
Sundra mengendarai Mobilnya dengan amat sangat santai, melaju dengan ke cepatan standar. lalu aku mendengar Sundra sedang mendengarkan lagu Judika feat Viky Sianipar.
sambil mengendarai Mobilnya itu.
"ternyata Pria itu sedang Kasmaran, juga terlihat baru mendapat Cinta Pertama Hihi.." gerutu Bathinku sambil melayang di udara, mengikuti Mobil yang di kendarai Sundra.
akhirnya Sundra sudah menepikan Mobil Hitamnya itu, di Pelataran yang cukup luas. kini waktu sudah berlalu hingga menunjukkan pukul 02:00. dini hari.
Sundra baru menapaki tanah kedua Kakinya itu, karena baru saja menuruni Mobil Hitam yang baru saja Sundra kendarai. Rumah yang lumayan Megah itu hanya di huni tiga Orang Manusia saja. Adik juga pembantu, dan Sundra sendiri,
Bi Imas melati, pembantu di Rumah Sundra membuka Pintu dari dalam. lalu segera meraih koper milik majikannya itu, lalu Sundra berkata.
"Susi kemana Bi, tumben biasanya suka begadang di Ruangan Televisi ko nggak ada?" tanya Sundra.
"anu den... Non Susi dari tadi keluar bareng Nak Bobi entah kemana Den, maaf Bibi dari tadi sudah menahan Non Susi tapi tak di hiraukan den." jawab Bi Imas.
"aduuhh.. tuh Anak sudah ke biasaan, kalau sudah kelayaban suka lupa pulang.." sahut Sundra sambil melangkah menuju lantai dua, tempat ia beristirahat.
Sundra dengan terpaksa mengacuhkan yang sedang memikirkan kelakuan Susi itu. lalu segera membuka Jas dan kemeja yang di kenakannya itu. lalu segera melangkah menuju dalam Kamar Mandi, lalu sundra segera membersihkan Badannya.
Sundra yang polos tanpa berpakaian di dalam Kamar Mandi itu, nampak santai sambil mengguyur Badannya dengan Air di shower, tapi Sundra tidak tahu kalau di atas atap Rumahnya. ada aku yang sedang bertengger di atas, aku bisa merasakan kalau Sundra sedang Mandi tanpa Busana.
ternyata dugaanku benar, Sundra sedang mengganti pakaiannya usai tadi mandi. lalu Sundra menguap, karena waktu sudah sangat larut malam, Sundra sudah mengenakan Baju tidurnya dan celana pendek yang biasa di pake tidur olehnya.
lalu Sundra membaringkan tubuhnya yang sudah lelah lunglai itu. dan larut dalam tidurnya. setelah Sundra sudah tertidur pulas dan mendekur, aku masuk menembus atap Kamarnya itu, terlihat Sundra yang terlelap tidur berbalut selimut tebalnya.
__ADS_1
lidahku sudah menjulur ingin sekali merampok mahkota ke perjakaannya itu. lalu aku pun mendekatinya hingga menepi di bawah telapak Kaki Sundra yang sedang tertidur pulas itu.
"ini waktunya, aku mengobati lukaku ini, hemmm... Hihihi!!" seruku sambil tertawa nyaring, tapi tak dapat terdengar oleh Sundra yang lagi tidur mendekur itu.
aku sudah tak tahan lagi ingin mengobati luka dalam bekas Pertarungan waktu tadi, segera aku melakukan aksiku.. ku tarik perlahan selimut tebal yang di pakai oleh Sundra itu, hingga terlihat celana pendek yang Sundra kenakan itu. dan terlihat pula Pusaka Perjaka yang ku cari itu, terlihat sangat Besar...
"hihihi.. kini aksiku akan berhasil, dan tak akan ada lagi Seseorang yang menghalangiku." gerutu Bathinku.
lalu aku langsung melorototkan penutup Batang pusaka milik Sundra itu, terlihat sangat mengkilau sekali. aku pegang perlahan sampai pusaka itu memanjang Besar.
seusai Pusaka Sundra mulai menggeliat dan memanjang, aku pun segera meluncurkan aksiku. menyedot ke perjakaan Sundra tentunya. hingga Sundra pun Tiba tiba menggeliat, sambil kedua bola matanya masih terpejam.
