
lalu aku pergi untuk mencari Mangsa lagi, dengan melayangkan tubuhku mengudara. aku sengaja mengelilingi setiap pelosok Desa, dan perkampungan. tapi setelah sekian kali aku mengelilingi perkampungan dan Pedesaan itu. aku pun menurunkan badanku ke bawah hingga dua Kakiku menapaki tanah, lalu kedua bola Mataku terfokus ke depan. pada satu Rumah yang sederhana tapi sangat bagus,
dengan bernuasa serba Cat berwarna kuning di Dinding dindinya itu, lalu dengan rasa penasaran aku pun melangkahkan Kakiku mendekati itu Rumah. dan mencium Aroma Mangsa yang menggiurkan, aku langsung memusatkan ke Kuatanku pada Rumah itu.
sedangkan yang di dalam Rumah tersebut itu, rupanya sudah pada Tidur pulas. Ningrum bernama Mangsaku itu, terlihat masih Muda dan cantik. di kedua Pipinya putih itu ada tailalatnya kembar, alias sama dan sejajar.
Ningrum tidur sendirian di dalam kamarnya, karena Subki sang Suami sedang bekerja di luar kota. sedangkan Ningrum di titipkan pada Kakaknya, Surmi berumuran sekitaran empat puluh tahunan.
Surmi sendiri sedang tidur di kamar belakang, khusus kamar tamu. jika ada Saudara atau kerabat yang menginap di Rumah itu. Surmi pun sama sudah tertidur pulas di kamar belakang itu,
Suami Surmi sudah lama meninggal, akibat terkena Penyakit Hepatitis. Surmi belum di karuniai seorang Anak, karena setiap ia Hamil selalu Gagal. atau terus menerus ke Guguran, setelah waktu menunjukkan pukul 03:00 dini hari.
aku sudah menyiapkan gerakan untuk segera mengambil mangsaku, dari dalam perut Ningrum. Ningrum sedang mengenakan baju tidurnya itu, yang berbentuk Baju piyama. dan Perutnya terlihat menonjol ke atas, karena Posisi tidur Ningrum terlentang.
aku pun seperti biasa, memejamkan kedua Mataku dan merapal mantra. agar Ningrum tak mengetahui ke beradaanku, di luar Rumahnya. Angin terasa semilir menerpa badanku, yang sedang memusatkan ke kuatan Bathinku di luar Rumah Ningrum.
lalu aku membuka kedua mataku perlahan, dan meniupkan hembusan angin kecil dari mulutku. hingga mengeluarkan Angin dan kecil, dan berbentuk bola Api kecil. juga langsung melesat dengan cepat bola Api itu menuju Rumah Ningrum.
Ningrum yang masih terpejam tidur tak merasa kalau dirinya, dan jabang bayinya akan Binasa. hingga bola Api yang aku pentangkan telah memasuki lubang Perutnya, Ningrum sontak kaget saat di dalam perutnya terasa panas.
Ningrum yang masih terlentang tidur itu, jadi mendadak melek. karena di dalam perutnya seperti ada kobaran api, Ningrum pun memegangi Seprai di Ranjang tempat tidurnya.
"aaa.. panas !!!" seru Ningrum dengan sangat nyaring berteriak dari dalam mulutnya.
Surmi yang baru keluar dari dalam kamar mandi jadi tercengang kaget, saat mendengar suara jeritan dari kamar depan. Surmi segera melangkah tergesa gesa, ia takut terjadi sesuatu dengan Adik Iparnya.
__ADS_1
sesampainya di depan pintu kamar depan, Surmi kaget lagi. saat mendengarkan suara rintihan dari dalam kamar Adik Iparnya itu. Surmi segera membuka paksa pintu kamar Adik iparnya itu,
setelah Surmi masuk ke dalam kamarnya Ningrum. Surmi kaget saat melihat kondisi Ningrum bergelinjang gelinjang, juga meronta ronta di atas ranjangnya itu. "Astaghfirulloh... kenapa kamu Rum? apa yang terjadi, yaa Alloh..!" seru Surmi, dengan mendekati Ningrum.
"Ka... aahh, tolongin aku kaa.. Perutku sakit dan Panas aahh.. tolong ambilin Air dari dalam kamar mandi kaa, aaaa!!" seru Ningrum dengan muka yang mengkhatirkan Surmi.
