
Jenazah Bu Rossi baru selesai di sembahyangkan, lalu kemudian Jenazah atau keranda yang di tempati oleh Jenazah Almh. Bu Rossi segera langsung di angkat oleh Beberapa Warga,
para Warga yang menggotong Keranda yang di tempati oleh Jenazah Almh. Bu Rossi, sudah melangkah terlebih dulu. sedangkan yang lain mengikutinya dari belakang,
Ustadz Hasan yang di hapit oleh Pak Burhan dan Erick, Sama sama mengikuti yang lainnya menuju TPU. yang tak jauh dari Perkampungan marga layar,
sesampainya di TPU Jenazah Almh. Bu Rossi di turunkan dari atas Keranda menuju liang lahat, Tangis Warga dan keluarga Almh. terdengar sangat agak kencang, saking masih merasa belum bisa merelakan sepenuhnya atas meninggalnya Almh.
Erick juga Pak Burhan, juga aku dan Asih Sama sama menyaksikan Pemakaman secara langsung. Asih menatap wajahku lalu berkata,
"A, lebih baik kita Pulang duluan saja yuk," kata Asih.
"oh loh ko kenapa kita mesti Pulang Buru buru Sayang. bukannya nanti setelah semuanya pada Bubaran," usulku pada Asih.
"tapi A, aku sudah punya Janji sama Citra. sekarang kami berdua mau ngadain acara Reuni A." jawab Asih.
"oh begitu rupanya, ya sudah kita berpamitan dulu pada Om Burhan dan Erick dulu yuk." kataku sebelum pulang bersama,
aku dan Asih langsung melangkahkan kaki menuju kerumunan sebelah, dekat tempat persemayaman tepatnya. di Tengah tengah kerumunan itu akhirnya kami berdua menemukan Erick, tapi kalau Pak Burhan entah kemana. aku tak melihatnya,
"sudahlah Rick jangan terus bersedih, kamu harus belajar mencoba mengikhlaskan Almh. Ibumu. kasihan beliau kalau melihat Anaknya terus bersedih," ucapku pada Erick. sambil mengelus elus pundaknya.
"iya Jack, aku sudah berusaha untuk belajar mengikhlaskannya. tapi aku tetap belum bisa Jack hii...!" tangisan Erick terdengar semakin kencang.
"iya aku juga mengerti, apa yang kamu Rasakan saat ini Rick. oh iya aku minta maaf nggak bisa nunggin kamu lama di sini, karena Asih ada Janji katanya," kataku pada Erick sambil berusaha untuk menenangkannya.
Erick pun hanya memanggutkan kepalanya saja, tanda memberi Isyarat mengiyakan ke pergian aku dan Asih.
__ADS_1
setelah aku berjalan menuju parkiran, dan mengambil helm. di area penitipan Barang area Makam, aku pun segera pergi menuju Motorku. kebetulan Asih sedang menunggunya di sana, Asih menatapku kemabali kemudian berucap.
"A.. aku sangat kasihan melihat Erick barusan A, pasti saat ini hatinya sangat terpukul. apa lagi dia juga katanya rencana akan Menikah." ucap Endang Asih yang Tiba tiba merasa Iba pada Erick,
"aku juga demikian Sayang, karena Erick sudah ku Anggap seperti Saudaraku sendiri. justru itu yang membuat hatinya pasti sangat terpukul Sayang, karena Pernikahan Erick nanti tak di temani Ibunya" kataku menyambung ucapan Endang Asih.
"ya sudah kita berangkat yu, keburu terlambat aku." kata Endang Asih mengakhiri Obrolannya,
Aku pun langsung memakaikan Helmnya, lalu menaiki Motorku yang masih berstandar di Parkiran TPU itu. seusai aku menaiki Motor dan sekaligus mengendarainya, dengan sangat Cepat sehingga waktu perjalanan tak terlalu lama. dan akhirnya sampai di kediaman Rumah temannya Endang Asih.
Endang Asih pun segera turun dari Motorku, lalu berucap. "makasih Valentino Rossi hhhe.. aku hampir saja Copot Jantung, gimana sih ko ngebut amat." ucap Endang Asih sambil tersenyum tipis,
"looh.. gimana sih, kan biar kamu cepet nyampe makannya aku ngeluarin jurus Valentino Rossi, kan akhirnya kamu cepet nyampe iyakan?" tanyaku pada Endang Asih.
