Hantu Pemburu Janin.

Hantu Pemburu Janin.
Episode 09.


__ADS_3

Pak Rudi menarik tangan Endang Asih, Sambil berlari kecil meninggalkanku. aku sangat amat kasihan ketika memandang wajah Endang Asih yang mulai sembab karena ke sedihannya.


"ya Tuhan, mengapa takdir ini begitu kejam padaku. Orang yang selama ini aku Sayangi. akan beralih pada tangan Orang lain." gerutuku, sambil mengepalkan sebelah tanganku,


aku pun pergi dengan perasaan sangat hampa, tak ada angin ataupun Hujan. Tiba tiba ada geledek menyambar Fikiran dan juga hatiku ini, hingga menembus Jantungku yang berdesir merasakan Angin Cinta tadinya. kini bagaikan menjadi longsor yang menimbun Harapan Cintaku.


aku segera menaiki Motorku... hingga Hujan deras Tiba tiba turun dan membasahi sekujur Badanku ini. andaikan ada Dewa yang turun dari Kahyangan untuk mendengarkan keluhku akan ku ungkapkan langsung padanya,


Hujan deras pun tak Henti hentinya mengguyur kepala dan juga tubuhku ini, aku yang sedang fokus mengendarai Motorku. jadi tercengang kaget saat melihat Warga yang Rame rame menuju salah satu Rumah Tetangganya. Rumahnya Pak Winarto.


Pak Winarto adalah Seorang Supir Angkot antar Kota. dan keadaan yang sederhana itu, Pak Winarto baru akan di Karuniai Anak. Bu Lilis Istrinya Pak Winarto sedang menggelinjang ke Sakitan, Mak Mirah seorang Dukun Beranak di Kampung itu sedang sibuk mengelus elus Perutnya Bu Lilis Istrinya Pak Winarto.


Bu Mirah segera menyuruh Adik Perempuannya Bu Lilis untuk menyiapkan perlengkapan lainnya. seperti Air Panas, juga lap handuk.. Adik Perempuannya Bu Lilis yang Bernama Astuti segera pergi untuk menyiapkan apa yang akan di perlukan oleh Mak Mirah.


"aduuh Perutku sakit banget, Mak..." seru Bu Lilis menggeliat sambil merintih ke Sakitan.


"tahan Nyimas.. mungkin ini baru Rangsan Pertama," jawab Mak Mirah.


Mak Mirah mengoles Perut Bu Lilis dengan Ramuan khusus yang sudah di buatnya, sebelum memasuki kamarnya Bu Lilis tadi. Perut Bu Lilis sudah di balur dengan Ramuan buatan Mak Mirah itu.


sedangkan aku yang sedang memperhatikan dari luar Rumahnya Bu Lilis ini, kaget karena sekelebat Sosok Bergaun merah itu. sudah memasuki Rumah Bu Lilis.


"Astaghfirulloh... dia lagi, ini gawat aku harus segera masuk." ucap Bathinku.. sambil berjalan berdesakan,


tapi anehnya Tiba tiba Kakek kakek tempo lalu pernah ku temui ternyata sudah berdiri di hadapanku.

__ADS_1


"jangan Gegabah Anak Muda.. Makhluk itu bukan tandinganmu, sebab Makhluk itu memiliki Ilmu yang sangat tinggi. nanti juga kamu bisa menghadapinya setelah menemui Cucuku," kata Kakek itu. yang otomatis membuatku tercengang kaget.


"ta.. tapi, sejak kapan Kakek berada di sini. bukannya Kakek Rumahnya jauh di kampung sebelah?" tanyaku pada Kakek Tua itu.


"hehehe... itu bukan urusanmu Anak Muda, karena aku bisa lari secepat Mesin yang ada di dalam kendaraanmu itu Hehe.." seru si Kakek Tua itu, dengan tawa Renyahnya.


"terus kata Kakek, nanti saat saya menemui Cucu Kakek itu. saya bisa menghadapi Sosok itu, terus yang jadi pertanyaan siapa Cucu Kakek, yang barusan Kakek maksud?" tanyaku lagi. yang sangat penasaran,


"hehehe.. nanti juga kamu bakal tahu, siapa Cucuku itu. yang jelas sekarang kamu pulang saja. karena hari sebentar lagi gelap Nak Hehe.." jawab si Kakek yang masih dengan tawanya itu.


lalu aku pun bingung sambil garuk kepala yang tak gatal, karena ucapan si Kakek Tua itu membuatku Penasaran. tapi setelah aku mau berucap lagi, Tiba tiba si Kakek menghilang entah kemana. itulah yang membuatku kaget dan segera pergi meninggalkan kediaman Bu Lilis.


seusai aku sudah menduduki Motorku, jelas terdengar suara jeritan dari dalam Rumah Bu Lilis itu.


