HATI MALAIKAT

HATI MALAIKAT
Mimpi


__ADS_3

Disebuah kos-kosan kecil namun terlihat begitu rapi sedang berbaring ditempat tidur seorang gadis manis yang mempunyai gigi gingsul di senyumannya yaa !! dia adalah Lily, ia terlihat sangat bosan dengan hari -harinya.


"Ngapain ya enaknya ngedrakor udah, streaming idol udah, mau mandi males tauk ah ngapa gw bingung sendiri" gumaannya.


Lily adalah mahasiswa kesenian disalah satu univ ternama indonesia, dia itu suka ceplas-ceplos namun selalu sopan kepada orang lain yang dianggapnya lebih tua.


Goodbay....Goodbay......Godbay....... suara rington panggilan miliknya berdering ternyata Dewi sahabatnya menelfon dirinya.


"Hallo, ada apa nelfon gw ? hah apaaaa !!!!!! seketika dia kaget dan segera beranjak dari tempat tidur itu dan langsung berlari secepat mungkin.


Dia naik taksi dan akhirnya sampai ke kebun. Lily langsung kaget melihat semua bunga lilly berwarna ungu yang dia tanam mati. Lily sangat suka dengan bunga lilly karena selain mempunyai nama yang sama neneknya dulu sangat menyukai bunga tersebut. Dewi yang sudah berada disana langsung memeluknya dan menenangkannya. Dewi tahu Lily sedih meski hanya bunga yang mati. Karena Dewi mengetahui segalanya tentang masalalu Lily. Orangtua Lily membuang Lily ketika ia masih bayi. Dan nenek yang dianggap Lily neneknya itu adalah orang yang menemukan Lily. Lily mengetahui semuanya karena neneknya yang mengatakannya perlahaan ketika dia masih kecil. Lily bertemu dengan ibu kandungnya ketika ia masih smp meski begitu dia tidak terlalu dekat dengan ibunya karena Lily masih kecewa dengan ibunya karena pernah membuangnya. Karena itulah Lily lebih memilih untuk ngekos meskipun ibu kandungnya adalah seorang wanita karir yang kaya raya. Namun sampai sekarang Lily tidak tahu siapa ayahnya karena ibunya pun tidakntahu siapa seorang pria yang pernah menghamilinya dulu.


back to kebun lily -


Dewi masih mencoba untuk menenangkan Lily dengan memeluknya. Dewi adalah teman sejak kecil Lily yang selalu ada untuk Lily.


"Udah Ly jangan nangis lagi, enggapapa besok kita tanem lagi bunganya" Mencoca menenangkan Lily


"Tapi wi bunga ini itu sangat langka, dan kalaupun kita beli itu sangat mahal" berbicara dengan isakan tangisnya


"Yaelaaa nyokap lo kan sangat kaya gausah bingung kali hahaha" mencoba menggoda Lily


"Apaan sih udah gw bilang gw enggakmau tergantung sama dia" Lily mulai marah


"Udah kita pulang aja yuk udah hampir waktunya makan siang ini" Ajak Dewi


"Iya wi" masih garela mau pergi


Akhirnya mereka berdua pergi dari kebun bunga lily milik Lily itu. Dalam perjalanan naik taksi Lily masih sedih dan murung karena berpikir siapa yang tega ngerusak kebunnya padahal itu satu-satunya miliknya yang bisa membuatnya terkenang dengan mendiang neneknya yang sudah membesarkannya dari kecil hingga ia masuk smp dan bahkan membiyainya sampai akhirnya neneknya meninggal dan Lily akhirnya bertemu ibunya.


"Ly........Ly.........Ly"


"Woy" bentak Dewi menepuk pundak Lily


"Eh iya kenapa" refleks seketika


"Udah sampai tempat makan kesukaan lu ini elaaahhh ngalamun aja lu" ucap dewi


"Maaf wi , eh...oh iya taksi lu yang bayar ya entar gw ganti deh" pintanya


"Elahh lu bilangnya juga gitu tapi gapernah ganti" keluhnya


"hehehehe kan lu tau sendiri" malu-malu


"iya paham gw, emang yaa kekayaan itu gamesti nurun. Nyokap lu kaya eh elunya kismin ampun dehh"


"paan dah, udah yuk"


Mereka berjalan ke tempat makan kesukaan lily, yakni bakso mercon kesukaannya. Meski Lily masih terlihat sedih namun ia menutupinya agar Dewi tidak khawatir dengannya.



