
Prov. Zaki.
lalu Endang pun mengambil Kartu Undangan yang aku berikan padanya itu. setelah Endang membaca Kartu Undangan itu, Endang pun tersenyum sambil menatapku.
"Alhamdulillaah... akhirnya Erick mau Menikah juga ya A," sahut Endang sesuai membaca isi kartu Undangan itu.
"iya Endang, aku juga merasa senang dan sangat bersyukur. karena Erick sudah bisa menerima ke pergian Almh. Bu Rossi, juga siap untuk membangun Rumah tangga," jelasku pada Endang.
"haah... yaa aku juga ikut bahagia A, karena aku juga tahu bagaimana dia sangat terpukul, ketika di tinggal oleh seorang Ibu. dan inilah hasil dari ke terpukulan hatinya itu A, mendapatkan pendamping hidup." kata Endang sambil menatapku dengan penuh harapan.
aku hanya tersenyum saja, dan mengira ngira bahwa Endang Asih memang sangat istimewa menurutku. tapi sayang sekali aku bukan Pria berstatuskan Sultan, tapi hanya seorang Pedagang saja. makanya Orang tua Endang Asih memilih Daniel, sebagai pendamping Endang Asih. begitulah ucapan yang ada dalam Fikiranku sekarang ini.
Prov. Daniel.
di siang harinya, aku sedang meminum Kopi sepesial di dalam Caffe langgananku, sambil membayangkan ke jadian pagi tadi. ke kesalan yang sangat ku terima adalah hinaan dari Zaki.
tanganku kembali mengepal, arti ke kecewaan dan amarahku berkecamuk menjadi satu. tapi setelah melihat Cincin pertunanganku, aku kembali lemas dan sangat bersedih.
setelah aku merenung dan meneguk kopi Spesiaku ini, Tiba tiba Ponselku berbunyi. lalu aku pun mengambil Ponsel yang ku simpan di atas Meja dengan Cangkir yang berisi kopi spesial itu.
"hallo...!" seruku setelah menggeser tombol hijau yang tertera di layar Ponselku.
"hallo juga Boss...! begini Bos, aku mau melapor bahwa aku dan Riki sudah membikin Siasat untuk menghabisi Bocah yang bernama Zaki itu Bos." kata Anak Buahku
karena dari awal, setelah aku pertama kali tahu kalau Endang Asih sedang berdekatan dengan si Zaki, maka aku sudah menyiapkan cara untuk menyingkirkannya.
"kebetulan sekali, si Adam menelponku tepat waktu." ucap bathinku.
"hallo Bos!" seru adam, saat tak mendengar jawaban dariku.
"oh iya.. iya, kerja bagus Dam... kamu persiapkan saja semuanya, nanti aku akan kasih kalian Bonus oke!" seruku, sambil tersenyum sinis.
__ADS_1
seusai percakapanku dengan Adam di sambung telepon, aku pun bergegas untuk kembali pulang. tentunya sehabis membayar Kopi yang tadi ku minum.
tapi aku belum merasa tenang, karena ucapan Zaki seakan terngiang ngiang di telingaku. sungguh membuatku merasa sangat terhina, fikiranku seolah olah menjadi kacau saat ini.
Prov. Minati.
di malam harinya, aku sedang terbang untuk mencari mangsa yang belum aku dapatkan Beberapa Malam ini. semoga ada keberuntungan di Malam ini, kata Fikirku.
aku tak sengaja ada Wanita Muda memakai kerudung coklat sedang berjalan, karena Wanita ini sepertinya baru selesai acara Rutin Baca Sholawat tiap Malam Jum'at.
Wanita itu sedang berjalan, tak ketinggalan Suami Wanita itu juga sedang menemaninya di perjalanan. karena Wanita itu dalam keadaan Hamil. Ucok Nama Suami Wanita itu,
Ucok dan Sarwendah akhir nyampe di Rumahnya, Rumah Ucok dan Sarwendah terbilang Rumah yang sederhana, karena Ucok hanya sebatas pekerja Kuli bangunan.
aku pun menapaki tanah, tak jauh dari Rumah Ucok dan Sarwendah. dan memperhatikan keadaan Rumahnya, rupanya Sarwendah mempunyai tanda Putih di bagian Perutnya.