Surmi pun segera melangkah pergi, menuju kamar mandi tentunya. lalu mengambil Air keran dan menampungnya ke dalam ember ukuran kecil, setelah ember agak setenghnya mau penuh. Surmi segera mematikan kerannya terlebih dulu, lalu membawa ember ukuran kecil itu masuk ke kamar Ningrum.
Ningrum di dalam kamar, malah meronta menjadi jadi. membuat Surmi semakin panik, setelah Surmi mendekati Ningrum yang sedang meronta ronta ke panasan, Surmi berucap. "Rum, ini air yang kamu minta.. sekarang mau di apakan?" tanya Surmi.
"cee..Pat, kompreskan pada perutku Kak!" seru Ningrum sambil bergelinjang ke panasan pada perutnya.
lalu Surmi meraih handuk mini, yang sudah di siapkan barusan. lalu di celupkan handuk berukuran mini itu ke dalam ember kecil, yang berisikan air. setelah itu lalu di angkat perlahan dan keringkan sebentar. lalu membuka piayama yang menutupi Perut Ningrum, kemudian Surmi menyimpan handuk berukuran mini itu. tepatnya di atas perut Ningrum,
"gimana sekarang keadaanya Rum?" tanya Surmi, sembari menempalkan handuk mini itu atas Perut Ningrum.
lalu Surmi pun memperhatikan lubang Pusar Ningrum. ternyata ada gumpalan api kecil di dalamnya, tapi di situ juga, aku langsung menarik janin dalam perut Ningrum itu dengan paksa.
tapi.. aku langsung kaget saat ada Seseorang di sebelah kiriku, ternyata Kiyai Anwar. bersama Zaki datang mendekatiku.
"hentikan Minati...!! kau jangan menyakiti saudaraku!" seru Kiyai Anwar, saat mendekatiku.
"pergilah kau dari sini makhluk jelek.." kata Zaki ketus.
"hemm... Anwar lagi lagi kau menggagalkan rencanaku, kau jangan berani untuk mengikut campuri urusanku!" seruku marah pada Kiyai Anwar.
__ADS_1
"maksudmu aku ini adalah penghalang dirimu iya,? justru itu tujuanku Minati.. karena ke biadabanmu aku akan selalu menggagalkan semuanya itu.." ucap Kiyai Anwar.
"Dasar kur*ng aj*r... jangan pernah bermimpi kau Anwar, aku akan membalaskan dendamku pada Sutardi melalui dirimu Anwar...!!" seruku sambil ekpresi marah besar.
"tunggu dulu Minati, justru kaulah yang sedang bermimpi Minati. Kiyai Anwar aku yakin anda pasti bisa menaklukkannya! jangan di kasih ampun Kiyai, hadapi saja...!!" seru Zaki antusias terhadap Kiyai Anwar.
"sudahlah Jack, lebih baik kita lihat saja dulu, apa yang akan Perempuan laknat ini lakukan." usul Kiyai Anwar dengan tenang.
namun diriku yang sudah tak bisa lagi membendung amarahku, kini aku pun menyerangnya..
syuush... syuush,
samberan Angin melalui tanganku pun sudah di terjangkannya, Kiyai Anwar sudah siaga dan waspada dari sebelumnya. maka samberan Angin itu tak mengenai badannya,
Plos.. plos,
terjanganku yang mengandung ke kuatan Angin itu, hanya mengenai tempat kosong.. karena Kiyai Anwar dengan sangat mudahnya, bisa menghindari terjangan itu.
tapi aku sangat kaget, saat badanku terpental ke belekang.. saat Kiyai Anwar melemparkan tasbihnya, yang tentu saja mengarah pada badanku.
syuush... teeng!!
lemparan tasbih mengarah padaku.
dek..dekk,
__ADS_1
sehingga tasbih Kiyai Anwar berhasil mendorong tuhuhku, jauh hingga Beberapa meter. aku pun meraih Dadaku yang sakit, akibat dorongan ke Kuatan dari tasbih itu.
Zaki pun, tertawa terbahak bahak. "wahaahaa... aduhh, kasihan ya, Makhluk yang aku kira jagoan. ehh nyatanya hanya omong doang haha..!" seru Zaki di sela tawanya.