Hantu Pemburu Janin.

Hantu Pemburu Janin.
Episode 14.


__ADS_3

"hemm... Pria itu membuatku penasaran, dan aku sangat menginginkan ke perjakaannya itu. hemmm... Gara gara Sutardi, apa yang aku inginkan jadi terbolaikan haaah...!!" gerutu dalam Bathinku marah besar pada Sutardi.


Prov. Zaki.


pagi itu aku sedang mengobrol berduaan dengan Kiyai Anwar. Kiyai Anwar rupanya dapat menebak ke janggalan di dalam hatiku yang sedang terluka ini, aku pun jadi ikut terharu dengan Nasehat nasehat bijak yang di ucapkan oleh Kiyai Anwar padaku.


"naah jadi begitulah Zaki, pengaruh Dunia memang sangat menggiurkan. dan menyakitkan bila salah menyikapinya. soal kamu tentang seorang Wanita itu persoalan yang lumrah Zaki. tapi kamu mesti tahu, bahwa Alloh sedang menyiapkan sesuatu yang spesial untuk dirimu." kata Kiyai Anwar, menasehatiku.


" betul Kiyai, aku sudah berharap sangat banyak, ke padanya. dan meyakini bahwa dialah tempat hatiku bersinggah. dan aku pun tahu, bahwa diriku ini siapa? Orang yang tak pantas bersanding dengan keluarganya itu" ucapku sambil meneteskan Air mata.


"haah.. Zaki, ingat tak selamanya hidupmu akan seperti ini. justru kamu mesti terus belajar untuk menerima Qodho dan Qodharnya Alloh Swt. kamu sekarang yang berada di bawah umpamanya, tapi lihatlah Jarum Jam Zaki. jarum itu tak selamanya menapak atau menginjak Angka enam. Angka yang paling bawah, tapi seiringnya detik. Jarum itu bisa kembali ke atas dengan menapaki angka 12. yang artinya Dunia itu berputar Zaki." kata Kiyai Anwar memberi Nasehat panjang lebar ke padaku.


hingga perasaanku lumayan lega, dan Mudah mudahan ada ke ajaiban dari Alloh Swt. karena urusan Cinta memang sulit untuk bisa merelakan, apa lagi Cinta itu di rintis dari Nol. hingga berbuah Kasih Sayang yang bagus dan baik. aku hanya belajar Pasrah saja, atas ke tentuan dari yang Maha Kuasa. apa yang di bilang Kiyai Anwar barusan, begitulah ucapan dalam Fikirku saat ini.


seusai Kiyai Anwar memberikan Nasihat baiknya padaku, aku mulai terasa lega.. senandung Ayat Suci Al-Qur'an yang selalu di bacakan oleh Kiyai Anwar dan para Santrinya, membuat hatiku nyaman. hingga tubuh dan perasaanku terasa meyakinkan untuk seterusnya melangkah ke depan.


seusai Suara lantunan Ayat Suci Al-Qur'an itu terhenti, aku juga merasakan sebuah dorongan di dalam hatiku ini. agar terus kuat dan legowo untuk menjalani hidup, setelah Kiyai Anwar keluar dari Madrasahnya. bareng Kiki dan Azam, yaitu di antara para Muridnya Kiyai Anwar.


Kiyai Anwar melangkah menghampiriku yang sedang duduk santai ini, menatap sekeliling lingkungan pemukiman pondok para Santri yang bermukim di sana. lalu Kiyai Anwar mulai menyapaku.


"Assalamualaikum Zaki..." ucap Salam Kiyai Anwar sambil menyapa.

__ADS_1


"Wa'alaikum Salam Kiyai...!" seruku sambil memberikan senyuman pada Kiyai Anwar. dengan rasa hormatku, lalu aku pun berdiri dari Kursi santai milik Kiyai Anwar itu.


"looh.. ko malah berdiri sih, biarin saja padahal sambil duduk saja Zaki." kata Kiyai Anwar.


"ahh nggak Apa apa Kiyai, justru saya yang minta maaf," ucapku sambil menundukkan kepalaku.


"maaf? maaf untuk apa Zaki, hehe... ada ada saja kamu ini." sahutnya sambil tersenyum indah, menandakan bahwa Kiyai Anwar seperti bebas dari Beban. tenang, kalem, Orangnya membuat aku nyaman.


