
apa beliaunya ada di dalam?" tanyaku,
"ohh kebetulan ada Pak, eeh kalau boleh tahu. dengan Bapak siapa ya?" tanya balik Satpam itu,
"ohh iya lupa. perkenalkan Nama saya Mail Pak," jawabku. sambil mengulurkan tangan pada Satpam itu,
"baiklah. saya akan masuk dulu ke dalam, akan memberitahukan pada Atasan saya. mohon menunggu ya Pak," jawab Satpam itu.
"oh iya silahkan..." kataku sambil tersenyum,
lalu Satpam itu masuk ke dalam, dan Beberapa detik kemudian. Satpam itu pun mendatangiku lagi.
"mari silahkan masuk Pak, biar Mobilnya saya Parkirkan." kata Satpam itu, sambil memintai Kunci kontak Mobilku. karena akan di Parkirkan olehnya,
dan aku pun memberikannya. lalu melangkah masuk ke dalam Gerbang itu, dengan berjalan santai. aku pun sambil melirik semua halaman, juga tempat lainnya. di area Perusahaan milik Satiah itu,
aku pun sangat Takjub. melihat ke majuan Perusahaannya itu, dan tak terasa aku sudah sampai lagi di Ruangannya.
tok tok... tok tok..
suara tanganku mengetuk pintu dari luar ruangannya,
"masuk!!" seru Satiah Rizkia,
aku pun melangkah masuk. "permisi maaf mengganggu," ucapku.
dia masih fokus mengamati laptopnya, saking banyak Job sepertinya. ketika Satiah melihatku, ia pun kaget dan seperti mimpi menurutnya.
"Kakak Mail?" tanya Satiah sambil telunjuknya mengarah padaku,
"iya ini aku Sat. apa kabar?" tanyak balik dariku,
"Alhamdulillaah.. baik Kak, oh iya maaf saya lupa.. silahkan Duduk," kata Satiah, setelah menjawab pertanyaanku.
aku pun langsung Duduk berhadapan dengannya, namun di hadapannya tersekat oleh Meja." syukurlah kalau keadaanmu sehat dan Baik baik saja, oh iya ngomong ngomong ke hadiranku merasa mengganggumu apa nggak?" tanyaku Basa basi,
"nggak kok Kak. malah saya sempat kaget, waktu dapat laporan dari Scurity barusan. kirain Pak Mail mana gitu hehe," sahut Satiah sambil tersenyum padaku.
"hehe, ternyata kamu itu dari dulu Sat. lucu dan nampak masih Cantik," kataku agak menggobalinya.
"ahh Kakak bisa saja, oh iya gimana keadaan Istrimu? dan kok nggak di bawa?" tanya Satiah bertubi tubi,
__ADS_1
"ohh soal itu.. kalau kamu belum tahu, aku beritahu." jawabku,
"emang mau beritahu aku apa?" tanya Satiah lagi,
"eeh.. Istriku sudah meninggal Sat, bahkan baru Beberapa hari." jawabku,
"yaa Alloh... semoga Istri Kakak di terima di Sisi yang Maha Kuasa," kata Satiah.
aku hanya menunduk dan Pura pura bersedih, karena ke pergian Diani. Nama Istriku itu, telah meninggal akibat melanggar peraturan Sosok junjunanku,
"oh iya Sat. kapan kamu ada waktu senggang?" tanyaku, sambil Pura pura mengusap ujung mataku.
"ohh.. emmh, paling nanti Sore. emang Kakak mau apa?" tanya Satiah penasaran,
"nggak.. cuma mau ngajak makan aja ko," jawabku.