"aahh... monica, cukup aaaaa!!" seru Sundra sambil mengigau menyebut ke Kasih barunya itu. dan aku pun berhasil menyerap ke Perjakaan milik Sundra itu.
Pusaka yang sudah terkulai itu aku tinggalkan, tubuhku menghilang menembus Dinding Kamarnya Sundra, Angin menghembus kencang. seakan mendukung pengobatanku yang kini aku telah berhasil melakukannya.
rupanya Kiyai Anwar sedang berjalan Kaki menuju Mesjid Nurul Hidayah. tak beberapa lama kemudian Kiyai Anwar melihat Zaki yang sedang menepikan sepeda Motornya itu.
"Assalamualaikum..??" ucap Salam Kiyai Anwar pada Zaki.
"Wa'alaikum Salam.." jawab Zaki.
"maaf sepertinya anda sedang ke lelahan, kalau mau beristirahatlah dulu di dekat Rumah saya. yang tak jauh dari sini kawan." kata Kiyai Anwar, mencoba mengakrabkan dirinya,
"terima kasih eehmm.. Ustadz, maaf anda siapa ya?" tanya balik Zaki, agak gugup.
__ADS_1
"panggil saja Namaku, Orang orang menyebut Namaku dengan sebutan Kiyai Anwar. maaf bukannya saya mau menyembongkan diri," jawab Kiyai Anwar.
" oh kalau begitu terima kasih atas tawarannya Kiyai, saya juga sedang..." ucapan Zaki, terputus karena sudah tertebak oleh Kiyai Anwar.
"saya tahu anda ini, baru saja terkena musibah iyakan? dan Alhamdulillaah.. mungkin Alloh sayang padamu kawan, sengaja beliau mempertemukan kita di sini. sekali lagi, mari ikut saya untuk beristirahat." kata Kiyai Anwar, mengajak Zaki untuk beristirahat di Rumahnya. yang kebetulan dekat dengan Madrasah tempat ia mengajar.
Zaki juga memanggut, lalu sengaja turun dari atas jok Motornya. lalu mengikuti langkah Kiyai Anwar, dengan mendorong Motornya. hingga sampai ke tempat tujuannya.
tak berapa lama setelah Kiyai Anwar dan Zaki sampai di pelataran Rumah Kiyai Anwar. lalu suara Adzan Subuh pun terdengar berkumandang.
Alllohu Abar... Alllohu Akbar...!!
seruan Adzan terdengar dari berbagai mesjid, juga suara dari Mesjid Nurul Hidayah. Kiyai Anwar terhenti dulu melangkah, mendengarkan dulu suara Adzan hingga beres. setelah Adzan selesai beliau berkata.
"oh iya siapa Namamu?" tanya Kiyai Anwar minta berkenalan pada Zaki.
"Zaki Kiyai." jawabku.
"Alhamdulillaah Nama yang bagus, baiklah Zaki kalau begitu mari kita ke Mesjid dulu. standarkan saja Motormu di depan Pohon duren itu." kata Kiyai Anwar seraya mengajak Zaki untuk melaksanakan Sembahyang subuh.
Zaki pun melangkah sambil mendorong Motornya, ke pinggir deket Pohon duren itu. karena sesuai perintah Kiyai Anwar. setelah itu Zaki melangkah lagi menuju Kiyai Anwar yang sedang berdiri menunggu Zaki mendekatinya. karena akan pergi ke Mesjid berbarengan.
di pagi harinya... aku sedang berteduh di gubuk Rumah kosong, karena ingin mengumpulkan tenaga baruku ini dulu. sebab nanti usai Sore harinya aku harus mencari Mangsa kembali. begitulah dalam Fikirku sekarang ini.
aku pun berduduk sila lalu nenangkupkan kedua telapak tanganku seperti posisi menyembah. dan memejamkan kedua Mataku, lalu memusatkan seluruh tenagaku pada Netral jiwa dan kebatinanku. agar mampuh berkombinasi dengan Mudah saat aku menggunakannya.
__ADS_1
saat aku sedang bermeditasi, terbayang bayangan Zaki. yang hampir saja ke perjakaannya aku renggut. tapi keburu Sutardi menggagalkan rencanaku, Mataku kembali terbuka dan membagikan Pandanganku pada tempat yang aku pakai Meditasi ini.