
Prov. Zaki,
"Diam kau Bocah..!! rupanya kau belum pernah merasakan pukulanku ya, hm!!" seru Minati, mengancam ku.
"kau jangan arahkan ke marahanmu pada Zaki, kalau kau masih berani. ayo kita lanjutkan lagi, pertarungan kita.." sahut Kiyai Anwar.
"Dasar B*j**ng*n... Rasakan ini...!!" seru Minati menggunakan tenaga dalam sepenuhnya, untuk menyerang Kiyai Anwar.
blesaaat... teeeng!!!
perisai berwarna merah ke hitaman, melesat menuju pada Kiyai Anwar. tapi Kiyai Anwar dengan sangat mudahnya, menghindari Perisai itu.
gilek.. plos, duaaarrr...
saat Kiyai Anwar mengelak ke sebelah kiri, Perisai itu malah mengenai pagar Benteng besar. dan berbunyi ledakan besar.
membuat semua Orang mendengarnya, lalu pada terbangunkan. Kiyai Anwar menengadah sambil memejamkan kedua matanya, dan mengangkat telapak tangan dua duanya. lalu berdo'a meminta perlindungan dari Alloh Swt.
dari kedua telapak tangan Kiyai Anwar, mengularkan Perisai berwarna Putih cerah... lalu di antara kedua tangannya di majukan ke depan, dan di pentangkan pada Minati.
ciush... teng!!
suara perisai berwarna Putih itu, melesat menuju badan Minati yang sedang berdiri. Minati menyambut serangan Perisai berwarna Putih itu dengan ke Kuatannya, namun malah membuat dirinya terdorong kembali.
jedag.. jedag!!!
Minati ke Sakitan di bagian Dadanya lagi, hingga terpantal lumayan jauh ke belakang. Kiyai Anwar mengusap mukanya, sambil mengucapkan kalimat Hamdalah tanda ia pun bersyukur telah berhasil melumpuhkan musuhnya.
aku pun Sama mengucapkan kalimat itu, karena saking senangnya, melihat Minati jauh terpental. aku pun menatap Kiyai Anwar.
__ADS_1
"Alhamdulillaah... Kiyai sekarang sudah waktunya aku berguru padamu," kataku sambil menatap Kiyai Anwar.
"ahhk.. kamu salah orang Jack, aku hanya Orang Do'if lemah dan serba ke kurangan. mana mungkin aku menganggap dirimu murid." jawab Kiyai Anwar merendah.
"janganlah berbicara seperti itu Kiyai, aku yakin bahwa engkaulah petunjuk jalan hidupku Kiyai, karena Kakek Sutardi pernah bilang. aku akan mampuh menandingi ke kuatan Minati, dengan jalannya dirimu." usulku sambil memohon pada Kiyai Anwar.
lalu Kiyai Anwar pun menepuk bahu Kiriku sambil memanggutkan kepalanya, sambil tersenyum mengiyakannya. aku pun Sama sama tersenyum dan menjabat tangan Kiyai Anwar.
sedangkan di Rumahnya Ningrum, saat ini sudah kembali aman. karena Minati sementara sudah tersingkarkan oleh Kiyai Anwar. sampai Adzan Subuh berkumandang, Ningrum dan Kakak Iparnya terbangun dengan rasa senang dan nyaman kembali.
sedangkan aku dan Kiyai Anwar sedang melaksanakan Ibadah Sholat Subuh berjama'ah, betapa senang dan bahagianya diriku. karena Kiyai Anwar akan mengajariku Ilmu Agama, juga tentang ke Bathinan.
Prov. Erick,
sedangkan di kediamanku sedang bersiap siap berangkat ke acara Serahanku. Beberapa Mobil sudah berjajar di depan Rumahku, Bapak juga Erwin Adik sepupuku sekaligus supir Mobil yang aku tumpangi nanti.
aku pun melihat Jam tanganku, meninjukkan Pukul 07:00. tapi aku belum melihat Zaki datang, tapi saat aku akan memanggilnya melalui Ponselku. akhirnya dia nongol, dan bersalaman dengan Bapakku juga Erwin Adik sepupuku.
"sory, aku tadi malam ke tiduran di Rumah guruku. karena biasa mengepung cewek siluman itu." jawab Zaki.
