
Setelah mereka banyak bercerita tentang bersama tidak terasa sore pun sudah tiba.
" paman sepertinya kami harus pulang segera, terimakasih untuk tehnya " ( kata Danish )
" iya kamu benar " ( sanbung Seli )
" iya tidak apa, tunggu sebentar " ( Kata paman Sam bangkit dari duduknya )
" aku sangat senang melihat kalian berdua, ini aku memberikan ini sebagai hadiah karena sudah menemaniku minum teh " ( kata Paman Sam )
" ah tidak apa paman tidak perlu, kami sangat senang bisa minum teh dengan paman " ( kata Danish )
" terimalah nak " ( memberikan sebuah bunga anggrek berwarna putih kepada Seli lengkap dengan potnya yang berwarna senada )
Seli hanya diam memandang Danish untuk meminta persetujuannya yang kemudian Danish mengangguk.
" trimakasih paman, saya pasti akan merawatnya dengan baik " ( kata Seli menerima bunganya )
" iya, lain kali datanglah lagi kesini untuk minum teh bersama " ( lanjut paman Sam sambil tersenyum hangat )
" tentu paman, sekali lagi terima kasih kami permisi "
Danish dan Seli pun meletakkan pot bunganya di bagian belakang mobil dan bergegas menuju tempat lainnya karena waktu sudah hampir malam.
" Paman Sam sangat baik mungkin lain kali kamu harus sering - sering kesana " ( Seli berbicara di dalam mobil )
" tentu saja. Bukan aku tapi kita " ( kata Danish )
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Seli hanya tersenyum dan diam tidak menjawab perkataan Danish lagi.
" sudah malam , mau ke tempat biasa ? " ( ajak Danish )
" boleh " ( Seli menjawab )
" drrrrrtttttt drrrtttt drttttt drrrttt drrrrttt " ( bunyi ponsel )
Seli lalu melihat siapa yang menelfonnya dan langsung mematikan nya.
" kenapa nggak di angkat sayang ? " ( tanya Danish )
" enggak kok ngga penting " ( kata Seli )
Drrrrttt dddrrrttt drrtttt ddrrrtttt ( ponsel kembali bergetar )
" angkat saja tidak apan" ( kata Danish )
" ah tidak perlu ini dari teman satu asrama aku, pling dia khawatir " ( langsung mematikan ponselnya dan menaruhnya di saku jaketnya )
Entah apa yang ada di pikiran Seli akhir - akhir ini dia banyak menunjukkan perilaku aneh. Dia bahkan tidak biasanya mematikan telfon / tidak menjawab telfon ketika bersama dengan Danish.
Namun tidaknada kecurigaan dari Danish sama sekali karena Danish percaya kalau Seki tidak akan melakukan hal bodoh kepadanya.
Mereka sampai di tempat tujuan yaitu gedung tinggi yang ada di salah satu kompleks mereka.
" emang ngga di marahi kita di sini ? " ( Kata Seli )
" tidak aku sudah minta ijin pada mereka ketika aku membeli ini " ( Danish memberikan kopi hangat kepada Seli )
" kalau di tutup gimana ? Kan udah malen juga " ( tanya Seli )
" tidak akan, kalaupun iya tidak apa sepertinya kita akan menginap di sini malam ini " ( kata Danish menggoda Seli )
" ih apaan sih nggak mau kan dingin , nggak ada bantal juga " ( Seli dengan wajah cemberutnya )
" kan bisa bantalan bahu aku, terus apa kurang hangat berada di pelukan ku " ( sambil menunjukkan dadanya )
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
__ADS_1
" iya kurang soalnya kamu kurus banget " ( kata Seli bercanda )
" hah ? " ( Danish kaget dan senyum )
" makannya kamu harus makan yang banyak nggak boleh kurus gini " ( kata Seli )
" aku jadi kepikiran, nanti kalau aku udah nggak ada kamu bakal kayak paman Sam nggak ? " ( Seli bertanya yang aneh aneh )
" apaan sih kamu ngomongnya " ( Danish kesal dengannya )
" kan aku cuma nanya misalnya kan, kamu tinggal jawab aja " ( Seli penasaran )