"yah.. saya di sini sudah merepotkan Kiyai gitu, jelasnya saya ingin sekali tinggal di sini tapi..." ucapku tak berlanjut.


"tapi apa Zaki?? dan tolong berhentilah berkata seperti itu Zaki, Insyaa Alloh saya Ikhlas jika kamu ingin tinggal di sini. bahkan menetap pun juga beleh." kata Kiyai Anwar,


"tapi saya banyak kerjaan Kiyai, karena saya Alhamdulillaah punya Usaha kecil kecilan di Pasar Batas kota Kiyai. jadi saya.. belum bisa meninggalkannya, begitu Kiyai." sahutku menjelaskan,


seusai berbincang bincang pada hari itu, aku segera pamit dulu. karena besok aku akan memulai lagi berjualan seperti biasa. tapi saat aku usai Pamitan dan melangkah keluar, di depanku Tiba tiba ada Seseorang yang berdiri tegak sambil memegang tongkat panjangnya.


ternyata Kakek Sutardi rupanya, beliau Tiba tiba tersenyum sambil menatapku. lalu berkata, "hehe.. jadi Nama kamu Zaki ya? Syukurlah akhirnya kamu sudah berjumpa dengan Cucuku, yang waktu kemarin aku ceritakan padamu." kata Kakek Sutardi ke padaku.


aku pun mengerutkan keningku, karena baru sadar kalau si Kakek tua itu, alias Sutardi pernah bercerita tentang diriku bakal berjumpa suatu saat dengan Cucunya itu.


"iya Kek, Nama saya Zaki. dan yang lain memanggilku Jack saja, dan saya hampir lupa tentang hal itu Kek. dan sekarang baru keingetan Kek. ternyata Cucumu itu adalah..." ucapan terputus.

__ADS_1


"ssst.. sudahlah sekarang kamu pulanglah dulu, dan lain kali seringlah untuk main kemari Jack hehe.." kata Kakek Sutardi yang memotong perkataanku barusan.


akhirnya aku merasa gembira dan bahagia sejak itu. karena aku bisa bertemu dua Penolongku sekaligus, dan sejak itu juga perasaanku mulai Riang kembali.


Prov. Minati,


di Malam harinya tepatnya di Malam selasa legi, aku sudah selesai bersemedi. hampir pas tiga hari, tiga malam sampai sekarang ini. tenaga dan Aliran darahku sudah pulih kembali, kini waktunya aku mencari Mangsa ke tujuh.


aku sudah mendapatkan Mangsa itu saat Tiga hari tiga malam bersemedi. Seorang Wanita Muda yang sedang Hamil tua, di Daerah Perumahan elite tak jauh dari tempt ini. sejak malam itu juga aku mulai lagi akan beraksi.


aku sudah pergi meninggalkan gubuk itu dulu sebentar, karena akan menjemput Mangsaku di Perumahan Elite itu. Suaminya seorang Pengusaha Kaya Raya dan Kikir itu, baru akan mendapatkan Anak yang kedua,


Roy Nama Suaminya Wilah, Istri muda yang sedang Hamil tua itu. malam mulai hening tanpa ada suara lagi, Angin kecil semilir menerpa lingkup Rumah yang di isi empat anggota keluarga Roy. keduanya sudah pada tidur, Wilah yang lebih dulu mendekur menuju Alam Mimpinya. sedangkan Roy baru saja memejamkan kedua bola matanya.


Angin kecil yang nampak dingin itu, mulai memasuki area Kamar sepasang Suami Istri yang sudah pada tertidur lelap itu. Wilah yang sedang tertidur pulas dengan Posisi terlentang itu nampak nyenyak sekali tidurnya.


Perut Bunyit yang tertutup Baju Merah tua itu, nampak sangat ketat sekali. membuat aku tak kuasa menahan laparku, saat diriku beraksi dan mulai memasuki jendela kamar dengan cara menembus Badan melalui tembok samping Jendela Kamar Wilah dan Roy.


Mangsa yang ku nanti nanti nampak dekat sekali dengan arah pandanganku. kemudian aku mulai memejamkan kedua mataku, dan memusatkan tenaga dalamku untuk bisa masuk ketubuhnya.


siusshh...

__ADS_1


perisai berwarna Merah bercampur ke hitaman itu, mulai memasuki area Intimnya Ibu Wilah. dan Tiba tiba Ibu Wilah terhentak kaget.


__ADS_2