Pak Winarto yang baru saja masuk juga merasa kaget bercampur dengan khawatir. karena baru pertama kalinya melihat peroman Istrinya yang menakutkan seperti itu,


"heemm.. minggir kalian!! jangan halangi aku, untuk mengambil janin Wanita ini!" seru Sosok yang merasuki tubuh Bu Lilis itu.


"Bu... Istighfar Bu, jangan ngaco gitu." ucap Pak Winarto yang sudah Panik.


"ini gawat Pak, Bu Lilis sedang di Rasuki Makhluk tak kasat mata rupanya Pak." sambung dari lisan Mak Mirah.


"Astaghfirulloh... terus harus bagaimana ini," tanya Pak Winarto yang mulai kebingungan. melihat keadaan Istrinya yang sudah nampak menyeramkan itu.


Mak Mirah berusaha Berkumat Kamit, meminta perlindungan pada yang Maha Kuasa. tapi Mak Mirah di kagetkan oleh sapuan tangan Bu Lilis pada bagian pundaknya. hingga Mak Mirah tersungkur ke bawah Ranjang,

__ADS_1


"Astaghfirulloh.. Mak nggak Apa apa Mak!" seru Adik Perempuannya Bu Lilis membantu membangunkan Mak Mirah,


"Alhamdulillaah, Mak nggak Apa apa Neng, cuma Mak khawatir sama Kakakmu Neng. karena Makhluk itu akan membinasakan keduanya Neng!" seru Mak Mirah sambil memegang pundaknya itu.


"syukurlah kalau Mak nggak Apa apa, tapi memangnya makhluk apa sih Mak? yang merasaku Teh Lilis itu?" tanya Neng Astuti saat sesudah mendirikan tubuh Mak Mirah.


"entahlah Neng, kayaknya Makhluk yang sudah merasuki tubuh Kakakmu itu. sama seperti omongan Warga lainnya, yaitu 'Setan memburu Janin' Neng." ucapan Mak Mirah membuat Neng Astuti kaget tentunya.


apa lagi Pak Winarto pun sama ikut mendengarnya. saat sudah membekap Istrinya yang masih sedang mengamuk itu. setelah Bu Lilis di ikat kebelakang kedua Tangannya oleh Pak Winarto, Tiba tiba berteriak ke sakitan lagi.


"aduuh pak.. Perutku sakit Banget Pak, dan mengapa kedua tanganku pake di ikat seperti ini segala Pak. apa yang kalian lakukan padaku!" seru Bu Lilis seusai sadar dari ke Surupannya,


"Alhamdulillaah... coba Pak buka Ikatannya, Bu Lilis sepertinya sudah Sadar Pak." kata Mak Mirah, menyuruh Pak Winarto Suami dari Bu Lilis untuk membuka tali Ikatannya itu.


"I..iya ba,baik Mak.." jawab Pak Winarto canggung. dan langsung segera melangkah mendekati Bu Lilis yang sedang Duduk di Sisi Ranjang. tentunya dengan kedua tangannya masih terikat,


Bu Lilis masih merintih ke Sakitan, lalu Pak Winarto melepas Tali yang mengikat kedua tangannya itu. lalu Bu Lilis terlentang tidur, Sambil berteriak dan kedua tangannya memegangi Perutnya.


"awwwh... Pak Sakit Pak," rintih Bu Lilis pada Suaminya.


Pak Winarto segera memberi Isyarat pada Mak Mirah, agar segera mendekat padanya. Mak Mirah juga paham Isyarat dari Pak Winarto itu.


lalu mendekati keduanya, dan Mak Mirah pun menyuruh Astuti mengambil Ramuan bekas tadi. lalu Mak Mirah menyimbakkan pakaian yang menutupi Perut Bu Lilis itu. terlihatlah perut Bu Lilis yang seperti mengencang dan seperti Balon akan Pecah,


Astuti datang dan memberikan Ramuan itu pada Mak Mirah.. lalu Mak Mirah mulai mengoleskan pada Perut Bu Lilis.

__ADS_1


__ADS_2