Hantu Pemburu Janin.

Hantu Pemburu Janin.
Episode 05.


__ADS_3

Bu Marni kaget saat melihat Perutnya Tiba tiba begah, seperti akan meledak. Bu Marni segera berteriak sambil menyebut Nama Suaminya.


"Aaaa... Mas Lukmaan, tolong Mas!" seru Bu Marni berteriak memanggil Nama Suaminya.


Lukman Suaminya Bu Marni kaget, yang saat itu masih mengobrol lewat Sambungan Teleponnya.


"Sayang udah dulu ya, sepertinya Istriku sedang memerlukan Kang Mas.." ucap Lukman sambil mengakhiri Obrolannya lewat Sambungan Teleponnya itu.


Lukman segera bergegas menuju Kamarnya, saat sudah sampai Garis Pintu Lukman kaget. melihat Istrinya yang sudah tergeletak dengan keadaan bersimbah darah.


"Astaghfirullah... Marni kau kenapa Mar?" tanya Lukman sambil menggoyah goyahkan badan Marni yang sudah tak bernyawa lagi.


Berita kematian Marni sudah tersebar luas, hingga sampai ke telingaku. waktu itu aku sedang melayani para pembeli, dan tak sengaja aku mendengar dari Mulut Mas Broto langganan setiaku.


dengan terpaksa aku pun Kepo pada Pak Broto. "waah yang bener Mas?" tanyaku pada Mas Broto.


"iya Mas Jack, lawong iku Matine nganeh gitu." jawab Mas Broto dengan khas logat Jawanya.


"aneh gimana maksudnya Mas?" tanyaku lagi saking merasa Penasaran.


"itu loh Mas Jack, dia itu Mati seperti di belek lagi Perutnya gitu. apa lagi si Marni Istrinya si Lukman itu baru saja mau punya Nganak Mas Jack." jawaban Mas Broto membuatku kaget. karena ke jadiannya sama Persis dengan kematian Almh. Bu Rossi Ibunya Erick.


"Innalilahi Wainnailaihi Roji'un.. ihh jadi Serem ya Mas." kataku sambil setengah kaget.


"laiyalah Maas Jack. ya sudah punyaku jadi Piro Mas." kata Mas Broto padaku, sambil memotong Obrolannya.


"oh jadi 15 Ribu aja Mas." jawabku.


setelah aku beres melayani Mas Broto Sebagai Pelanggan. dari situ aku langsung rebahan di Toko, tapi pas waktu aku Rebahan. Ucapan Mas Broto barusan masih terngiang di telingaku. atas kematian Bu Marni yang katanya di anggap Mati tak Wajar.


di Siang harinya...

__ADS_1


semakin siang pembeli di Pasar sudah agak berkurang, dari situ juga aku memutuskan untuk berkemas pulang saja. aku sengaja membungkus Pisang buat cemilan di Rumah.


seusai menutup Toko aku langsung pergi ke Parkiran seperti biasa, dan sesegera mungkin melajukan Motorku karena ingin segera sampai di Rumah. tapi setelah sampai di pekarangan Rumah, aku baru ingat kalau Endang Asih hari ini Ulang Tahun.


terpaksa aku pun membalikkan stang Motorku, yang di tuju akan pergi ke Toko Bunga dan Aksesoris. untuk membelikan Kado buat Endang Asih.


sedangkan di kediaman Endang Asih, yang sedang mengoprek laptopnya. karena sedang mengerjakan tugas Rancangan buat Bisnisnya, ternyata Endang Asih adalah Wanita berkarir. dan banyak ke lebihan pada dirinya, yang di sebut Wanita multi talent.


setelah usai mengerjakan Tugas Tiba tiba Endang Asih kaget saat ada yang menutup Matanya dari belakang. Endang Asih berusaha ingin membuka telapak tangan siapa yang menutupi kedua bola Matanya itu,


setelah berhasil dia buka. ternyata " Tara... survrice Sayang, Happy birthday ya..." seruku setelah Endang Asih membuka telapak tanganku yang barusan menutup dua Bola Matanya.


"Yaa Ampun Aa... ngagetin aja tahu nggak! kirain siapa." seru Endang Asih yang sedikit kaget.