"iya dehh.. iya, oke aku masuk dulu ya. thank you sudah mau mengantar." kata Endang Asih kepadaku.
lalu aku pun hanya menjawab dengan Anggukan dan berbalik memberi Senyuman padanya, lalu pergi melajukan Motorku menuju Pasar di Batas kota. tempat aku membuka Usaha, tentunya milik Orang tuanya Endang Asih juga.
"met siang Bos!" seru Mang Bohim, Jukir khusus di tempat Parkir itu.
"eehh Siang juga Mang hehe..." aku pun balik menyapanya.
"Tumben Siang Bos!" serunya lagi.
"iya Mang, biasa ada keperluan mendadak hehe.." jawabku simple.
"oh iya sudah selamat beraktifitas Bos hhe.." kata Mang Bohim menyemangatiku.
__ADS_1
aku pun tersenyum sambil memberi jempol, tanda oke. lalu aku pun segera bergegas menuju Toko,
sesampainya di depan Toko. aku pun Pertama tama membuka Rolingdor, yang sengaja menutupi Toko. kemudian seusai membuka Rolindornya aku pun segera merai Sapu Injuk yang menggantung di atas laci Toko. dan aku pun segera membersihkan lantai dan Meja meja tempat menyimpan barang jualanku.
setelah semuanya beres aku pun segera memesan Kopi seperti biasa ke Warung sebelah. sambil menunggu Kopi yang lagi di seduh aku Duduk santai dulu sebelum datang pelanggan yang sudah biasa Belanja Pisang pada Tokoku.
tak lama kemudian Ceu Iroh penjaga Warung sebelah itu, membawa kopi di atas Nampan yang sudah ku pesen barusan.
setelah itu Ceu Iroh pergi lagi ke tempatnya,
Malam Hari...
aku telat Pulang ke Rumah, karena aku berangkat ke Pasarnya agak Siang. sesampainya di Rumah pas pukul 20.:00. langsung Motor ku simpan ke dalam Rumah, dan Tiba tiba ada Suara Perempuan yang tertawa Cekikikan.
"hiii..hiii.. hik, hik,"
Bulu pundukku mulai meremang, pertanda ada yang tak beres. fikirku, lalu aku masuk ke dalam Kamarku Tiba tiba ada sekelebat Bayangan Putih melintas di belakangku, setelah aku menoleh tak ada Apa apa..
di Rumah Tetangga sebelah.
di Rumah Bu Marni Istrinya juragan Beras, kini Bu Marni sudah mengandung Sembilan Bulan. karena selama Berumah Tangga lima Tahun, baru akan di karuniai Anak.
Marni adalah Perempuan yang masih Muda, Usianya baru beranjak Tiga Puluh Sembilan tahun.
Marni sedang Minum Susu Ibu Hamil malam itu. sedangkan Suaminya sedang Asyik mengobrol lewat Ponselnya, mengaku dengan Rekan Bisnisnya. ternyata Suami Bu Marni sedang mengobrol dengan seorang Wanita yang tak jauh Umurnya dari dirinya.
sambil meminum Kopi Suaminya Bu Marni masih menempelkan Ponselnya di sebelah Kupingnya. sambil menghisap Rokoknya Suami Bu Marni masih terlihat Asyik mengobrol dengan Perempuan yang sedang di dekatinya saat ini.
__ADS_1
sedangkan Bu Marni yang tidak tahu bahwa Suaminya sedang selingkuh Secara perlahan. maklum Juragan, Mentang mentang Berduit, Perempuan mana pun pasti terpikat oleh dirinya. Bu Marni setelah menghabiskan Susunya di dalam Gelas, dia pun segera masuk ke dalam Kamarnya.
Bu Marni sudah terlentang di atas Ranjangnya, lalu segera menarik selimutnya. alangkah kagetnya Bu Marni Tiba tiba ada yang menggerayam pada Perutnya. saat itu Bu Marni kebetulan sedang memakai baju Pendek, jadi mudah untuk membuka Bajunya sedikit.