Kurang aj*r, ternyata Wanita itu memiliki Tanda lahir yang sangat aku takuti. tapi aku punya cara..." kataku sambil merapal mantra, untuk mencoba mengambil Janin Sarwendah melalui tatapan jarak jauh.
sedangkan Sarwendah dan Ucok baru saja memejamkan kedua bola matanya, Sarwendah yang sudah membuka hijabnya saat ia tidur. jadi terlihat raut muka Cantiknya,
ciushh... deg!!!
hingga mengenai tubuhku kembali. "aaa..! Kurang aj*r, rupanya benar sekali. kalau di dalam Rumah Wanita itu sudah di lapisi Pagar Ghaib." diriku menggurutu, karena akibat serangan balik barusan membuat diriku kecewa.
"tapi aku punya cara lagi hihi...!" gerutuku dalam hati, dengan tangan kananku mengambil tanah hanya secuil. lalu aku tiupkan dari ke jauhan.
Tiba tiba debu Tanah yang aku ambil itu membentuk Nyamuk yang sangat banyak. lalu mengarah maju ke Rumah Sarwendah juga Ucok.
Beberapa Nyamuk yang aku arahkan itu berhasil masuk ke dalam Rumah dua Pasangan Suami Istri itu, hingga bisa masuk ke dalam kamar Sarwendah dan Ucok. setelah para Nyamuk itu masuk ke dalam kamarnya Sarwendah, langsung mengarah pada Perut Sarwendah yang sudah membuncit itu.
Ngiing... ngiiing...!!
__ADS_1
suara Beberapa Nyamuk yang sudah masuk kedalam Perut Sarwendah. Sarwendah yang mengenakan Pakaian panjangnya layaknya perempuan hamil, Tiba tiba terasa gatal begitu dahsyat. hingga dirinya terbangun,
"aduhhh Mas, bangun eeehh... tolong Ambilin Minyak hangat, perutku gatal banget nih..." seru Sarwendah sambil menggoyang goyangkan badan Suaminya, yang ternyata baru saja pulas.
"ada apa Sar, aku ngantuk banget nih.." sahut Ucok yang masih agak merem.
"cepetan Mas, Gatal banget nih..." kata Sarwendah sambil garuk perut Buncitnya.
karena Ucok tak merespon perkataan Sarwendah, akhirnya Sarwendah sendiri yang mengambilnya. dan berjalan menuju lemari kecil, bertuliskan Alkes. seusai Sarwendah mengambil Minyak hangat yang di perlukan, lalu ia pun kembali lagi keranjangnya.
dengan Posisi Duduk di pinggir Ranjang, Sarwendah mengoleskan Minyak hangat itu pada Perut buncitnya. Sarwendah kaget saat melihat keadaan Perutnya, Merah dan Bintik bintik besar.
"Astaghfirulloh.. Mas," ucap Sarwendah kaget. lalu membangunkan Suaminya lagi.
"apa sih ahhh...!" seru Ucok sambil terbangun badanya.
saat Sarwendah berbalik badan, memperlihatkan perutnya. Ucok kaget, lalu memeganginya. "Perutmu kenapa ini Sar?" tanya Ucok kaget.
"nggak tahu Mas, aku juga merasa aneh Mas. karena Tiba tiba kaya begini." jelas Sarwendah sambil mengusap Perutnya yang semakin Merah.
aku yang sedang memperhatikan dari luar, merasa segar.. karena usahaku ternyata berhasil, sesudah Beberapa menit aku di luar Rumah Sarwendah dan Ucok. kini saatnya mengambil janin itu.
siussh...
bola Api kecil sudah menyala di telapak tanganku yang agak naik ke atas, seperti Posisi meminta. tak lama kemudian aku tiupkan menuju kamar Sarwendah lagi.
huuh.... wusssh!!!
bola Api kecil itu melesat dengan cepat, hingga Sarwendah kaget saat di olesi salep oleh suaminya. Tiba tiba ada yang masuk ke dalam Perut Sarwendah lagi,
"aaaa... Panas!!" seru Sarwendah sambil menggelinjangkan tubuhnya.
__ADS_1
"kenapa lagi kamu Sar..?" tanya Suaminya Panik.
"Panas... huuh ! huuh...!" kata Sarwendah sambil meniupkan angin dari dalam mulutnya saking panas Rasanya.