Setelah kenyang mereka pun pulang. Karena Dewi takut Lily kenapa² jadi dia memutuskan untuk mengantar Lily pulang ke kosnya. Akhirnya mereka pun sampai di depan kos Lily.


"Lu beneran gapapa Ly" tanya Dewi panik


"Iya gw gapapa kok" jawab Lily sambil senyum paksa

__ADS_1


"Gw temenin ya" tawaran Dewi


"Gausah gw beneran gapapa kok, gw capek mau istirahat gw masuk dulu ya" jawab Lily


"yaudah lu istirahat aja gw langsung pulang" pasrah Dewi


lalu mereka pun saling melambaikan tangan dan Lily langsung masuk ke kosnya. Sesampai di kamar kosnya Lily langsung nangis karena berpikir siapa yang tega merusak tanaman kesayangannya itu. Bunga lilly itu mengingatkan Lily kepada kelmbutan neneknya waktu Lily masih kecil. Ketika kecil dulu Lily sering kali diajarin menyiram dan merawat bunga lilly sama neneknya. Dan betapa bahagianya Lily ketika melakukannya. Meski bukan cucu kandungnya mendiang nenek Lily dulu sangat menyayanginya seperti cucunya sendiri. Lily pun menangis terisak isak dan menyalahkan diri sendiri.


"kenapa semua ninggalin gw kenapa.....?" isak tangisnya


Lily pun teringat kejadian dimasa smp.nya dulu mulai dari neneknya yang meninggal karena berusaha menyelamatkan Lily dari tabrakan, orang tuanya yang tega membuangnya meskipun ibunya sekarang sudah kembali namun Lily masih tidak rela dengan perilaku orang tuanya dulu, laku sekarang bunga lilly yang sudah dirawatnya sejak ia masih kecil tiba² rusak. Lily berpikir kenapa semua orang dan semua yang ada di sekelilingnya tidak menginginkannya. Lalu Lily pun mengambil sebuah silet dan mengarahkan ke pergelangan tanggannya. Dan betapa mengejutkannya ternyata bukan untuk pertama kalinya Lily melukai tangannya sendiri namun sudah berulang kali.


(Semenjak neneknya meninggal Lily mempunyai depresi yang sangat kuat. Ia selalu ingin mencoba membunuh diri sendiri karena menganggap dirinya sebagai pembawa sial bagi semuanya.Bahkan Lily pernah berpindah pindah tempat sekolah waktu ia di SMA karena banyak teman sekolahnya yang mengetahui keadaan Lily dan menganggap Lily itu gila. Hanya Dewi yang mengetahui penyakit Lily ini namun Lily meminta kepada Dewi agar merahasiakannya karena Lily tidak mau teman-temannya menganggapnya gila)


Dengan air mata yang menetes deras di pipinya Lily melukai tangannya dan kembali menyalahkan diri sendiri. Darah mengalir pelan dari pergelangan tangannya. darah yang bercampur airmata, suara tangisan seseorang yang terluka baik di jiwa maupun raga memenuhi ruangan itu.Mengapa Lily melakukan hal semacam itu ? karena baginya rasa sakit dibtangannya tidak sebanding dengan rasa sakit mendiang neneknya yang selalu dengan sabar dan senyum karena sekaku diejek bodoh oleh orang kain karena mau membesarkan anak yang bodoh seperti Lily. Dalam pikirannya Lily ingin mati saja namun ia berfikir lagi karena neneknya selalu menyemangatinya dulu. Nenek Lily selalu meminta agar Lily belajar dengan benar dan mnjadi orang sukses.Agar kelak orangtuanya akan menyesal karena telah membuang anak sehebat Lily.Perlahan Lily pun mulai tertidur dalam tangisan itu. airmata yang tidak berhenti menetes meski matanya tertutup.Darah yang mengalir setetes demi setetes memenuhi lantai kamar kosnya,foto ia dengan neneknya yang erat di peluknya, kesedihan yang memehuni ruangan hening itu terlihat jelass dalam cahaya matahari yang mulai menghilang berganti cahaya bulan.