"kalau begitu... oke deh siap," jawab Satiah. membuat hatiku gembira tentunya.
aku pun pamit pulang pada Satiah, karena hari sudah mulai siang. aku segera melangkah menuju Parkiran, dan segera menaiki Mobilku. sampai akhirnya aku meninggalkan Gedung perusahaan megah itu,
Prov. Zaki,
hingga di malam hari ini, aku dan para Warga sedang berkumpul di Pos Ronda. sambil minum Kopi dan dengerin musik supaya suasana tak terlalu hening, "ayo Jack Ngopi lagi." sahut salah satu warga,
"oh iya siap Pak, paling nanti sebentar lagi. saya akan Nyeduh sendiri Pak," jawabku.
lalu si Bapak itu turun, berduaan sama Pak Badri. mereka berdua akan berkeliling sambil membawa pentungan,
"Jack kamu mau ikut kita keliling kampung nggak?" kata Pak Sutris,
"oh iya boleh ayo..." jawabku,
lalu kami pun berjalan bertiga, sedangkan yang duanya lagi. sedang rebahan sambil mendekur lantaran tertidur, terpaksa sama kami bertiga mereka di tinggalkan.
sambil berjalan aku dan dua Orang itu mengobrol, "memangnya udah berapa Anak yang menjadi Korban Pak?" tanyaku pada salah satu dua Orang itu,
"katanya sih ampir ada 7 Korban semalem Jack." jawab Pak Sutris,
"benar kemarin juga si Hanif. Anaknya Pak sugeng di bawa sama Makhluk itu," timpal Pak Badri.
"Masyaa Alloh, ternyata Korbannya hampir banyak dong Pak."
__ADS_1
"ya begitulah Jack, memang sih. nggak hampir tiap hari, cuman yaa jadi membuat risih warga saja gitu.." kata Pak Badri,
malam semakin larut, aku dan dua Orang yang lainnya. berjalan sambil mengontrol situasi, lalu Tiba tah...
tung.. tung tung!!!
suara bunyi Pentungan terdengar dari arah barat, tempat kami bertiga berjalan. "dari arah sana kayaknya Jack," sahut Pak Sutris. sambil menunjuk arah barat,
"baiklah kalau begitu mari kita ke sana. yuk!" seruku pada mereka, lalu kami pun berjalan agak kencang. lalu Pak Sutris pun membunyikan Pentungannnya, memberi Isyarat kalau kami akan mendekat.
tung tung... tung tung,
suara Pentungan yang Pak Sutris tabuh. dan tak lama kemudian akhirnya kami pun sampai, di tempat Pos ke dua itu. yang baru saja menabuh Pentungannnya,
"Alhamdulillaah.. Akhirnya kalian pada datang juga," ucap penabuh Pentungan itu.
"iya Pak Ari, ada apa ya? ko Tiba tiba menabuh pentungan?" tanya Pak Badri,
"baru saja si Sadewa di bawa sama Sosok aneh Bad." jawab Pak Ari, si pemukul pentungan.
"Apaa..?!" seru kami bertiga bersamaan.
"terus kenapa belum ada yang berpencar untuk mencarinya Pak Ari?" kata Pak Badri,
Tiba tiba saja ada dua Orang yang berlari kemari. ke Pos 2, " tuh si Beno sama si Bejo. gimana ketemu?" tanya Pak Ari lagi,
"belum Pak Ari.. haah, haah.." jelas Bejo sambil nafasnya ngos ngosan.
"iya Pak Ari.. haah, kami berdua dan Warga lainnya. pada ke hilangan Jejak Pak huuh.." kata Beno ikut menjelaskannya juga,
"kira kira tadi di bawanya ke arah mana ya?" tanyaku pada yang lainnya,
"kalau nggak salah sih. kearah utara, iya,kan?" jawab Beno. sambil bertanya pada Bejo,
"betul.. iya ke arah Utara, Sosok itu membawanya." jawab Bejo, di tujukan pada kami.
"ya sudah, terima kasih atas Informasinya.. Pak Sutris, Pak Badri. saya akan mencoba mencarinya ke sana, lebih baik kalian segera pergi ke Pos 1. kasihan Pak Ono, dan Pak Wijaya masih di sana," kataku berpamitan pada mereka.
mereka pun menanggukan kepalanya, lalu melangkah untuk segera kembali ke Pos 1. dan aku pun sebelum pergi untuk mencari, sempat mengobrol dulu dengan Pak Ari sebentar.
Pak Ari menceritakan Sadewa yang sedang berjalan kaki abis pulang dari Warung, karena di suruh Guru Ngajinya. tapi Tiba tiba saja dari arah Pohon bringin, ada Sosok Genderewo membawa Sadewa.
__ADS_1