
"tapi kenapa Om?" tanyaku,
"ya tapi Om masih Ragu Zaki, karena si Erick memang nggak percaya sama hal yang begituan. apa lagi tentang Ruqyah dan semacamnya." jawab Pak Burhan.
"itu gampang Om, Insyaa Alloh saya bantu untuk membujuknya. yang penting kita harus berusaha untuk mengobatinya Om. saya juga merasa kasihan melihatnya Om," kataku.
"terimakasih Nak Zaki, kamu memang Anak yang baik. Om Jujur belum bisa berbuat Apa apa untuk bisa menolongnya." jelas Pak Burhan kepadaku.
"Sama sama Om, sudahlah karena sudah hak saya untuk saling membantu sesama Manusia Om," ucapku pada Pak Burhan. secara Pak Burhan sekarang nampak semangat kembali. dengan adanya aku yang akan membantu Erick.
Adzan Maghrib sudah terdengar lantang, manggil kita untuk menunaikan perintah yang Maha Kuasa untuk melaksanakan ke Wajibannya. Erick mulai berdiri dari Duduknya di Kursi barusan, lalu melangkahkan kakinya menuju Kamar Mandi.
lalu kami berdua pun mengikutinya dari belakang. tapi seusai Erick keluar dari kamar Mandinya, kini Erick baru menyadari adanya aku di Rumahnya.
"Jack? kapan kamu kemari?" tanya Erick di garis Pintu Kamar Mandinya.
"ya dari tadilaah Rick, justru dari tadi juga Nak Zaki ngobrol sama Bapak di belakang Kursi yang kamu Duduki barusan." jawab Pak Burhan.
"oh.... Astaghfirulloh, maafin aku Jack ya. entah kenapa aku belum bisa mengikhlaskan Almh. Ibu." kata Erick Sambil menepuk pundakku,
"aku juga mengerti Rick, apa yang sedang kamu rasain. tapi kalau bisa kamu harus belajar Rick, karena biar bagaimanapun Almh. Ibumu perlu ketenangan di Alam sana." usulku Sambil mengusap punggung Erick,
tak terasa aku sudah hampir satu jam di Rumah Erick, sehabis Sembahyang Isyaa. aku pun berpamitan untuk Pulang,
tapi di Tengah jalan perkampungan Tiba tiba Motorku mogok, sudah di Selah Beberapa kali Motorku tetep belum bisa menyala. tak ada seorang pun yang lewat di jalan ini, hingga akhirnya aku menelpon Manaf sepupuku. tapi Manaf tak mengaktifkan Ponselnya,
"Astaghfirulloh... pada kemana ini Orang, haah... pake Mogok segala lagi." gerutuku sambil menarik Nafas kasar.
tapi Tiba tiba ada seorang Kakek kakek paruh baya datang menghampiriku. ia membawa kayu panjang sebagai alat jalannya,
__ADS_1
"mau kemana Nak?" tanya Kakek itu.
"anu kek.. saya mau ke Kampung Marga layar, loh ko Kakek berani sekali jalan malam begini, mana Kakek sendiri lagi." jawabku.
"hehehe.. oh saya mah sudah biasa Anak Muda, Kakek sengaja suka lewat sini. tuh Rumah Kakek." kata si Kakek sambil menunjuk mengarah ke balik pepohonan, Tiba tiba ada Gubuk di sana.
"oh jadi deket Rumahnya ya Kek?" tanyaku, yang Tiba tiba juga merasa takut.
"hehehe.. iya betul Anak Muda, sekarang coba kamu nyalakan lagi Motornya." sahut si Kakek itu dengan Tiba tiba menyuruhku untuk menyalakan mesin Motorku ini.
aku pun mulai mengaktifkan kunci Kontak yang masih menggantung di lubang Kunci Motorku ini, lalu aku pun mencoba menyelahnya. dan Akhirnya Motorku menyala kembali.
"waah ko sekarang bisa kembali menyala ya?" gerutuku.