"gilaa.. sejak kapan lu punya Guru?" tanyaku lagi,
"sudah ah.. mendingan yuk kita berangkat ke buru siang.." sahut Om Burhan,
kami berempat pun berangkat menuju gedung tempat upacara Resepsi Pernikahanku, aku pun segera menaiki Mobil Bapakku. yang di kendarai oleh Erwin adik sepupuku. aku duduk di depan bersama Erwin sang Sopir, sementara Zaki dan Bapak duduk di belakang.
lalu setelah semuanya sudah duduk dengan tertib, aku pun langsung menyuruh Erwin segera melajukan Mobilnya.
dan Kerabat kerabat, Bapak, dan Almh. Ibu ikut juga di belakang, ada yang menaiki Mobil juga ada yang menaiki Sepeda motor.
__ADS_1
sementara Ustadz Hasan menaiki Mobil pribadinya. karena ia membawa keluarganya sendiri. Mobil dan juga motor sudah pada melaju semuanya, menuju Gedung acara Resepsi Pernikahanku.
"tumben Lu sendiri Jack? si Endang nggak di ajak?" sahutku bertanya pada Zaki.
"ahhk kamu Rick, kaya yang nggak tahu aja hubungan aku sama dia. aku tak mau terlibat lagi sama si Daniel itu Rick, soalnya orangnya licik tahu nggak." jawab Zaki,
"tenang Jack, entar setelah gue Nikah beres. gue akan bikin perhitungan sama dia... enak aja, maen Ancam ancam sagala.. karena belum tahu siapa gue.." kataku antusias,
"apaan kamu sih Rick, kamu itu sekarang mestinya Fokus buat nanti acara Ijab kabul. bukannya menggurutu kaya gitu.." timpal Om Burhan.
"iyaa.. iya, siap Pak!!" seruku kembali berantusias, karena sebentar lagi aku akan membina Rumah tangga.
tak lama kemudian kami pun sudah pada sampai di Pelataran gedung. Mobil di arahkan oleh keamanan di sana, untuk di Parkirkan di tempat khusus. setelah Mobil dan Motor sudah terparkir dengan rapih, kami dan Rombongan sudah pada turun dari mobil dan motor masing masing.
kemudian Ustadz Hasan dan Istrinya telah mendekati kami. untuk menghapitku dan Bapakku, setelah itu kami pun melangkah perlahan. dan ke datangan kami juga di sambut oleh Pagar Ayu dan pagar bagusnya, dan di belakang empat Orang yang menyambut kami itu.
terlihat calon Istriku yang sangat cantik dan mempesona, karena Riasannya juga ke bilang bagus dan profesional. makanya Indri terlihat cantik Bak Putri Salju,
setelah kami berhadapan dengan empat Orang itu, adalah Pagar Ayu dan pagar bagus. kalung yang terbuat dari Bunga kenanga itu di kaitkan pada leherku.
seusainya aku di handapkan dengan pengantin Wanita, calon Istriku tentunya. betapa bahagianya hatiku, ternyata paling Indah itu saat sudah mau berencana menghalalkan pasangan yang sudah di berikan olehnya, (Alloh) padaku.
perasaan yang sangat bahagia ini, adalah Anugerah yang luar biasa yang Alloh berikan padaku. betapa Bersyukurnya diriku, bisa meminangnya, begitulah sekarang yang ada dalam Fikiranku.
Zaki pun sepertinya sedang iri padaku, karena yang berencana Menikah dalam waktu dekat ini. adalah dia, karena Alloh masih menguji Iman dan mentalnya. maka saat ini Zaki belum dapat jawaban yang tepat,
setelah itu aku dan Indri di suruh duduk di kursi pelaminan, yang sudah di tunggu oleh Bapak Penghulu. saat yang menegangkan kini sudah tiba di depan mata, para Saksi dari kedua pihak sudah Duduk tak jauh dari kami,
Zaki hanya menatapku dengan senyuman, yang mencurigakan. antara senyum ikut bahagia, atau malah sebaliknya,
__ADS_1
setelah itu juga, Acara serah terima di mulai. Pertama tama dari pihak keluarga Indri. terus di lanjut Pituah dari Ustadz Hasan sampai selesai. lalu di teruskan dengan pembacaan Ayat Suci Al-Qur'an,