" ya selain kamu aku nggak bakal jatuh cinta lagi sama siapapun kan juga aku udah bilang kita itu bakal bareng seumur hidup " ( Danish berkata dengan serius )
" iya iya aku tau. Tapi aku boleh minta sesuatu nggak dari kamu ? " ( Kata Seli tidak berani menatap Danish )
" nau minta apa bulan ? Aku ambilin nih ya hahahaha " ( Danish menjawab dengan becandanya )
" apaan sih serius tau. Kalau misalnya nanti aku udah nggak cinta kamu lagi terus aku ninggalin kamu, kamu nggak boleh sedih karena aku " ( Kata Seli dengan pandangan hanya ke depan )
" kamu nggak usah ngomong aneh aneh deh aku marah ni " ( kata Danish dengan nada yang sedikit tinggi )
" kalo kamu nggak dengerin aku juga aku bakal marah " ( kata Seli membentak Danish )
" iya okay aku diem tapi kamu jangan bicara ngawur gitu " ( Danish bicara pelan )
" nanti intinya kalo aku pergi, kamu nggak boleh sedih cuma karna aku. Kamu harua jatuh cinta lagi kamu ngerti kan ? Pokonya aku nggak mau tau kamu harus cari wanita lagi " ( Seli berbicara menahan air matanya yang hendak keluar )
" tu kan kamu bicara ngawur dari tadi " ( Danish semakin kesal dan bingung )
" aku bicara serius, kamu tu tauk ah " ( Seli mencengkeram erat tangannya )
Lalu mereka pun saling berpelukan dan tidak berkata apapun.
" maafin aku " ( Seli menangis di pelukan Danish )
" maafin aku udah buat kamu kesel " ( lanjutnya )
Danish hanya diam dan memeluknya dengan erat.
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Malam yang gelap udara yang dingin di tambah banyak pikiran kacau, ucapan kasar, siraman air mata. Malam yang harusnya menjadi sebuah kisah romantis langsung berubah menjadi sebuah dramatis. Penuh dengan amarah namun tidak bisa marah. Penuh dengan air mata namun tidak mampu memperlihatkannya. Susah menebak setiap kata. Susah menyatukan puzzle yang terpencar seperti terjebak di labirin.
Kehangatan tubuh yang di selimuti jaket kulit murni , hah iyaa kulit manusia tentunya masih bernyawa juga. Sangat nyaman, sangat aman pulaa. Tolong biarkan seperti ini sebentar saja.
Malam berlalu dan Danish harus mengantarkan Seli pulang karena sudah jam asramanya untuk tidur.
Tengah malam di kamar rumah Danish,
" haishhhh kok gw ngerasa ada yang aneh dengan Seli " ( sambil rebahan di tempat tidurnya )
" dia juga sudah beberapa hari ini bersikap aneh dan selalu tanya dengannya seakan akan dia akan pergi meninggalkannya " ( pikiran Danish )
Beberapa hari berlalu, Danish kuliah seperti biasa begitu juga dngan Seli. Namun akhir - akhir ini Seli sulit untuk di hubungi. Bahkan ketika Danish pergi ke asramanya untuk menjemputnya pun temannya mengatakan jika Seli sedang sibuk dan tidak bisa di ganggu, namun Seli tidak pernah menemui Danish sekalipun. Kalaupun di telfon dia hanya mengatakan kalau dia sangat sibuk untuk mengerjakan tugas tugas semeeteran lah, tugas praktik lah, tugas ini lah tugas itu lah dan masih banyak alasan lainnya.
Sampai suatu hari Danish mengajaknya untuk bertemu dan jalan - jalan namun Seli langsung menolaknya dan bilang jika dia sedang mengerjakan tugas ke rumah temannya.
" haus dah , " ( Danish langsung memeriksa kulkas )
" siall , kapan habisnya dah ini minuman " ( melihat kulkas yang kosong Danish pun berencana untuknkeluar sekaligus mencari udara segar karena jenuh di rumahnya )
__ADS_1
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Danish memutuskan untuk jalan kaki saja ke mininarket karena sedang tidak mood untuk mengendarai mobil sendiri.
Dia ke minimarket dan membeli beberapa cemilan dan minuman untuknya.