"hehehe... sudah, Anak Muda jangan kamu fikirkan soal itu mah. mendingan cepat segera pulang saja sana, keburu Mogok lagi hehe.." seru si Kakek Tua itu di sela tawanya.
aku pun tanpa Basa basi lagi, segera menaiki Motorku. dan langsung melesat meninggalkan si Kakek Tua itu,
baru saja aku membuka pakaian, Tiba tiba ponselku berbunyi. ternyata itu Panggilan dari Manaf.
"hallo.." jawabku di Sambung telpon,
"tadi kamu Nelpon ya? sory tadi Batreiku lowbet Jack" tanya Manaf, dan Sambil menjelaskan.
"haah.. justru itu aku hampir saja pingsan di tengah jalan Naf, mana malam terus sepi lagi di jalanan." kataku menjelaskan,
"iya maksudnya kamu kenapa gitu Jack?" tanya Manaf
"biasa Motorku Tiba tiba Mogok Naf. dan yang aku heran Tiba tiba aku bertemu dengan Kakek kakek paruh baya yang datang sendirian sambil membawa Tongkat. nah, yang jadi Anehnya lagi itu si Kakek tenang tenang aja walaupun berjalan di gelapnya malam." kataku sambil menjelaskan pada Manaf di Sambung telpon,
__ADS_1
"oh begitu ternyata, lah emang kamu abis dari mana gitu Jack. ko bisa sampai pulang ke malaman kaya gitu?" tanya Manaf,
"oh aku Abis pulang dari Rumanya si Erick waktu kemarin sore, aku melihat si Erick yang sekarang sering melamun terus Naf." jawabku sambil menjelaskan.
"aduh kasihan banget ya si Erick. padahal setahuku dia itu Orangnya periang, kocak, tapi kalau sekali sedih kasihan banget ya." kata Manaf,
"iya gitu Naf, aku juga nggak tega ngeliatnya. apa lagi Om Burhannya seperti Orang ke Bingungan. sering melamun juga Naf." ucapku pada Manaf,
percakapan di Sambung telpon berlangsung hingga jam 00:00. usai mengakhiri percakapan itu aku pun langsung menarik selimutku dan segera bergegas menuju Alam Mimpi.
pagi pagi...
di pagi hari ini, aku ke Pergi ke Pasar lebih awal. karena ada janji khusus bersama Endang Asih, Pertama tama aku dan dirinya akan pergi ke Rumah kedua Orang Tuaku. dan yang keduanya aku dan dia akan bersantai sambil healing ke Daerah Pangandaran Jawa barat.
dan setelah aku sampai di Pasar dan mulai berberes beres, para pengunjung sudah mulai berdatangan. dan ada langganan setiaku yang Beberapa hari ini Rajin Ngeborong Pisang ke Tokoku.
"baru Buka Mas," tanya Ibu Sumroh padaku.
"eh iya Bu, biasa lagi sumanget ni Bu hehehe." jawabku sambil tersenyum.
"oh syukur deh kalau Bukanya lebih awal, soalnya kebetulan saya mau pesan Pisang 50 Gantung Mas." kata Bu Sumroh, yang membuatku merasa sumburimgah.
"oh boleh hehe... waduh, kayaknya buat selametan Bayi yang di kandung ya Bu," ucapku sambil menatap perut Bu Sumroh yang sudah membuncit.
"iya Mas, ini juga saya kebetulan Bapaknya dapat job pasang Panggung Berturut turut Mas hehe.." seru Bu Sumroh dengan peroman gembira.
seusai aku dan Bu Sumroh mengobrol panjang lebar, juga aku sekalian Sambil mengemas Pisang pesenan Bu Sumroh. akhirnya percakapan pun berakhir, karena keburu Adik Bu Sumroh datang menjemput.
lalu Bu Sumroh berangkat lebih dulu menuju Mobil yang di bawa si penjemput itu, langsung di Susul oleh Sopir yang sekaligus Adik Kandungnya Bu Sumroh dari belakang. sambil membawa karton berisi Pisang yang sudah aku kemas barusan.
__ADS_1
seusai mereka berdua menaiki Mobilnya, Tiba tiba aku melihat si Sosok bergaun itu ada di atas Mobil Bu Sumroh.