Perlahan Lily pun mulai tertidur dalam tangisan itu. airmata yang tidak berhenti menetes meski matanya tertutup.Darah yang mengalir setetes demi setetes memenuhi lantai kamar kosnya,foto ia dengan neneknya yang erat di peluknya, kesedihan yang memehuni ruangan hening itu terlihat jelass dalam cahaya matahari yang mulai menghilang berganti cahaya bulan. Lily terbangun dan dia pun langsung keluar membeli sarapan karena dia merasa lapar dan dia segera berberes dan membersihkan lukanya. namun ketika dia pergi membeli makanan mendadak Lily dibenci semua orang, di tertawakan semua orang, di hina semua orang dan bahkan tidak ada yang menginginkan kehidupan bahkan ada yang tega melemparnya dengan batu. betapa sedihnya Lily karena mereka semua jahat kepadanya ketika dia tidak melakukan kesalahan apapun.


"kringggggggggggggggggggggggg" suara jam waker membangunkan Lily dari mimpi buruknya.


"hah....hah....hah.....hah.....hah" nafas Lily terengah-engah


Lily akhirnya terbangun dengan bekas air mata di pipinya, mata yang bengkak, dan darah kering yang melingkar di pergelangan tangan dan di lantai. Lily akhirnya bangun karena Lily harus pergi kuliah karena mendapat jam kuliah pagi. Lily mulai bersiap-siap mulai dari membersihkan kamarnya, mandi dan mengobati lukanya. Lily sudah bersiap dan memakan roti sebagai sarapannya. Lily berangkat kuliah sendirian. Lily memutuskan untuk berjalan kaki. dengan biola di bawanya karena Lily adalah mahasiswi fakultas seni. Lily fokus berjalan dan melihat jalanan yang penuh dengan orang-orang berlalu lalang. menikmati langkah demi langkah. Lily tersenyum ketika melihat seorang anak-anak yang sedang bermain kejar-kejaran di taman pinggir jalan kota. lalu tiba-tiba ada anak yang menghampirinya.


" Kakak rambutnya panjang sekali " ucapan polos anak kecil itu


Lily pun jongkok dan mengelus rambut anak kecil itu.


" rambut kamu juga indah sekali "


anak kecil itu oun dengan polosnya kembali bertanya.


Lily pun bingung harus menjawab apa. sampai akhirnya dia bilang " Rambut kakak panjang karena kakak suka, bukankah menurutmu kakak terlihat cantik dengan rambut panjang "


" begitukah ? mamiku tidak suka aku rambutnya panjang karena kata mami aku terlihat seperti singa ketika rambutku panjang " dengan wajah yang menggemaskan anak kecil itu mengatakan semua pada Lily.


" kakak harus berangkat kuliah, kamu lanjut main dulu ya sama teman-teman kamu. oh iya nama kakak Lily nama kamu siapa ? " tanya Lily


" nama aku Nana" jawab anak kecil itu


" oke Nana kakak mau lanjut berangkat kuliah dulu, nanti kita pasti akan bertemu lagi. yaudah ya babay"


dijawab dengan senyum ke polosan dari anak kevil itu Lily pun berangkat menuju kampusnya.


Sesampainya di depan kampus Dewi sudah menunggu Lily. Dewi sangat senang ketika melihat Lily sudah ada di depannya.


" Ly....!!!!! " teriak Dewi


"eh......" sedikit kaget namun terbiasa


" gw kira lu nggak berangkat sekarang " berlari dan memeluk Dewi dengan erat.


" Nggak lah gw gapapa kali "


dewi pun melepaskan pelukannya dan memegang tangannya. Dewi sangat khawatir karena melihat luka Lily di pergelangan tangannya.


" Ly......tangan lu " Dewi mulai khawatir

__ADS_1


" Eh...oh... " langsung menarik dan menutupinya dengan tangan.


" enggak papa kok kemaren gw jatoh pas mau ambil buku di perpus " jawab Lily spontan


Dewi oun bingung dan engga percaya karena kemaren kan mereka makan bareng dan pulang sore itupun enggak mampir ke perpus sama sekali. Namun Dewi mengiyakan perkataan Lily karena takut menyinggung Liky jika dirinya bertanya. dan sebenarnya Dewi juga tahu kalau Lily pasti mencoba untuk melukai dirinya sendiri lagi.