" ini semua " ( kata kasir minimarket tersebut dan Danish hanya tersenyum dan mengangguk )
" semuanya $30 " (sambil memberikan plastik belanjaan Danish )
Lantas Danish langsung memberikan kartu nya kepada kasir tsb.
Danish berfikir sepertinya mau mampir ke kafe sebentar untuk minum kopi.
Dia duduk di meja bagian pojok tepat di samping jendela sehingga Danish bisa melihat pemandangan dari luar yang sangat banyak seseorang berjalan - jalan di sekitar sana.
Ketika dia sedang meminum kopinya dan duduk santai dia melihat Seli yang sedang berjalan dengan seorang pria dari penampilan mungkin lebih tua dari dirinya. Seli dan pria itu terlihat sedang berjalan bersama dan mengobrol tentang sesuatu. Satu hal yang membuat Danish kesal yaitu mereka berbicara sambil tertawa yang terlihat seperti sepasang kekasih.
Danish sangat kesal dan langsung lari untuk menghampirinya.
Dengan wajah penuh amarah dan nata yang terlihat sangat merah dia jalan dengan sangat cepat dan menarik bahu pria tsb.
" bruk ... " ( Danish memukulnya tepat di wajah pria tersebut )
" Danish !!!! " ( Seli kaget karena Danish datang tiba - tiba )
" bruk " ( Pria tersebut tidak terima dan memukul balik Danish. Danish terkena pukulan tepat di samping bibirnya dan mengeluarkan darah )
Danish dan pria tersebut akhirnya berkelahi di depan umum. Mereka terlihat tidak mau kalah satu sama lain.
" tolong .... Siapapun tolong ..... Stop Danish stop " ( Seli berteriak )
Danish pun tersungkur, dan mata Danish mulai memperlihatkan kalau dia sangat marah dan tidak terima akan hal itu. Danish langsung berdiri dan bersiap untuk memukul pria tersebut dengan keras.
" stop "
Pukulan Danish berhenti tepat di depan wajah Seli karena Seli melindungi pria tersebut
" kamu tuh kenapa si datang - datang langsung main pukul " ( kata seli )
" kenapa ? Jadi ini yang kamu bilang mau ngerjain tuga bareng temen ? " ( Kata Seli )
" jangan - jangan kamu nyuekin aku selama ini juga karena pria ini ? " ( Teriak Danish )
" hah nggak nyangka, kamu sebenernya masih cinta nggak sih sama aku ? " ( Danish masih tidak mau berhenti bicara )
Sementara pria itu masih tersungkur di belakang Seli.
" kamu juga sering bilang mau ninggalin aku, hahhahabaku ngerti sekarang. Aku cuma nggak nyangka ternyata kamu serendah itu " ( sambil ketawa getir )
" plak !!! " ( Seli langsung menmpar wajah Danish )
" iyaa ,,, yang kamu bilang semuanya bener. Aku ninggalin kamu demi dia. Kamu puasssss " ( Air mata Seli langsung menetes )
" ayo sebaiknya kita pergi dari sini " ( sambil membantu pria tersebut untuk berdiri dan segera pergi ).
" Seli .. Seli .. " ( Teriak Danish )
" oh ya satu lagi, karena kamu udah tau semuanya hubungan kita cukup sampai di sini trimakasih " ( Seli mengatakannya dengan jelas dan lngsung pergi dari sana )
" Seli ... Hei ... Seli " ( Danish masih berteriak dan tidak menyangka kalau ternyata Seli lebih memilih pria tersebut di bandingkan dengan dirinya yang selama ini selalu bersamanya )
Seli tidak menghiraukan dan mendengarkan teriakan Danish dan langsung pergi dari tempat itu dengan merangkul pria tsb karena tadi berantem sama Danish. bahkan Seli tidak menoleh ke belakang sama sekali.
Sementara Seli, dia pergi sambil meneteskan banyak airmata. entah apa yang membuatnya demikian entah dia menyesal karena perbuatannya atau dia lega karena akhirnya bisa lepas dari Sosok Danish. Yang pasti airmata tidak menandakan sesuatu yang baik ketika suasanan sedang tidak baik.
__ADS_1