"hehehe... aku minta maaf, tapi maksudku aku ingin ngasih Kado buat Yang tersayangnya aku hehehe.." jawabku tenang,


"kamu tuh ya pinter banget buat aku cepet tersenyum di kala aku lagi kesel." kata Endang Asih sambil mencubit batang Hidungku.


"hehehe.. oh jelaslaah, sabab apa yang nggak bisa buat kamu sih." ucapku sambil mengelus puncak Kepalanya.


aku pun hanya memanggut dan tersenyum sambil menatapnya. setelah itu aku langsung mendudukan badanku, sementara Endang Asih berlalu menuju Dapur.


aku lagi Ngutak ngatik Ponselku Tiba tiba Bayangan Putih itu melintas lagi di belakangku, aku segera membalikkan badanku untuk memastikannya. tapi belum terlihat siapakah Sosok itu sebenarnya?


lalu Endang Asih datang dan membawa Kopi hangat ke hadapanku. aku yang masih termenung Tiba tiba di tepuk olah tangan Endang Asih.


"kamu mikirin apa sih A, ko melamun?" tanya Endang Asih sambil menatapku penasaran.


"oh... ng, nggak cuma udah nggak tahan aja." jawabku kemana saja.


"nggak kuat kenapa A." tanya Endang Asih,

__ADS_1


" itu pengen Kopi Sayang," jawabku membuang Rasa takut. walaupun bulu Romaku mulai pada meremang.


"oh kamu ini, bikin aku kaget aja.. kirain nggak kuat pengen apa." kata Endang Asih, yang meresa lega. setelah aku menjawabnya.


walaupun aku hanya omong kosong, tapi mesti gimana lagi. karena aku takut Endang Asih ke takutan, apa lagi keadaan Rumahnya yang gede kaya gini.


lalu Endang Asih kembali Duduk di atas sofanya, sambil menyimpan secangkir kopi yang dia seduh barusan untukku.


"oh iya A, belakangan ini di sekitar kita katanya hampir banyak Korban mati yang tak wajar. ya seperti kemaren Bu Rossita, terus mbak Marni Istrinya teman Ayahku." ucap Endang Asih,


"haah.. iya sih berita itu sudah tersebar luas kemana mana, hingga ke Kampung kedua Orangtuaku juga nyampe. tapi nanti aku akan cari tahu, apa penyebab berita tentang ini sebenarnya." kataku, Sambil mengangkat secangkir kopi di depan Sofa yang sedang aku Duduki. karena kebetulan Meja dan Sofanya berdekatan,


seusai aku pulang dari Rumah Endang Asih. lalu aku segera menemui Erick. karena Beberapa hari ini Erick belum ada ngontack atau Ngechat padaku, waktu itu Jam menunjukkan baru pukul 17:30. sesampainya di Rumah Erick.


aku pun segera menyetandarkan Motorku. lalu aku cabut Kunci Kontaknya, dan berjalan menuju pintu masuk Rumah Erick.


"tok tok... tok tok..!"


suara ketukan pintu dari luar Rumahnya Erick.


"kreet!"


suara Pintu ada yang narik dari dalam, dan ternyata Pak Burhan yang membuka Pintunya.


"permisi Om, Ericknya ada?" tanyaku sehabis berucap salam.


"oh kebetulan ada Nak Zaki, mari masuk dulu." jawab Pak Burhan sambil menawariku untuk masuk ke dalam Rumahnya.


setelah aku berjalan mengikuti langkah Pak Burhan menuju Ruang Tamu, di situ terlihat Erick sedang melamun di Kursi jadul sambil di temani segelas Kopi.


"tuh lihat Nak Zaki, begitulah ke seharian Erick sekarang. semenjak di tinggal Ibunya Nak." jelas Pak Burhan padaku.

__ADS_1


"Astaghfirulloh... kasihan ya Om, mengapa nggak di Obati sama Ustadz gitu Om. oh maaf saya berani ikut campur," jawabku terasa sungkan.


"haah.. iya Nak Zaki, Om juga jadi ikut sedih melihat keadaannya sekarang. ya, tadinya Om juga punya rencana ke sana tapi.." kata Burhan sambil menarik Nafas Panjang, dan Obrolannya mendadak terhenti.


__ADS_2