" Udah yuk masuk bentar lagi kelas gw bakal di mulai " sahut Lily


" Its ok...Lets go " jawab Dewi


mereka oun masuk ke kampus dan berjalan ke kelas masing-masing karena Lily berada di kelas seni sedangkan Dewi berada di kelas Ekonomi. Ketika Dewi berjalan ke arah kelasnya Dewi masih khawatir dengan keadaan Lily yang masih menyalahkan diri sendiri sejak dulu atas kejadian yang bahkan dirinya tidak tahu semua itu akan terjadi. Dewi sangat cemas dan khawatir namun sebentar lagi kelas akan dimulai.


sementara itu di kelas Lily


Lily tidak fokus ketika dosen menjelaskan di depannya. Lily melamun dan berfikir kenapa bisa bunga Lily yang sejak dulu di rawatnya sepenuh hati tiba² rusak dan bahkan semuanya tanpa tersisa satupu. Lily juga melamun tentang kebahagiaan Lily dan neneknya dulu ketika bersama - sama merawat bunga Lily. Lily akhirnya tersadar dari lamunannya dan memutuskan untuk fokusssa.


Lily pun mengetuk - ngetuk kepalanya dan berbicara dalam hatinya.


" fokus Lily fokusss., kamu harus membahagiakan nenek "


Lily pun mulai mendengarkan dosen berbicara di depannya meskipun tidak terlalu fokus namun setidaknya Lily masih dapat mendengarkan sedikit penjelasan sang dosen.



- Sementara itu disisi lain -



Seorang pria dengan gagahnya berjalan kaki dengan biola dibawanya, berjalan tegak layaknya seorang lelaki sejati. rambut rapi dengan kemeja dan celana jeans panjang dengan sepatu sneakers yang terlihat matching dengan pakaiannya. Ia sedang mencari kelasnya, namun karena malas bertanya pada seseorang yang berada di sekitarnya pria itu akhirnya berjalan mengikuti anak tangga yang menuju ke atap kampus yangbterlihat sepi tanpa seorang karena mungkin jam pelajaran sedang banyak yang di mulai. dia duduk dengan santainya dan menikmati setiap hembusan angin dan melihat betapa indahnya pemandangan di kampus tersebut. meski tidak seindah di kampusnya dulu ia merasa sangat bahagia karena bisa kembali ke negaranya yang sangat dia rindukan. karena semenjak SMA dia besekolah di luar negeri dan melanjutkan kuliah di luar negeri. namun karena suatu alasan dia harus kembali ke indonesia dan memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya di indonesia dengan pindah ke kampus tersebut. Dia masih menikmati setiap detik demi detik hembusan angin yang tertiup kencang di atap sana. karena dia bosan dia akhirnya memutuskan untuk memainkan biola yang di bawanya dari tadi. dengan cekatan ia memainkan biola dan menulis setiap gesekan - demi gesekan biola yang di mainkannya. yaa benar dia sedang mencoba menulis lagu. Baginya musik adalah segalanya ia sangat menikmati setiap kali bermain musik. ia sangat menyukai musik, namun ia lebih menyukai ketika ia bisa membuat irama yang indah yang dapat ia perdengarkan dengan orang lain. meski ia bersifat dingin namun sebenarnya dia sangat lembut hanya saja dia tidak tahu cara untuk mengungkapkan perasaannya dengan benar. Dia duduk dengan biola di pundaknya pensil yang menggenggam erat di tangannya sebuah buku yang terlihat banyak coretan coretan dia pun memulainya permainan musiknya.



LM.


Bangun.......


kamu tidak boleh berkabung dalam mimpimu


mimpi buruk....?


bukankah itu hanya sebuah mimpi


mimpi indah....?


itu tak akan terwujud ketika kamu tidak ada keinginan untuk mewujudkannya


hati lebih jujur di bandingkan ucapan


hatimu diam namun matamu mengatakan segalanya.


Bagunlah senja menunggumu untuk menikmatinya




__ADS_1



__ADS_2