaikan Air Matanya.
" heem.. kamu jangan khawatir Sayang, apa pun yang terjadi, kita mesti mempertahankan Cinta kita.." jelasku Sambil merai kedua tangannya,
Endang Asih memelukku sangat erat, betapa terasanya jatungku dan jantungnya berdetak. karena kami berdua sudah akan menyiapkan Pernikahan, tapi sesuatu halangan akan terjadi dalam hubungan Cinta Kami.
"wahai yang maha Cinta, izinkan dan Restuilah hubungan kami ini. jangan engkau membiarkan Cinta kami yang akan mekar ini di Petik oleh Orang lain." gerutu Bathinku Sambil berdo'a.
"Asih..!!!" teriak Pak Rudi, yang berada di ke jauhan. tepatnya di belakang Endang Asih, Pak Rudi kaget saat melihat kami sedang berpelukan rupanya.
aku pun segera melepaskan rangkulannya, Asih pun menunduk sambil mengusap Air Matanya. yang bercucuran di kedua Pipinya itu.
"K*rang *j*r.. Berani beraninya kamu memeluk Putriku heh!" kata Pak Rudi marah, Sambil melangkah mendekati kami.
"maafkan saya Om, tapi saya..." ucapku yang terpotong oleh Pak Rudi,
"diam..! aku sudah tak butuh lagi penjelasan darimu mengerti! dan kamu Asih, cepat ikut Ayah.." seru Pak Rudi yang membuatku sport jantung.
__ADS_1